Menulis, Keberanian Meletakkan Kata

Komunitas Kenduri Cinta kembali menggelar Workshop, kali ini bertajuk Workshop Storytelling. Rangkaian Workshop ini diperuntukkan khusus bagi para penggiat simpul Maiyah, namun tidak ada kewajiban bagi seluruh simpul Maiyah untuk mengikutinya. Konsep workshop ini juga merupakan salah satu aplikasi dari Maiyahan, bahwa Sinau Bareng itu bukan hanya ketika Maiyahan saja, tetapi juga melalui workshop seperti ini setiap penggiat simpul Maiyah belajar bersama secara khusus pada tema-tema tertentu.

Pada kesempatan ini, peserta workshop adalah mereka yang memiliki tanggung jawab literasi di setiap simpul Maiyah, utamanya adalah para penyusun Mukadimah dan Reportase di setiap Maiyahan rutin setiap bulannya di simpul masing-masing. Komunitas Kenduri Cinta memang mempersyaratkan bahwa peserta adalah yang mengampu literasi di setiap simpul Maiyah, secara tidak langsung para peserta sudah memiliki bekal ilmu jurnalistik.

Workshop ini memang tidak diperuntukan bagi para pemula. Dibalut dalam suasana yang santai, workshop ini berlangsung selama 2 hari (5-6 Mei 2018), pada akhir pekan lalu di Aula Edotel SMK N 1, Jakarta Pusat. Erik Supit kembali didapuk sebagai mentor tunggal dalam Workshop kali ini. Peserta workshop pun mengikuti rundown acara secara tertib, dari awal sampai akhir.

“Kebanyakan dari kita itu bisa menulis tetapi tidak semua mampu bercerita”, Erik Supit menerangkan bahwa kemampuan menulis tidak bisa dilepaskan dari kemampuan bertutur. Secara tidak langsung, seorang yang piawai dalam menulis pasti juga memiliki kemampuan public speaking yang baik. Salah satu contoh sosok yang sangat nyata bagi kita adalah Cak Nun. Kita melihat bagaimana Cak Nun adalah seorang penulis yang sangat produktif sekaligus memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik.

Selama 2 hari peserta workshop kali ini sangat antusias. Erik Supit menghadirkan wawasan baru tentang teknik menuliskan sebuah informasi dalam bingkai yang menarik. Seringkali kita luput kepada hal-hal yang remeh, kita selalu terfokus pada hal-hal yang besar untuk diinformasikan kepada khalayak. Padahal, dari hal-hal yang kita anggap remeh itu mengandung informasi yang sangat layak untuk disebarluaskan, asalkan kita mampu membungkus informasi tersebut dengan baik.

Gugatan banyak orang di Maiyah salah satunya adalah; kenapa Maiyah tidak pernah diliput oleh media mainstream di Indonesia saat ini? Padahal, di setiap Maiyahan selalu dihadiri oleh masyarakat dengan kuantitas yang sangat banyak. Mustahil, di era informasi yang sedemikian cepat persebarannya ini, Maiyahan sama sekali tidak terendus oleh wartawan media massa di Indonesia. Tetapi memang demikian faktanya, Maiyah sama sekali bukan produk yang seksi untuk diviralkan. Namun, gugatan itu hanya tersisa sebagai gugatan saja. Tak ada aksi nyata yang dilakukan. 

Berangkat dari kasus inilah kemudian Komunitas Kenduri Cinta menggelar Workshop Storytelling ini. Mungkin terdengar aneh, kenapa harus storytelling? Kenapa tidak membuka kelas menulis mukadimah atau reportase saja? Erik Supit dalam kesempatan Workshop ini menjelaskan bahwa saat ini kita berhadapan dengan percepatan informasi, masyarakat kita hari ini memerlukan sajian yang baru dari sebuah informasi. Tidak lantas kemudian mukadimah dan reportase itu tidak penting, kedua item tersebut tetaplah menjadi sebuah hal yang wajib dipublikasikan dalam sebuah Maiyahan. Kembali ke awal, kita seringkali melupakan hal-hal yang remeh namun sebenarnya sangat layak untuk diinformasikan kepada publik.

