Menyaksikan Peradaban (Ber)Bunyi

Liputan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN ke-44, 11 September 2018

Bagi sebagian orang, wacana kejayaan Nusantara seringkali dikaitkan dengan kemegahan dan kejayaan serta keberhasilan penataan ekosospol kerajaan-kerajaan yang lahir di masa lampau. Ini tentu tidak salah, hanya saja seberapa banyak kita mengerti mengenai sifat-sifat pranata di masa lalu itu kan bergantung dari data sejarah yang tersedia di masa kita. Belum lagi, kecenderungan untuk terjatuh pada romantisme sejarah, gagal move on peradaban, sedangkan zaman terus berganti.

Kita memang tidak selalu mesti meyetujui apa saja produk modernitas, tapi kita juga tidak bisa memungkiri kita hidup pada masa ini. Itu pun kita mesti mengakui. Kalau memang mau meyakini hal semacam ini berarti kita siap dengan konsekuensi pertanyaan semacam, kalau dulu jaya seperti itu kenapa sekarang jadi begini?

Menuduh segalanya salah bangsa kolonial jadi lebih mudah, maka itu versi sejarah kita tidak begitu banyak variasi pembacaannya. Nusantara adalah peradaban adiluhung, tapi mungkin bukan di situ saja letak kemuliaan peradabannya. Kita hanya terlalu sering menengok ke sudut yang itu-itu saja.

Mas Ardika Gigih tidak sedang bicara mengenai peradaban-peradaban Nusantara pada malam itu, tidak berkisah kenangan akan kejayaan-kejayaan yang lampau. Malam itu tanggal sebelas, seperti juga sebelum-sebelumnya, adalah malam di mana Diskusi Sewelasan digelar dengan digawangi oleh Perpus EAN di Rumah Maiyah. Bulan September ini, adalah seri ke-44.

Hanya yang sunyi yang mampu peka pada bunyi. Yang diam yang paling banyak mendengar dan yang hening yang siap untuk melayang. Kita kehilangan kepekaan pada bunyi belakangan ini karena keriuhan mengepung kita di mana-mana. Maka itu, perlu saya tekankan lagi bahwa Mas Gigih tidak bercerita mengenai peradaban jaya Nusantara seperti yang sering kita dengar.

Tapi entah kenapa, sambil malam itu syahdu, tak begitu banyak peserta yang datang mungkin karena bertepatan dengan malam tahun baru Hijriyah. Saya menikmati membuka-buka buku berjudul “Mendengar di Bali” yang ditulis oleh Mas Gigih. Buku saya pinjam sebentar dari Bu Roh, sesepuh kita para JM yang selalu dengan sabar membimbing para pejuang di wilayah Perpustakaan EAN.

Mas Gigih masih bercerita, di sebelahnya Mas Emon seorang seniman musik dari Bali. Mas Gigih masih bercerita, suara kucing mengaong.

Mas Gigih bercerita soal sebulan perjalanannya di Bali. Bung Karno memang pernah berkata bahwa untuk melihat kejayaan Nusantara tengoklah ke Bali. Tapi tampaknya bukan itu yang melambari perjalanan Mas Gigih, bukan juga soal bagaimana keindahan Banda Neira. Mas Gigih berperjalanan ke Bali.

Sebagai seorang akademisi musik, tentu beliau penuh dengan teori dan wacana dari bidang tersebut. Namun kepekaan, itu bukan bisa dipelajari dari bacaan. Dari cara bercerita serta dengan membaca beberapa bagian dari buku ini, jelas Mas Gigih adalah seorang yang sangat peka pada bunyi. Bukunya sendiri ditaburi berbagai nama yang menghiasi, memperindah pikiran-pikirannya serta melambari kesadarannya dalam menikmati bebunyian di sekitar. Tentu pada bahasan ini, di Bali.

Memang malam itu buku karya Mas Gigih sedang jadi bahasan utama. Sekali lagi, Mas Gigih tidak secara gamblang bicara mengenai sejarah dan peradaban, tapi entah kenapa sambil menikmati alunan penjelasan Mas Gigih, saya terbawa pada apa yang disebut peradaban bunyi.

Kita belum banyak atau mungkin belum terlalu memopulerkan soal begini. Padahal bisa jadi peradaban Nusantara adalah bukan sekadar pada peninggalan-peninggalan fisikal, catatan dan atau pranata masa lampau. Tapi bagaimana manusia-manusia yang dididik oleh dentum gemuruh gunung api, debar desir pantai, lambaian rumpun bambu, kokok ayam, ciutan emprit hingga omelan mamaknya tetangga melahirkan manusia-manusia yang peka pada bunyi.

Banyak hal yang bisa diwariskan oleh bebunyian, jauh daripada candi dan tulisan. Karena itu bunyi yang natural, bukan hiruk-pikuk yang dimanipulasi polusi kepentingan apalagi kebencian. Bebunyian semacam inilah bunyi-bunyi kesunyian, manusia Nusantara sering lahir dengan kepekaan bunyi.

Ketika Mas Gigih bercerita bagaimana bebunyian di Bali, bagaimana gamelan tradisi membawanya pada nasab-nasab seperti novel dan tulisan Haruko Murakami, Philharmonic Orchestra serta banyak nama lain yang tersimpan di balik getaran. Sadarlah saya sepenuhnya bahwa, walau penceritaan Mas Gigih sangat kosmopolit modern (kosmopolit pra-modern malah lebih lumrah ketika kita belum menganut bentuk nation-state) namun Mas gigih ini tetaplah manusia Sragen, manusia Jawa. Dari penceritaan mengenai bunyi ini ada harta karun peradaban kita.

Belakangan ada yang disebut sastra traveling. Tapi pembacaan saya, bahasan Mas Gigih lebih mendekati pada antropologi bebunyian dengan perjalanan yang semakin meluas justru makin ke dalam. Ke dalam, ke ingatan, kepada kenangan sampai pada jiwa, jiwa, dan jiwa ke mana lagi kalau bukan kepada-Nya? Hening.

Lantunan Mas gigih juga kemudian dilengkapi dengan amatan kultural dari Mas Emon Subandi. Jadi komposisi yang merdu, diselingi pengantaran oleh Mas Erie Setiawan. Kucing mengeong, entah mempertahankan wilayah atau undangan kawin.

Peradaban Nusantara ini adalah peradaban pernikahan. Tak ada hal yang sangat bertentangan yang tidak mampu dipertemukan dalam kemesraan. Ada sejarawan yang bilang bertemunya paham Syiwa dan Buddha, anarkisme dan nasionalisme.

Di Maiyah kita selalu belajar bagaimana seni mengharmoniskan segala sesuatu, kemampuan alami kita sebagai manusia Nusantara, juga malam itu tangga sebelas, malam satu suro, kita bisa dapatkan bagaimana menjodohkan bunyi dan sunyi. Bukankah itu peradaban kita?

Buku Cak Nun