Menyelami Al-Fatihah Guna Menemukan Titik Kesadaran Sebagai Muhajirin Maiyah

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, 9 Februari 2018

Begitu cepat waktu berlalu, tidak terasa kita sudah dipertemukan kembali dengan Kenduri Cinta. Sepertinya baru kemarin kita bergembira bersama di Kenduri Cinta bersama KiaiKanjeng di bulan Januari. Ternyata kita sudah memasuki bulan Februari. Bisa jadi, khasanah-khasanah ilmu yang kita dapatkan di bulan Januari belum sepenuhnya kita memahaminya, ternyata bulan ini kita sudah menyongsong khasanah-khasanah keilmuan lainnya di Maiyah.

Menjelang senja, langit Jakarta tampak begitu cerah, meskipun sebelumnya hujan cukup deras turun di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, hal itu tentu saja tidak menjadi penghalang bagi para Penggiat Kenduri Cinta untuk mempersiapkan forum bulanan rutin ini. Begitu juga sebaliknya, Jamaah pun merasa bahwa kerinduan untuk bertemu dengan orang-orang yang dipersaudarakan di Maiyah harus segera terobati. Dan Kenduri Cinta adalah salah satu wahana di mana Orang Maiyah mengobati kerinduan untuk bertemu satu sama lain.

Tidak terasa pula, sudah memasuki tahun ketiga di mana Wirid Tahlukah menjadi wirid pembuka yang rutin diritualkan di Kenduri Cinta. Tahlukah adalah penghancuran. Dan Kehancuran tidak selalu bermakna fisik material, kehancuran tidak selalu kita lihat dengan kasat mata. Ada kehancuran berfikir, ada kehancuran mental, ada kehancuran spiritual yang mana kehancuran-kehancuran itu tidak tampak secara kasat mata. Dan secara tidak sadar, sebenarnya bangsa Indonesia ini sedang mengalami kehancuran-kehancuran di wilayah ruhani itu.

Anhsor Maiyah. Tema yang diangkat oleh Kenduri Cinta pada edisi Februari 2018 ini sudah pasti bukan merujuk pada sebuah padatan Organisasi yang ada di masyarakat saat ini. Maiyah mencoba menyelami makna demi makna dari istilah-istilah yang ada. Jika kita membaca khasanah Islam, kata yang berafiliasi dengan kata Anshor adalah; Muhajirin, Hijrah, Madinah, Makkah. Apa relevansinya istilah-istilah tersebut dengan Maiyah hari ini?

Satu kata yang menjadi dasar pemikirannya adalah peristiwa Hijrahnya Rasulullah saw beserta para pengikutnya dari Makkah menuju Madinah. Kemudian di Madinah, Rasulullah saw mampu merangkul Kaum Anshor dan Kaum Muhajirin untuk bersatu dan bersepakat membangun peradaban yang baru. Dengan pijakan Piagam Madinah, Rasulullah saw kemudian menjadi leader atas pembangunan peradaban baru di Madinah saat itu.

Apa benang merahnya dengan Maiyah? DI sesi prolog dilontarkan kembali pertanyaan-pertanyaan mendasar; Apa tujuannya datang ke Maiyah? Apa alasan datang ke Maiyah? Apa yang dicari di Maiyah? Kenapa harus datang ke Maiyah? Dan sekian pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya yang masing-masing Jamaah Maiyah akan menyelami sendiri jawaban-jawaban yang mereka temukan.

Dan sudah pasti tidak akan cukup satu edisi Kenduri Cinta membahas itu semua. Para salikin Maiyah akan memahami dan menyelami pertanyaan demi pertanyaan dan jawaban demi jawaban yang mereka temui. Karena salah satu bekal kita di Maiyah adalah menikmati proses berlangsungnya memendarnya ilmu-ilmu Allah dengan kesetiaan.

Para penggiat Kenduri Cinta; Adi Pudjo, Fahmi Agustian, Tri Mulyana, Hendra Kusuma, Ali Hasbullah, Nashir, Bang Mathar dan yang lainnya semalam bergantian melontarkan pendapatnya masing-masing tentang Anshor Maiyah dan hal-hal yang berhubungan dengan Hijrah di Maiyah. Pada hakikatnya, kita semua sedang menjalani peristiwa Hijrah. Hijrah yang kita alami ini tidak hanya terbatas pada wilayah territorial dan geografis semata. Tetapi kita juga sedang menjalani proses Hijrah cara berfikir, Hijrah memahami Islam dengan metode yang baru, Hijrah mentadabburi ayat-ayat Allah dengan cara yang lebih tepat, dengan presisi yang lebih pas. Melalui metode pembelajaran berfikir dan berlaku seimbang di Maiyah, juga dengan landasan mencari apa yang benar bukan siapa yang benar.

