Menyelami Semesta Al-Qur`an Bersama Cak Fuad

Kalau kedudukan Al-Qur`an diamsalkan seperti samudera maka ilmu yang dikandungnya mustahil surut. Bila manusia mencelupkan jemarinya di samudera itu, bekas celupan itu serupa hikmah yang berguna bagi mereka yang memaknainya. Kebermaknaan Al-Qur`an, dengan kata lain, akan terus berlangsung sampai titik final kehidupan–sepanjang orang berpikir dan memaknai sesuai pengalaman privat masing-masing, selama itu pula Al-Qur`an memancarkan ketercerahan ilmu dan spiritualitas.

Al-Qur`an diturunkan Tuhan kepada Rasulullah saw. melalui proses pewahyuan yang disampaikan Malaikat Jibril secara periodik. Keberlangsungan penurunan itu dimanifestasikan beragam cara sesuai prakondisi tertentu. Yang acap dipahami khalayak, ia diderivasikan manakala Rasulullah saw. mengalami situasi genting seperti perang. Namun, ayat-ayat Al-Qur`an juga diantarkan Jibril ketika Rasulullah saw. mengistirahatkan badannya. Saat tidur ia seolah-olah mengalami guncangan hebat karena baru saja mendapatkan pencerahan ilahiah.

Penyair terkenal Arab pernah berkata, “Dalam keantikan dan keklasikannya yang anggun [Al-Qur`an] tampil baru dan aktual.” Pernyataan puitis itu dinukil Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad) dalam karya magnus opum-nya bertajuk Sudahkan Kita Mengenal Al-Qur`an? Buku ini diterbitkan Misykat Indonesia dan telah dicetak tiga kali. Terakhir diterbitkan bulan Mei 2016. Hampir 300 halaman, Cak Fuad membentangkan historisitas Al-Qur`an berikut bubuhan pengalaman personalnya mengenai kitab kuci umat Islam itu.

Cak Fuad mengawali pergumulannya dengan Al-Qur`an secara apik: “Setiap kali kita baca Al-Qur`an, setiap kali pula kita peroleh pengalaman spiritual baru sesuai dengan kondisi dan kebutuhan jiwa kita. Setiap kali mengkajinya, setiap kali pula kita temukan makna baru sesuai dengan perkembangan pemikiran dan wawasan keilmuan kita. Al-Qur`an memang memberikan manfaat kepada setiap orang yang beriman sebatas kesiapan dirinya—hati dan pikirannya, spiritual dan intelektualnya” (hlm. 2).

Ada nuansa intens pada apa yang disampaikan Cak Fuad. Manusia dan Al-Qur`an ibarat dua posisi yang saling berdialektika. Manusia memaknai, Al-Qur`an membentangkan jawaban sesuai kadar pemaknaan itu. Di situ tersurat kedudukan Al-Qur`an sebagai pedoman hidup yang tak surut didedah kapan pun dan di mana pun. Mukzizat Al-Qur`an ini tentu tak terikat pada latar belakang sosial, ras, dan kelas ekonomi. Di depan kitab suci itu mereka diposisikan sama dan berhak mengambil sejumput hikmah darinya.

Buku ini terdiri atas tujuh bab yang disusun secara sistematis dan komprehensif mengenai hakikat, peristiwa historis, serta pengalaman aktual antara manusia dan Al-Qur`an. Pertama, Bab Satu menjelaskan definisi Al-Qur`an dalam perspektif etimologis dan terminologis berikut pengertian Ulumul-Qur`an serta bidang-bidang kajiannya. Kedua, Bab Dua mengintroduksikan sebab-musabab Al-Qur`an diturunkan dan hikmah di balik penurunannya yang berangsur-angsur itu. Baik dari ayat pertama maupun terakhir yang diturunkan, Cak Fuad juga menguraikan kategorisasi ayat antara Makkiyah dan Madaniyah.

Ketiga, Bab Tiga membicarakan sejarah penulisan, pengumpulan, dan pembukuan Al-Qur`an. Dengan menoropong masa Rasulullah saw., Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, dan Khalifah Usman bin Affan, Cak Fuad mengumpulkan fragmen-fragmen historis perkembangan ragam Al-Qur`an dengan pendekatan fenomenologis. Implikasi dari metode ini memungkinkan pembaca mampu menangkap peristiwa-peristiwa penting bagaimana Al-Qur`an dikumpulkan dan diliterasikan.

Keempat, Bab Empat khusus menganalisis Al-Qur’an dalam sudut pandang mukzizat. Diawali dari estetika linguistik (kabahasaan), dimensi ilmiah, hingga akurasi numerik. Pembahasan ini dieksplanasikan secara intertekstual: Cak Fuad sebagai peneliti sekaligus penulis membincang pelbagai ilmuan dunia yang tertarik mengambil referensi Al-Qur’an untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, ilmuan Belgia, Georges Lemaitre, melakukan perhitungan mengenai gerakan alam semesta yang cenderung meluas. Ia lalu menemukan prediksi tertulis itu sesuai dengan surat Adz-Dzariat: 47: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.