Mayoritas informasi Maiyahan hari ini hanya terfokus pada panggung saja. Apa yang disampaikan oleh Cak Nun dan narasumber lainnya adalah konten utama yang selalu kita informasikan. Nyaris tidak ada tulisan yang mengabarkan tentang jamaah Maiyah yang serius menyimak Cak Nun. Ada banyak hal yang sebenarnya layak untuk ditulis dari sebuah Maiyahan selain konten yang disampaikan oleh Cak Nun di forum.

Anak-anak kecil yang selalu diajak oleh ibunya Maiyahan, para penjaja kopi dan makanan ringan, bahkan hingga crew KiaiKanjeng sendiri adalah objek informasi yang tidak pernah diinformasikan. Sudah saatnya kita mengabarkan Maiyahan dari hal-hal yang terlupakan itu.

Satu hal yang juga ditekankan oleh Erik Supit pada workshop kali ini adalah bahwa masyarakat kita saat ini, terutama Generasi Z tidak memiliki ketertarikan membaca tulisan yang panjang. Media sosial hari ini telah membentuk karakter anak-anak muda menjadi sebuah generasi yang sangat malas untuk membaca, apalagi mengkonfirmasi keakuratan informasi yang beredar. Dalam workshop ini juga dilakukan praktik langsung, peserta ditugaskan untuk menulis storytelling bertema Maiyahan, dengan jumlah karakter yang dibatasi. Dan hasil tulisan mereka langsung dibedah, dikupas, dicari kesalahannya kemudian diperbaiki saat itu juga.

Metode storytelling inilah yang kemudian dijadikan salah satu cara menginformasikan hal-hal kecil dari sebuah Maiyahan yang seringkali luput untuk diinformasikan. Agar Maiyahan dikabarkan kepada khalayak ramai dalam produk jurnalistik yang mengikuti zaman. Selama ini, informasi Maiyahan justru lebih sering diinformasikan oleh Cak Nun sendiri di forum. Seringkali kita yang kecolongan, Cak Nun lebih jeli melihat hal-hal yang kita anggap sepele, namun ternyata sangat menarik untuk diinformasikan.

Seperti yang terjadi di Kenduri Cinta bulan lalu, gitaris El Bams adalah seorang yang buta matanya. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang, justru jamaah Kenduri Cinta melihat kepiawaiannya memainkan senar gitar elektrik malam itu dengan sangat apik. Cak Nun pun menyampaikan kepada jamaah, bahwa kebutaan matanya bukanlah sebuah kekurangan. Manusia hari ini selalu menganggap cacat fisik manusia adalah sebuah kekurangan, Cak Nun mampu mengubah cara pandang kita dengan mengatakan bahwa kebutaan sang gitaris itu justru kelebihannya, karena ia sama sekali tidak tersiksa seperti kita hari ini yang setiap hari melihat kemewahan dunia. Gitaris ini sepenuhnya terbebas dari penjara-penjara materialisme. Nah, kita sering luput dari hal-hal sepele seperti ini di Maiyahan.

Informasi tentang omset Angkringan, penjaja kopi, pedagang kacang rebus, hingga merchandise Maiyah hampir tidak pernah terpublikasikan, kecuali dari sebuah foto. Maka, sudah saatnya kita memulai untuk menginformasikan Maiyah dari hal-hal yang kecil, yang seringkali kita lewatkan begitu saja. Sampaikan kepada publik dengan cara bercerita. Tulislah cerita tentang Maiyah. Daripada kita menunggu orang lain untuk bercerita tentang Maiyah, bukankah lebih baik jika kita yang menuliskan Maiyah dalam bentuk cerita yang menarik?