Di Maiyah, tidak penting siapa yang berbicara di depan forum. Tetapi yang menjadi titik fokus adalah apa yang dibicarakan oleh narasumber. Siapa saja boleh berbicara, boleh mengungkapkan pendapatnya di Maiyah, namun masing-masing menyadari bahwa pendapatnya bukanlah sebuah kebenaran yang mutlak.

Hadir juga semalam di Kenduri Cinta; Rizky Dwi Rahmawan salah satu penggiat Juguran Syafaat, sebuah Simpul Maiyah yang berada di Banyumas. Yang kebetulan, Rizky adalah salah satu Koordinator Simpul Maiyah yang lahir atas kesepakatan Rembug Maiyah di bulan Desember 2017 lalu. Seperti yang kita ketahui, Koordinator Simpul Maiyah ini digawangi oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh, Rizky Dwi Rahmawan, Fahmi Agustian dan Hari Widodo.

Sekilas digambarkan oleh Rizky dan Fahmi, bahwa adanya Koordinator Simpul Maiyah bukan dalam rangka menjadikan Maiyah menjadi sebuah Organisasi yang memadat, melainkan dalam rangka untuk merapikan barisan. Atau jika kita menggunakan istilah sholat jama’ah, yang sedang dilaukan adalah merapikan shof. Terdata hingga hari ini 50 Simpul Maiyah yang tersebar di berbagai daerah dengan ciri khas masing-masing, dan di setiap Simpul Maiyah tersebut memiliki potensi-potensi yang sangat mungkin jika di sinergikan akan menjadi sebuah pergerakan yang lebih indah. Tentunya memerlukan penataan-penataan yang berkesinambungan dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat.

Ust. Noorshofa yang juga menjadi salah satu orang yang dituakan di Kenduri Cinta semalam pun turut hadir menambah wawasan keilmuan yang berkaitan dengan tema Kenduri Cinta kali ini. Dengan gaya ceramahnya yang khas, menyisipkan beberapa humor-humor ringan penuh hikmah, membuat suasana forum Kenduri Cinta terasa semakin segar. Jamaah yang hadir pun sangat banyak, bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela berdiri sejak awal acara hingga akhir acara.

Salah satu hikmah yang disampaikan oleh Ust Noorshofa adalah salah satu buah dari Ilmu adalah kesabaran. Seringkali kita tidak sabar menikmati sebuah proses, kita selalu tegesa-gesa dalam memaknai sebuah peristiwa yang kita alami. Maka Allah dalam sebuah firman-Nya menyatakan; wasta’inuu bi-s-shobri wa-s-sholat. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.

Menjelang pukul 11 malam, Cak Nun hadir dan bergabung di Panggung. Merespons poin yang diutarakan sebelumnya oleh Ust. Noorshofa, Cak Nun menjelaskan bahwa pada peristiwa hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah saat itu posisi Ummat Islam adalah minoritas. Jadi, Rasulullah saw saat memimpin Madinah saat itu adalah Pemimpin yang memimpin seluruh elemen masyarakat di Madinah yang sebegitu plural saat itu, dan beliau tidak hanya menjadi Pemimpin bagi mereka yang mencintai beliau, tetapi juga menjadi Pemimpin bagi yang membenci beliau.

Satu hal yang ditekankan oleh Cak Nun adalah bahwa kita selalu gagal mempelajari Rasulullah saw sebagai sosok manusia biasa. Ada banyak peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah saw yang sebenarnya bukan peristiwa spiritual tingkat langit, yang sayangnya kita seringkali gagal memahaminya.

