Menguak Jalan Sunyi

Ada baiknya memang, setiap kita melakukan aktivitas maupun kegiatan diberi jeda sejenak. Break. Cooling down. Leren. Atur nafas, atur irama. Laiknya sebuah lagu tak akan merdu dan cenderung monoton, manakala suara vokal terus terlantun. Mesti ada jeda. Vokal berhenti. Kemudian disisipi dengan alunan melodi agar lagu terasa enak dinikmati.

Dan betapa melelahkannya, apabila setiap hari kita harus terus kencang berlari. Tubuh mengalami dehidrasi. Kaki, pinggang, badan pegal-pegal. Ia perlu air pelepas dahaga. Ia butuh istirahat memulihkan stamina.

Mengacu argumen di atas, maka jeda itu baik. Logis. Duduk sejenak untuk kemudian bangkit berdiri lagi. Rehat juga normal. Sehat. Menghela nafas sebentar, lalu bersiap menyusun langkah, cara, strategi dan kekuatan untuk berlari kembali.

***

Kita tahu, Daur II sempat off beberapa waktu. Daur disimpan, ditahan, dieram sampai waktu yang tak ditentukan. Daur mengalami jeda. Istirahat dari kata-kata.

Hampir sebulan lamanya Daur tak menyapa. Ada yang mengganjal memang. Wajar jika terbersit kerinduan. Dan kerinduan itu terobati pada tanggal 13 Februari. Sebuah “Rahasia Derita” disibak oleh Mbah Markesot. Dihamparkan kepada seluruh anak-cucu Jamaah Maiyah.

Kami terus belajar Iqra’. Membaca, mencerna, menggali dan teruuus menyelami. Apa yang dimaksud dengan Rahasia Derita? Seger, Toling, Junit, Jitul termasuk saya menduga, Rahasia Derita itu bernama Jalan Sunyi. Jalan yang tidak banyak ditempuh oleh kebanyakan orang. Jalan anti-mainstream. Jalan sepi peminat. Out of the box. Dan selama ini, Mbah Sot menempuh Jalan Sunyi itu sendiri.

Ia punya perkebunan luas dan subur tapi tak memetik buahnya. Namun baginya itu menjadi kenikmatan rahasia yang sangat dalam maknanya.

Ia berhak untuk duduk dan memilih ‘kursi’ apapun yang diinginkan. Akan tetapi beliau sukanya berdiri, berjalan, berlari, dan bersimpuh.

Bahkan punya kursi besar tapi tak beliau duduki. Seluruh hidupnya justru menjelma kursi besar yang banyak orang numpang duduk dan bersandar.

Ia miliki energi dan potensi sangat besar untuk menang tetapi enggan ikut bertanding. Apalagi maju perang. Sebab perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri.

Ia sangat mudah untuk mengeruk uang, harta, dan kekayaan. Namun beliau tak goyah. Tetap setia pada kesederhanaan. Narimo ing pandum.

Sederhana pertanyaannya. Bukankah Mbah Markesot juga seorang manusia. Tidakkah beliau juga perlu makan-minum, sandang, papan, pulsa dan kebutuhan hidup lainnya. Kalau ia manusia dan laki-laki, berarti ia juga berperan sebagai suami, bapak, pakde, paklik juga simbah di dalam keluarganya.

Punya istri, anak, cucu serta sanak kadhang. Suami wajib menafkahi lahir-batin sang istri. Bapak bertugas menyekolahkan anak dan memenuhi aneka ragam keperluan putra-putrinya. Simbah pun demikian. Harus berusaha meluangkan waktu untuk dekat dan bercengkrama bersama cucu-cucunya.

Itu baru urusan birokrasi dalam keluarga. Belum hubungan-interaksi dengan masyarakat luas di luar sana. Tentu jauh lebih kompleks dan complicated.

***

Pintu rumah Mbah Sot selalu terbuka bagi siapa saja. Open 24 hours. Ada orang kesurupan, datang ke rumah Mbah Sot, minta agar Jin pengganggu diusir dari tubuh si Fulan. Ada dua kubu di Desa sebelah tengah berseteru, Mbah Sot dipanggil, diminta untuk melerai dan mencairkan suasana. Ada pensiunan yang alami stroke, sambat minta obat kepada Mbah Markesot. Ada jejaka tua belum merit, meminta Simbah memberi pencerahan ihwal jodohnya.

