Mengayomi dan Ajak Mikirin Cara Baru Pemilu

Reportase Sinau Bareng “Doa Bersama dan Deklarasi Pikada Damai Jatim”, Surabaya 26 Juni 2018

“Bengi iki ojo nemen-nemen jerone yo rek”. Begitu kalimat Mbah Nun, seingat saya. Semoga tidak terlalu jauh meleset. Keterbatasan pemahaman saya dalam bahasa Jawa (Timuran) membuat kemungkinan salah mengingat detail kalimat sangat bisa terjadi. Tapi saya yakin, semacam itulah pesan Mbah Nun malam itu di halaman kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Jalan Raya Tenggilis No. 1-3 Surabaya.

Ini dikatakan oleh Mbah Nun setelah menyampaikan bahwa untuk generasi Maiyah, Mbah Nun sebenarnya sudah menyiapkan bahan-bahan soal sejarah, konsep negara, demokrasi, peradaban dan lainnya yang bersifat keilmuan. Namun tidak semua hal itu bisa dielaborasi malam itu. Para generasi Maiyah pun tak berkebaratan untuk puasa. Jelasnya, malam itu kita punya tujuan dengan target minimal, yakni warga Jawa Timur tetap terjaga keharmonisan, keguyuban, dan kerukunannya.

Maaf kalau saya pakai kalimat “target minimal”. Itu karena memakai ukuran standard manusia-manusia Maiyah yang saya kenal, yang pada diri mereka guyub, rukun, dan damai itu sudah hal yang sehari-hari mendarah daging. Sampai tidak perlu dinyata-nyatakan karena sudah hampir sama wajarnya dengan hela nafas dan detak jantung.

Tapi memanglah malam itu adalah latihan jurus “meruang” dengan kuda-kuda “puasa” batin bagi para generasi Maiyah.

Anggaplah dasar teorinya begini: semakin sempit ruang, semakin kecil daya tampungnya adalah berbanding lurus dengan semakin besarnya kemungkinan terjadi benturan antar perabot yang (mau) ditempatkan dalam ruang.

Sebaliknya, semakin luas ruang juga berbanding lurus dengan mengecilnya kemungkinan terjadi benturan antar perabot. 

Maka kesimpulan pertama adalah, dalam menghadapi potensi-potensi konflik, kita belajar menjadi keluasan yang menampung.

Namun, rupanya tak kurang tantangan lagi. Setelah berlatih meruang, kita juga diajak lagi oleh Mbah Nun untuk berpuasa dari kedalaman. Jangan terlalu asik dalam lubuk pertapaan. Karena sungguh kita masih mesti mengayomi perabot-perabot yang rentan sekali terpecah belah belakangan ini. Memecahkan berarti membeli, bukan? 

Agak sulit memang. Sudah perabotnya rapuh-rapuh, ruang batin-publik makin dipersempit ujaran-ujaran tanpa rupa, eh ketambahan pula orang masih berhasrat menambah-nambahi perabot-perabot baru yang tambah bikin sesak.

Meruang mengasah kemampuan kita agar mampu menampung ragam hal. Seperti sebaran seseruan via medsos, dakwah-dakwah tanpa pengasihan, anjuran, fatwa, perpres, kepres, pilpres, pilkada, NU, Muhammadiyah, HTI, NKRI harga mati-matian, hingga Islam Nusantaraan. Dan entah berapa banyak lagi perabotan yang siap saling tumpah-tindih-tabrak.

Mempuasai kedalaman, menajamkan kepekaan agar kita mampu tetap memanajemeni segala sesuatu sesuai pada porsi dan maqomnya. Bukan bersikap menolak dan anti ini-itu.