Cak Nun juga kembali menyinggung perilaku-perilaku para pembuat video-video yang tersebar secara viral di YouTube yang kemudian diberi judul bernada provokatif dan teresan mengadu domba antara Cak Nun dengan tokoh lainnya. Satu hal yang ditekankan oleh Cak Nun adalah, agar Jamaah Maiyah dalam hari-hari kedepan tidak usah sibuk mengurus kejahatan-kejahatan yang melukai Maiyah, tetapi agar melakukan “Udan Deres” sebanyak mungkin nilai-nilai Maiyah untuk disebarluaskan dengan lebih massif lagi dan lebih tertata lagi. Lebih baik kita menyibukkan diri untuk berbuat baik daripada kita sibuk untuk mengurusi orang yang sudah berbuat jahat kepada kita.

Apa yang kita alami di dunia ini adalah wujud dari Qodlo dan Qodar nya Allah kepada kita. Setiap kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di mana, lahir dari rahim perempuan yang mana, lahir menjadi siapa dan seterusnya. Keberadaan kita saat ini adalah kehendak Allah dan kita tidak bisa menolaknya. Tumbuhnya badan kita, rambut kita, tulang kita, mengalirnya darah dalam tubuh kita adalah proses metabolism yang berlangsung dibawah aturan kehendak Allah. Kita tidak bisa mengatur berapa panjang tumbuhnya rambut kita, warna kulit kita, bahkan makanan yang kita makan setiap hari kita sama sekali tidak mampu memilah mana nutrisi, mana vitamin, mana karbohidrat. Sel-sel yang ada dalam tubuh kita secara otomatis bergerak mengolah dan memilah itu semua. Dan itu berlaku dibawah kehendak Allah. Maka sejatinya kita sebagai manusia ini sangatlah lemah dihadapan Allah.

Ada satu penanya yang mengaku bahwa dia adalah seorang penganut madzhab Islam KTP gari keras. Ia mengaku bahwa selama ia hidup belum pernah benar-benar menjalankan perintah Allah seperti shalat, puasa dan ibadah mahdloh lainnya. Islam baginya hanya sebatas identitas di KTP. Ia bertanya bagaimana caranya agar menjadi lebih yakin bahwa Islam adalah Agama yang tepat baginya.

Cak Nun merespons bahwa Islam jangan dipahami secara material semata. Adanya ibadah mahdloh adalah sebuah perintah yang datangnya langsung dari Allah, bukan karangan manusia. Ibadah yang dikarang manusia adalah ibadah mu’amalah. Sholat, puasa, zakat, haji merupakan bentuk ibadah mahdloh yang Allah sendiri menjadi kreatornya. Rasulullah Saw menjadi mediator untuk memperkenalkan ibadah mahdloh itu kepada manusia.

Di Maiyah bahkan tidak pernah ada pertanyaan kepada orang yang baru datang dengan mempertanyakan apakah dia muslim atau bukan. Karena pertanyaan seperti ini akan menyudutkan orang yang ditanya. Kepastian seseorang muslim atau bukan merupakan hak prerogative Allah semata. Kita sebagai manusia hanya  mengusahakan semoga apa yang kita ijtihadi, apa yang kita ikhtiarkan selama ini kelak akan mengantarkan kita menjadi golongan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasululllah saw.

Cak Nun juga kemudian menambahkan, bahwa menemukan kebenaran Islam itu caranya tidak harus bersifat akademis. Selama ini yang berkembang di masyarakat, Islam diperkenalkan oleh ustadz-ustadz yang bisa jadi pemahaman tentang Islam berbeda satu sama lain. Pada akhirnya, masyarakat berbenturan satu sama lain karena pemahaman tentang Islam mereka berbeda, berdasarkan pendapat para ustadz yang mereka temui selama ini. Cak Nun menggambarkan bahwa kondisi masyarakat saat ini, ketika berhadapan dengan Allah tidak secara langsung, ada sosok lain yang ada didepannya. Sosok itu bisa beruwujud ustadz, madzhab, organiasasi keagamaan dan lain sebagainya. Pada akhirnya Islam tidak difahami dengan baik, karena hanya berdasarkan tafsir-tafsir dari pendapat masing-masing ulama yang berbeda satu sama lain.

Maka Maiyah ini  tidak akan menjadi madhzab dalam Islam. Maiyah juga tidak akan memadat menjadi organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, FPI, LDII dan lain sebagainya. Maiyah akan senantiasa menjadi gelombang, akan menjadi cair seperti hari ini. Siapapun saja boleh datang ke Maiyah, siapapun saja boleh berpendapat di Maiyah. Dan yang pasti, tidak ada seorangpun yang boleh memaksakan pendapatnya untuk diyakini oleh orang yang lainnya di Maiyah. Kebenaran di Maiyah adalah kebenaran yang merupakan hasil dari pencarian setiap masing-masing inividu Orang Maiyah itu sendiri.