Ada pasangan yang telah lama menikah, namun belum dikaruniai momongan, datang ke tempat Mbah Sot nyuwun didoakan. Ada pula pejabat yang terlibat korupsi, lalu menghadap Mbah Sot, memohon pencerahan dan jalan keluar. Ada tokoh mau maju Pilkada, sowan ke Mbah Sot minta ‘sangu’. Dan pelbagai konflik, gangguan, kasus, polemik, masalah-masalah dan sejuta kepentingan diadukan kepada Mbah Sot, dengan harapan beliau berkenan untuk nengahi dan nulungi.

Lalu dengan cara apa, beliau me-manage waktu antara keluarga dan umat? Bagaimana membagi waktu untuk intim dengan istri dan kumpul bareng anak-anak? Bagaimana triknya meng-cover segala kebutuhan primer, sekunder dan tersier rumah tangganya? Seperti apa cara Mbah Sot menyiasati banyaknya surat undangan yang masuk ke ‘meja redaksi’-nya?

Juga dengan jurus apa, Mbah Sot mengkreatifi pikiran, hati dan tenaganya agar selalu ON. Stand by siang dan malam untuk menghadiri berbagai judul acara dan kegiatan. Waktu, tenaga, pikiran dan seluruh hidupnya lebih banyak diabdikan untuk mengurus umat. Sampai-sampai mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Mbah Sot sungguh-sungguh menderita. Luar-dalam. Namun derita itu dirahasiakannya. Sendiri, di lubuk hati.

Kalau Mbah Markesot sudah sebegitu menderita atas peran yang diembannya, lantas bagaimana dengan kiprah Mbah Muhammad dulu. Beliau punya anak-cucu juga. Dan dipasrahi tugas langsung oleh Allah Swt untuk merahmati semesta alam. Semesta lho, bukan sebatas lingkup RT, kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga negara. Ini ‘proyek semesta’. Seantero jagat raya.

Betapa super sibuknya penggawean Mbah Muhammad. Atas perkenan Allah diurusnya alam, manusia, tumbuhan, binatang, sampai makhluk tak kasat mata. Semuanya diopeni, dilayani, dan dirahmati tak terkecuali. Lalu kapan Mbah Muhammad sempat istirahat, duduk santai, ngopi dan ngudud seperti kita? Kapan beliau bisa tidur nyenyak? Jarang. Atau bahkan tidak sama sekali.

Paradoks memang, diutus Tuhan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Keseluruhan hidupnya 100 persen terjamin. Digaransi masuk surga pertama kali, tetapi dalam rentang usia 63 tahun di alam dunia justru hidupnya teramat sangat sangat menderita. Dihabiskan waktunya untuk beribadah, sholat, dzikir, puasa, berdoa, sedekah, dakwah (sembunyi dan terang-terangan) dan melayani umat semesta.

Kehidupan Mbah Muhammad dan Mbah Markesot sama-sama menderita. Namun derita itu dirahasiakannya. Mbah Mad dan Mbah Sot sepertinya juga punya ‘senjata’ yang sama dalam melakoni peran vitalnya di dunia. Senjata yang tidak dibikin oleh manusia. Senjata yang kita semua otomatis punya. Yang dianugerahkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Yaitu cinta. Cinta kepada Sang Pencipta dan seluruh ciptaan-Nya.

Seger tetap gagal menguakkannya. Ia membuat catatan pribadi bahwa Jalan Sunyi Markesot sesungguhnya terletak pada rahasia penderitaan hidupnya.” –Daur II-301Rahasia Derita

Seger saja gagal menguak Jalan Sunyi Mbah Markesot. Apalagi kami…

***

Tiba-tiba kang Toling menyahut.

“Mungkin Tuhan hanya izinkan yang bernama Muhammad, yang kuat menderita melayani ummat.”

“Muhammad Saw kang?”

“Iya benar, ada lagi…”

“Siapa kang?”

“Muhammad yang dari Jombang”

Saya pun terdiam.

Ada baiknya memang, setiap kita melakukan aktivitas maupun kegiatan diberi jeda sejenak. Break. Cooling down. Leren. Atur nafas, atur irama. Laiknya sebuah lagu tak akan merdu dan cenderung monoton, manakala suara vokal terus terlantun. Mesti ada jeda. Vokal berhenti. Kemudian disisipi dengan alunan…