Mengingat Kembali Mènèk Blimbing

Kita buka lagi lembaran lama ilmu Maiyah. Menek Blimbing. Dua kata yang ada di syair Ilir-ilir dan dijadikan salah satu rubrik di caknun.com.

Salah satu nilai yang terkandung dalam menek blimbing tersemat pada kalimat setelah bocah angon bocah angon penekno Blimbing kuwi, yaitu lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro. Lunyu-lunyo penekno. Walaupun licin harus tetap dipanjat. Tujuannya, kanggo mbasuh dodot iro. Untuk membasuh pakaianmu. Pakaian adalah tanda maratabat. Kotornya pakaian dalam syair Ilir-ilir menandakan kotornya martabat.

Sekarang, menjelang Pemilu (pemilihan benalu) banyak orang Menek Blimbing. Selicin apa pun pohon blimbing tetap dipanjat. Bahkan kalau licinnya sampai ke taraf luar biasa tetap dipanjat. Karena banyak orang yang memanjat, semuanya saling bersaing untuk memanjat. Sesama pemanjat, satu sama lain saling menjatuhkan. Pemanjat satu yang menjatuhkan pemanjat lain akan bahagia hatinya.

Tentu saja menek blimbing model seperti itu berbeda dengan yang dimaksud dalam syair Ilir-ilir. Kalau dalam syair Ilir-ilir, Menek Blimbing tujuannya untuk dipersembahkan kepada orang lain. Tetapi di negeri kita tercinta ini Menek Blimbing masal tersebut tujuannya adalah untuk dimakan sendiri.

Bukan karena tertarik dengan jumlah lima punggung blimbing, tetapi rasa belimbing yang menurut angan-angan mereka marakke ngoweh, begitu menggiurkan. Karena blimbing mau dimakan sendiri, tujuan para pemanjat blimbing ini bukan untuk membasuh pakaian yang kotor. Tetapi untuk semakin mengotori pakaiannya.

Kita ber-Maiyah berupaya tetap khusyuk Menek Blimbing sesuai dengan yang tercantum dalam syair Ilir-ilir. Bukan untuk dimakan sendiri. Tetapi untuk berbagi satu sama lain. Bukan karena ngoweh atas rasa belimbing yang menghantui pikiran. Tetapi karena nilai yang terkandung dalam punggung blimbing yang berjumlah lima. Bukan untuk mengotori martabat, tetapi untuk membersihkan martabat.

Perilaku orang Maiyah adalah perilaku putus asa atas negeri yang kalkulasi kerusakannya tidak terhitung, namun tidak putus asa atas pertolongan Allah. Kita berkumpul bukan karena gayeng atau latah karena ramai. Tapi berdatangan atas kedaulatan sendiri.

Kita kangen Nusantara di mana apa-apa tidak dilebay-lebaykan. Berbeda itu biasa, tidak perlu mengajari orang lain untuk menerima perbedaan. Mampu menempatkan kata sesuai tempat. Tidak mau menajiskannya. Tidak haus kekuasaan. Kalau pun jadi pemimpin bukan karena keinginanya sendiri. Tetapi karena keinginan-Nya.

Itu semua tidak dilakukan secara grusa-grusu. Tidak seenaknya menabrak-nabrak. Membuat kekacauan. Membuat keonaran. Berpuasa puluhan tahun. Dan akan terus berpuasa sampai Dia menyuruh berbuka. Kalau pun Dia tidak pernah menyuruh berbuka tidak masalah. Toh perjuangan adalah proses, bukan hasil. Yang penting menanam. Biarlah Dia yang membuahkannya.

Wallahua’lam.

Buku Cak Nun