Kelima, Bab Lima menjelaskan perkembangan tafsir Al-Qur`an yang dilakukan ilmuan dalam kurun waktu seribu tahun terakhir. Cak Fuad mengawali penjelasannya dengan mendedah perbedaan tafsir dan takwil. Masing-masing narasi dikotomis itu diulas dalam kerangka perkembangan ilmu, klasifikasi, dan aliran-aliran kontemporer. Dengan mendalam Cak Fuad “membongkar” aliran-aliran tafsir mutakhir yang mencakup tafsir sains, sastra, dan hermeneutika.

Keenam, Bab Enam mendeskripsikan fenomena Al-Qur`an dalam pengertian diskursif. Kewacanaan ini meliputi makna-makna langsung (eksplisit) dan tak langsung (implisit); umum dan khusus; mutlak dan terikat; global dan lokal; pasti dan samar; serta penghapus dan terhapus. Cak Fuad memberi penekanan bahwa relasi antarayat di dalam Al-Qur`an–sebagian besar–saling berkelindan (berkaitan). Ia membatasi studi kasus pada ayat tertentu, yakni Al-Manthûq, Al-Âm, dan Al-Khâsh; Al-Muthalaq dan Al-Muqayyad; Al-Îjâz dan Al-Ithnâb; Al-Muhkam dan Al-Mutasyâbih; serta An-Nâsikh dan Al-Mansûkh.

Ada ayat yang dijelaskan maknanya oleh ayat lain, ada ayat yang bersifat umum dan diberikan pengkhususannya dalam ayat lain, ada ayat yang bersifat mutlak kemudian diberikan batasannya pada ayat yang lain, ada ayat mengenai satu ketentuan hukum yang diganti dengan ketentuan hukum baru pada ayat yang lain, begitu seterusnya” (hlm. 213).

Ketujuh, Bab Tujuh menjelaskan etika seorang muslim terhadap Al-Qur`an. Konsep etika di sini disematkan pada ajaran dan perilaku Rasulullah saw. Cak Fuad juga memaparkan etika berinteraksi dengan Al-Qur`an sesuai laku para sahabat yang pada masanya hidup berdampingan dengan Rasulullah saw. Dengan mencontoh mereka, menurut Cak Fuad, manusia bisa mendapatkan tuntunan, pelajaran, dan laku peribadatan secara totalitas.

“Al-Qur’an juga merupakan sarana peribadatan, sarana pendekatan diri kepada Allah, sarana bagi seorang hamba berasyik-masyuk dengan Sang Pencipta. Dalam interaksi ada saling mempengaruhi. Al-Qur’an bisa mengubah manusia, dari kufur menjadi iman, dari gelap menjadi terang, dari tertindas menjadi bebas, dari gelisah menjadi pasrah” (hlm. 241).

Masing-masing cakupan pembahasan yang Cak Fuad ungkap di buku ini dapat diartikan sebagai peta luas bagaimana seseorang mengenali Al-Qur`an. Pada titik ini Cak Fuad berhasil memberi bentangan sekaligus rambu-rambu kepada sidang pembaca untuk berkenalan secara intens dengan dan melalui kitab suci umat Islam itu. Bahasa ilmiah-populer yang dipilih Cak Fuad di dalam buku ini memudahkan pembaca dari latar belakang apa pun mampu memungut remah-remah ilmu yang disajikan Al-Qur`an.

Tak ada gading yang tak retak. Senada dengan ungkapan klasik itu, buku ini, tentu memiliki celah yang bisa disempurnakan pada penerbitan selanjutnya. Buku ini belum mengelaborasi konsep infografis yang sebetulnya bisa ditambahkan pada tiap akhir pembahasan. Pembaca akan menangkap skematik atau konsep visual bila infografis disisipkan. Inforgrafis, dengan kata lain, dapat menyederhanakan bangunan konseptual yang diuraikan Cak Fuad lebih rinci, menarik, dan estetis.

Penekanan infografis bukan berarti mengesampingkan atau meminorkan bahasa verbal yang menjadi ciri khas dalam sebuah buku. Kedudukan keduanya justru saling melengkapi. Antara kekuatan kata-kata dan ilustrasi visual, dengan demikian, akan menambah khazanah buku teks semakin ciamik bagi pembaca. Terlepas dari kekurangannya buku karya Cak Fuad ini melengkapi khazanah literatur mengenai Al-Qur`an yang pernah diterbitkan usai Rasulullah saw. “wafat”. Buku ini merupakan sumbangsih penting bagi peradaban Islam. Terutama di Indonesia.

Kalau kedudukan Al-Qur`an diamsalkan seperti samudera maka ilmu yang dikandungnya mustahil surut. Bila manusia mencelupkan jemarinya di samudera itu, bekas celupan itu serupa hikmah yang berguna bagi mereka yang memaknainya. Kebermaknaan Al-Qur`an, dengan kata lain, akan terus berlangsung sampai…