Mengayomi dan Ajak Mikirin Cara Baru Pemilu

Reportase Sinau Bareng “Doa Bersama dan Deklarasi Pikada Damai Jatim”, Surabaya 26 Juni 2018

Beberapa peristiwa malam itu memang seperti ujian kenaikan tingkat bagi ajian puasa para generasi Maiyah, khususnya yang berdomisili di daerah Jawa Timur. Kerinduan bertemu dan bertatap muka dengan Mbah Nun tentu tidak bisa terpuaskan tanpa mengkhatamkan malam hingga menjelang subuh, seperti laiknya Maiyahan biasanya. Namun oleh Mbah Nun, pertemuan diberi pagar agar jangan sampai terlaru larut pada malam. Sebab kita tahu, hari esoknya adalah hari pilkada berlangsung.

Mbah Nun menganjurkan untuk para hadirin mematangkan betul pilihan sikapnya dalam pemilihan ini. Libatkan Allah dan Rasulnya dalam segala keputusan, tafakkur, pikir yang matang. Harus memilih? Tentu, memilih untuk tidak memilih juga adalah pilihan kan? Hargailah panitia pemilihan, dalam hal ini KPU, dengan menyambangi TPS-TPS. Apa yang anda lakukan di TPS, nah itu urusan sendiri-sendiri.

Begitu penangkapan saya terhadap nuansa malam itu. Pembaca yang budiman tentu wajar bila punya penafsiran yang berbeda. Tidak ada saran berat sebelah dari Mbah Nun sendiri. Generasi Maiyah bukanlah followers “pejah gesang nderek sosok”. Karena pertanggungjawaban pilihan kita pada Allah kita masing-masing Yang Maha Tunggal.

Para hadirin, terutama generasi Maiyah sekali lagi ditegaskan oleh Mbah Nun sebaiknya mandiri mendayagunakan akal pikiran serta menempuh thoriqot masing-masing dalam cara melibatkan Sang Hyang Maha Terlibat ketika memutuskan sesuatu. Dengan begitu, Maiyah tidak sekadar menjadi ornamen, aksesoris, atau perabot bebendaan dalam ruangan yang makin sesak oleh pertikaian, namun justru manusia generasi Maiyah menjadi ruang satu sama lain.

Kalau pembaca yang budiman punya kacamata pandang strategi politik seperti yang saya gunakan malam itu, mungkin pembaca yang budiman (seperti pun saya) dapat melihat secara tersirat bagaimana sesungguhnya Mbah Nun selalu terselamatkan dari ‘jebakan’ komunikasi politik yang akan cenderung menjadi legitimasi. Siapa, apa dan bagaimananya? Sudahlah, semoga hanya dhonn saya saja. Apa sih yang bukan dhonn?

Syukurlah kemudian dua paslon cagub dan cawagub mesti pamit undur diri. Namun disayangkan juga karena mereka tidak berkesempatan menikmati Fragmen (Pil)Kadal yang disiapkan oleh Mbah Nun sejak sebelum acara. Naskahnya bahkan sudah terbit di web caknun.com sebelum acara ini.

Ketika kemudian trio Pak Jijit, Mas Doni, dan Pak Jokam membawakan adegan fragmen tersebut dengan konsep dramatic reading dan diiringi musik oleh KiaiKanjeng, dialog-dialog satir membawa hadirin pada adukan tawa membahana. Tapi bukan sekadar satir, apalagi untuk mengolok-olok. Beberapa bagian dialog juga tampak memberi ajuan alternatif untuk sistem pemilihan.

Misal pada bagian soal pemilihan langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi. Kita dibuat berimajinasi bagaimana asiknya kalau satu saat kita bisa memilih orang yang mau kita angkat jadi presiden atau gubernur melalui SMS, WA, FB dll. Dan boleh mengajukan nama siapapun, entah tetangga, Pak RT, saudara atau siapa saja. Ujiannya tentu kejujuran dan kemampuan pembacaan kita masing-masing. Mungkin juga akan ada masalah dan persoalan. Memangnya sistem pemilihan yang sekarang tidak punya permasalahan? Tapi lumayan untuk nakal-nakal pikiran. Siapa tahu kapan-kapan bisa terwujud dan kita tidak butuh dipilihkan lagi oleh parpol. Sepertinya asik.

Buku Cak Nun