Khasanah ilmu yang lain dijabarkan oleh Cak Nun. Melalui Al-Fatihah, Cak Nun menjelaskan bahwa struktur pengulangan kata Rahman dan Rahim di dalam Surat Al-Fatihah ini juga merupakan hikmah tersendiri yang harus kita pelajari. Tidak mungkin tanpa alasan mengapa Allah menyebut kata Rahman dan Rahim sebanyak dua kali di dalam Surat Al-Fatihah.

Cak Nun mentadabburinya dengan penjelasan bahwa melalui metode tersebut Allah ingin memperlihatkan sosok-Nya yang penuh kasih dan sayang kepada kita semua sebagai makhluk ciptanyaannya. Sebanyak apapun kesalahan kita, sebesar apapun dosa yang pernah kita perbuat, sejatinya ampunan Allah itu jauh lebih luas dan lebih besar dari itu semua. Tetapi, bukan kemudian kita nggampangke Rahman dan Rahim nya Allah kepada kita. Karena Allah itu ingin memesrai kita sebagai hambanya. Seperti juga yang terkandung dalam Surat An Naas, mengapa strukturnya adalah; Robbun-Ilaahun-Maalikun. Kenapa kata Robbun menjadi awal dari surat tersebut? Kenapa bukan; Qul A’udzu bi Ilaahinnas terlebih dahulu? Atau Qul A’udzu bi Malikinnas terlebih dahulu? Melainkan Qul A’udzu bi Robbinnas yang menjadi pembuka surat An-Naas tersebut.

Kembali ke tema Anshor Maiyah, Cak Nun menjelaskan dengan ijtihad penyusunan Piagam Maiyah yang sedang berproses ini pada hakikatnya adalah agar kelak Orang Maiyah memiliki pijakan dan pedoman hidup yang berasal dari mereka sendiri. Piagam Maiyah tidak disusun oleh Marja’ Maiyah, melainkan lahir dari Jamaah Maiyah itu sendiri.

Menyikapi situasi dan kondisi di Indonesia hari ini, Cak Nun menjelaskan bahwa saat ini orang itu tidak takut mati. Yang ditakutkan oleh orang hari ini adalah ia tidak hidup. Karena konsep hidup orang hari ini adalah memiliki banyak uang, memiliki banyak harta, memiliki banyak rumah dan lain sebagainya. Manusia hari ini gagal memahami konsep hidup yang sejati. Bahwa materi itu memang kita perlukan, tetapi itu bukan hal yang utama sehingga fokus hidup kita sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan materi semata. Tidak, hidup kita tidak hanya sebatas itu saja.

Di sesi akhir, Cak Nun kembali mengingatkan kepada Jamaah Maiyah agar senantiasa bersyukur bahwa kita tidak mengetahui seluruh informasi yang ada di dunia saat ini. Apa yang dialami oleh Cak Nun hari-hari ini adalah bahwa beliau mengetahui informasi-informasi yang jika diceritakan kepada Jamaah Maiyah khususnya belum tentu akan kuat menyangga informasi tersebut. Bahwa ternyata ketidaktahuan kita terhadap sebuah informasi merupakan sebuah anugerah yang juga patut kita syukuri.

Allah tidak mewajibkan kita menjadi orang yang pandai, yang mengetahui banyak hal dan mampu menyelesaikan banyak persoalan. Yang diperintahkan Allah kepada kita adalah kita berbuat baik. Faman kaana yarju liqoo’a robbi, fa-l-ya’mal amalan sholihaa.

Menjelang pukul 4 dinihari, Kenduri Cinta dipuncaki dengan berdo’a bersama yang dipimpin oleh Cak Nun. Kemudian jamaah bersalaman dengan Cak Nun secara bergiliran dengan tertib. (Red. KC)

Begitu cepat waktu berlalu, tidak terasa kita sudah dipertemukan kembali dengan Kenduri Cinta. Sepertinya baru kemarin kita bergembira bersama di Kenduri Cinta bersama KiaiKanjeng di bulan Januari. Ternyata kita sudah memasuki bulan Februari. Bisa jadi, khasanah-khasanah ilmu yang kita dapatkan di…