Menjadikan Sekolah Sebagai Taman Sinau Bareng

Tetes, kian bervariasi. Dan patut kita syukuri. Pada awalnya, tetes merupakan tetesan-tetesan ilmu yang berasal dari pemikiran Mbah Nun. Seiring waktu, tetes semakin deras memancar. Setelah Mas Sabrang MDP dan Syekh Nursamad Kamba turut ambil bagian. Beliau berdua dengan setia meneteskan butiran dan pendaran ilmu, logika berpikir, kepekaan intuisi yang sarat hikmah.

Dan yang terbaru, pak Toto Rahardjo atau akrab disapa Kiai Tohar juga ikut urun meneteskan ide, gagasan, serta cara pandang yang anti-mainstream. Pakde satu ini memang terkenal dengan gaya berpikir yang out of the box. Tidak biasa. Nyeleneh. Bahkan terkesan paradoks. Pakde Tohar sangat gemar menggebrak kemapanan. Kerap mendobrak sistem baku yang berasal dari pemerintah. Serta hobi mengkritisi sesuatu yang lazim dan jamak terjadi di kalangan masyarakat. Satu yang menjadi concern beliau, yakni memperjuangkan dan mengembalikan ruh pendidikan yang sejati. Pendidikan yang dilandasi semangat asah, asih, dan asuh. Pendidikan yang manusiawi dan alami.

Membaca Tetes Kiai Tohar yang berjudul Taman, saya serasa ditampar. Sebagai guru/tenaga pengajar yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya atau mungkin juga Anda diingatkan kembali untuk sinau meneladani pemikiran bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional kita itu, menggunakan kata ’taman’ untuk menggambarkan proses penyelenggaraan pendidikan. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar.

Ki Hadjar ingin mengajak Anda untuk membayangkan sekolah sebagai suatu taman, dan kelak pada waktunya kita akan melihat bahwa sesungguhnya praktik pembelajaran itu idealnya dilangsungkan dalam suasana yang mirip dengan suasana taman. Taman yang menghadirkan suasana kegembiraan, taman yang nyaman dan setiap orang bisa berekspresi, berkreasi sambil mengukir kenangan.

Bila sekolah bagaikan taman berarti tidak seperti penjara yang mengungkung, membelenggu serta membikin manusia tak lagi memiliki harapan—tentunya tidak ada lagi siswa yang tidak kerasan lalu drop out, minggat dari sekolah itu.” (Tetes – Taman , 7 November 2018)

Di mana wadah/lembaga/institusi pendidikan pertama yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara dinamakan Taman Siswa. Kenapa taman? Karena praktik dan proses pembelajaran itu idealnya dilangsungkan dalam suasana yang mirip dengan suasana taman. Taman yang menghadirkan suasana kegembiraan, taman yang nyaman, asyik, dan setiap anak/siswa merdeka untuk berekspresi, berimajinasi dan berkreasi.

Namun pada kenyataannya, institusi pendidikan era sekarang, dalam hal ini sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, belum sepenuhnya menerapkan konsep belajar ala ‘taman siswa’ yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Alih-alih mencontoh Taman Siswa, faktanya tak sedikit sekolah yang justru cenderung bersistem kaku, mengungkung, dan membatasi para siswa untuk berkembang melalui cara penyeragaman.

Salah satu bentuk penyeragaman yang banyak terjadi di sekolah-sekolah (termasuk sekolah di mana saya mengajar) adalah guru memberikan materi soal yang sama pada siswa, dan siswa dituntut untuk bisa mengerjakan semua. Kalau jawabannya salah kena marah. Kalau tidak bisa mengerjakan dapat hukuman. Hukumannya pun bermacam-macam. Padahal setiap anak memiliki tingkat kecerdasan (IQ) dan logika yang berbeda-beda. Kenapa mesti semua bisa mengerjakan? Itu yang dapat merusak mental, dan kepercayaan diri si anak. Apapun hasil jerih payah mereka dalam mengerjakan soal patut dihargai. Guru tetap mengapresiasi.

