Mengayomi dan Ajak Mikirin Cara Baru Pemilu

Reportase Sinau Bareng “Doa Bersama dan Deklarasi Pikada Damai Jatim”, Surabaya 26 Juni 2018

Dalam Sinau Bareng, ukuran jumlah massa bukan utama betul. Namun keterlibatan, penyuguhan sudut pandang dari yang berbeda itu yang menjadikan Sinau Bareng sangat kaya. Malam itu, di antara beragam bentuk bapak-bapak, dan ibu-ibu juga serombongan pemuda dengan kaos hijau bertuliskan Bonek Maiyah. Tampak cukup banyak suara dan penanya dari yang berusia belia.

Pak Ketua KPU dan Mas Sabrang pun juga diminta terlibat. Di sini kita Sinau Bareng, bukan mendengar satu sumber wacana membabarkan konsep dan kita sami’na wa atho’na tanpa mengaktifkan pikiran. Mas Sabrang menjelaskan soal demokrasi sebagai salah satu ajuan hipotesis yang di masa lalu dianggap paling bisa menyediakan perpindahan kekuasaan tanpa pertumpahan darah. Maka apabila pilkada atau pilpres melanggengkan keributan dan bukannya diskusi berkualitas, maka secara esensi nilai demokrasinya sudah terkhianati.

Aplikasi Opinium, yang baru-baru ini diluncurkan oleh sekelompok generasi muda dan Mas Sabrang pun terlibat dalam prosesnya, adalah usaha minimal kaum muda yang peduli untuk sedikit banyak nyicil perbaikan. Ruang publik kita sedang banyak diisi oleh makhluk antah-berantah, dari yang memang buzzer bayaran, sampai seleb medsos.

Menurut pembacaan saya pribadi, memang di medsos orang pasti mengumumkan dirinya: Mengumumkan kenikmatan maupun penderitaan, kemenangan maupun kekalahan, penegasan posisi kawan maupun lawan. Hal-hal ini yang dirasa sangat ampuh untuk membangun keeratan kelompok via medsos. Perhatikan rata-rata akun dengan jumlah likers-lovers bejibun selalu membangun kesan versi dirinya atau kelompoknya dengan mengolah hal semacam ini. Sehingga jelaslah ketika suatu wacana digelontorkan secara logis akan diamini, dijempol, di-like (istilah kasarnya, dibayar dengan jempol) oleh orang yang memang sudah satu selera sejak awal. Tinggal tambah bumbu kalimat dramatis, tajamkan kesan emosi, tidak boleh tanggung. Pelaku porno di medsos tidak hanya ketelanjangan fisik, tapi juga vulgarnya kata-kata dan gamblangnya aurat emosi kita terbuka.

Pada aplikasi Opinium, jelas Mas Sabrang, poin pentingnya adalah pada capacity building. Sehingga komunikasi dramatisasi semacam ini, rasanya sulit berlaku di aplikasi Opinium.

Opinium adalah aplikasi untuk sinau bareng-bareng, ungkap Mas Sabrang. Penyempurnaan terus dilanjutkan.

Generasi datang dan pergi, tentu. Namun cukup menarik perhatian buat saya melihat beberapa penanya dan respons yang muncul dari hadirin selalu ada pemuda-pemuda berusia belasan. Saya sudah cukup terkejut dengan pemuda berusia 18 tahun yang bertanya dengan tegas bagaimana mengetahui pemimpin itu benar atau tidak.

Namun kemudian muncul lagi seorang pemuda yang baru lulus SMP. Sopan, kromo, menyampaikan salam dari orang tuanya kepada Mbah Nun, namun kendel juga si pemuda belia dengan kepolosan remajanya mengirim salam pada Hayya via Mbah Nun. Jelaslah menuai kemudian sorakan dari hadirin. Situasi Sinau Bareng memang agak jauh dari kesan ningrat spaneng. Saut-sautan selalu mewarnai sepanjang acara, saling menghormati tentu.

Banyak pemuda yang muncul, banyak sahutan, sorakan, tanggapan tapi saya gariskan satu pesan Mbah Nun pada para pemuda itu, kira-kira begini: Bagus usia segitu sudah revolusioner. Tapi dipuasai sek rek. Tahan diri, supaya ndak cepat habis staminanya. Begitu nanti kamu jadi menteri apa presiden, atau atasan, konglomerat atau apapun, punya kekuasaan nah baru keluarkan semua potensi revolusioner-radikalmu. Orang sekarang banyak terbalik, pas muda dan belum punya apa-apa revolusioner, begitu punya kuasa. Ndak revolusioner lagi.

Saya setuju. Puasa, ditahan potensi radikalnya. Supaya radikal lebih tahan lama. Supaya jadi ruang lebih luas dan kebaikan memancar lebih awet, lebih jernih dan lebih jauh jangkauan wilayahnya.

Buku Cak Nun