Perlu diyakini bahwa setiap anak dianugerahi Tuhan bakat dan keunikannya sendiri-sendiri. Tanpa perlu khawatir apabila ada beberapa anak yang kurang cakap mengikuti satu-dua bidang studi. Misal, si A agak pasif di mata pelajaran bahasa Inggris, bisa jadi ia jago matematika. Atau si B yang gagap dengan hitung-hitungan matematika, ternyata ia mahir dalam merangkai cerita dalam Bahasa Indonesia (saya contohnya, maaf ini tidak penting, tidak usah dibaca). Bahkan ada anak yang mungkin jeblok di semua mata pelajaran, tapi ternyata unggul dalam bidang olahraga yakni bermain sepakbola. Dan seterusnya.

Maka, sikap paling bijak seorang guru (pengajar) di sekolah yaitu menganalisa sejak awal karakteristik anak, untuk kemudian mengajari, mengarahkan, dan membimbing sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Saya jadi teringat satu petuah dari Bu Wahya (istri pakde Tohar, perintis Sanggar Anak Alam Yogyakarta), bahwa anak adalah mahaguru bagi dirinya sendiri, dan sumber ilmu bagi teman-temannya. Jadi, biarlah anak-anak tersebut belajar berproses untuk mengenali diri dan lingkungan, sampai mereka temukan passion-nya sendiri-sendiri.

***

Kita semua tahu siapa bapak Pendidikan Nasional. Tetapi tidak semua mau untuk memaknai dan mengejawantahkan metode pendidikan yang telah diajarkannya. Generasi milenial harus belajar sejarah. Harus peduli dengan peradaban masa silam. Dan harus mau membaca goresan tinta emas para pejuang, tokoh, dan guru bangsa.

Karena apa yang kita cicipi sekarang (di segala bidang) merupakan dedikasi–buah karya sesepuh leluhur kita. Kalau ingin maju, jangan hanya fokus ke depan. Ada baiknya flashback ke belakang. Belajar dari pendahulu kita. Analoginya seperti busur dengan anak panah. Semakin anak panah di tarik jauh mundur ke belakang, maka akan semakin jauh anak panah melesat ke depan.

Sudah seyogianya para guru dan seluruh institusi pendidikan untuk meneruskan tongkat estafet sang bapak pendidikan. Mengelaborasi dan mempraktikkan konsep belajar ala taman siswa di sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, pesantren, dlsb.

Selain itu, sebagai pengajar dan pendidik, guru hendaknya mampu membangun kesadaran bahwa yang belajar di sekolah tidak hanya murid, tetapi guru juga. Dengan begitu konsep yang diterapkan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bukan model satu arah/linier melainkan belajar bersama-sama alias Sinau Bareng.

Nah, forum Sinau Bareng yang dirintis dan dimasyarakatkan oleh Mbah Nun dapat dijadikan acuan. Di mana proses belajar di sekolah dibikin dua arah. Artinya guru tidak hanya memerintah, memberi penjelasan atau sekadar mendikte siswa. Tetapi siswa diajak diskusi. Satu tema pembelajaran dionceki bareng-bareng. Siswa dirangsang untuk aktif dan responsif menyuarakan gagasan maupun pendapatnya. Salah tidak apa-apa. Yang penting berani vokal. Bukankah kita bisa belajar dari kesalahan? Jika salah, guru bertugas meluruskan. Menegur bukan men-judge. Dengan begitu suasana KBM akan terasa hidup. Jika situasi kelas menegang, guru bisa melempar jokes/candaan. Pasti akan gerrr dan atmosfer cair kembali. Guru mesti memiliki selera humor yang tinggi. Dan ini penting sekali.

Sebagai penutup, dalam rangka memperingati hari guru (25/11/2018) ini, ingin sekali rasanya mengajak semua pihak dan siapapun saja yang berkiprah di dunia pendidikan, untuk bersama-sama menjadikan sekolah-sekolah sebagai “Taman Sinau Bareng” yang nyaman, ramah dan menggembirakan.

Selamat Hari Guru.

Gemolong, 15 November 2018

Buku Cak Nun