Mengatur Diri Tanpa Diatur

#65TahunCakNun

Negara tidak perlu datang, dan kalau bisa memang jangan datang, pada event yang sangat membahagiakan ini. Tak perlu NKRI, presiden, menteri, gubernur atau sejenis itu dalam “Menyorong Rembulan”. Mereka tidak akan kuat, biar Maiyah saja. Biar yang masih menjadi manusia saja.

“Maiyah adalah pasca negara”, ujar Mbah Nun dalam acara puncak pada malam 28 Mei di Menturo. Bahwa bentuk negara seperti yang kita kenal sekarang ini tentu tidak abadi. Belakangan, negara modern seperti NKRI pun tampak sudah mulai kewalahan untuk membuktikan pentingnya dan relevansi keberadaannya untuk hidup manusia. Reportase mengenai acara pada tanggal 28 Mei, akan menyusul. Kita jalan-jalan di sekitar lokasi acara saja dulu.

Sejak sebelum tanggal 27 Mei 2018, sudah tak terhitung jumlahnya JM yang meramaikan lokasi di sekitar Menturo. Walau ada beberapa orang dari Jamaah Padangmbulan yang turut menjaga ketertiban acara, namun jelas tidak ada regulasi formal dalam mengatur ribuan orang di tempat ini.

Beberapa bangunan SMK Global jadi tempat transit, persinggahan dan penginapan sederhana bagi para pejalan Maiyah yang membutuhkan tempat berteduh.

Para pejalan Maiyah ini bahkan ada yang sudah membawa kompor dan peralatan masak sendiri. Konsumsi sebenarnya juga sudah disediakan. Buka puasa di lapangan terbuka bersama sedulur-sedulur JM kala itu rasanya akan jadi kenangan yang tidak akan terlupakan.

Persoalan di antara para ibnu sabil berkenaan dengan merokok dalam ruangan, jagongan yang terlampau membahana dan sejenis itu, kemudian diselesaikan sendiri tanpa perlu ada pengaturan apa-apa. Persoalan muncul adalah wajar. Bagaimana menyelesaikan persoalan itulah kemudian kualitas manusia diukur. Rasanya, beberapa hari hidup bersama, berbagi MCK, tempat tidur, begadang bareng, sahur sampai buka bersama dan sebagainya, adalah latihan singkat bagi JM untuk mengelola hidup bebrayan. Mengatur diri tanpa diatur. Latihan hidup tanpa negara.

Pengaturan pelapak dan penjual juga bisa kita perhatikan. Ada batas wilayah yang diperbolehkan berjulan. Namun bagi pribumi yang memang tinggal di situ, hak untuk berjualan tentu tidak diganggu. Bahkan kalau sang empunya lahan mau berbagi lahan jualan, itu juga bisa. Maka itu bisa kita lihat misal, di depan warung penjaja bakso ada mbah-mbah yang jualan pecel di satu pekarangan.

Segalanya mengatur-ngatur diri tanpa perlu pemerintah, pengaturan dan peraturan.

Masjid dipenuhi Jamaaah Maiyah yang berniat melaksanakan sholat isya’ dan tarawih berjamaah. Yang memilih tidak melaksanakan tarawih juga tidak ada paksaan. Santai saja. Para JM cukup tau diri bahwa walaupun mereka sekarang berposisi sebagai mayoritas di masjid, namun tak satu pun yang berniat ‘mengkudeta’ posisi imam. Tidak, warga sekitar tentu sudah punya imam yang mereka percayai. Walaupun feels like home tapi kita tetap tamu di kampung orang. Bapak pribumi Menturo yang duduk paling depan cuma bilang bahwa imamnya belum datang. Jadi menunggu.

Namun hingga lebih dari 15 menit pak imam tidak juga menampakkan diri. Akhirnya dimintalah persetujuan bapak pribumi Menturo paling depan itu, apakah mau mengimami. Beliau tidak bersedia dan menyarankan agar imam dipilih dari salah satu jamaah saja.

Ini tantangan sendiri. Tidak sedikit JM yang berada di masjid ini. Berusia cukup sepuh, jadi cukup layak mengimami. Juga tidak semua saling kenal tentu saja. Beruntung seorang jamaah muda mengenali bahwa di tengah kita ada seorang sesepuh yang juga sahabat Mbah Nun yang jauh-jauh datang dari Lampung. Iya, beliau Pakde Mus. Sejak tadi hampir tak ada yang menyadari keberadaan beliau. Akhirnya kesepakatan dicapai, Pakde Mus mengimami sholat.

Konsep mekanisme pengangkatan imam, rasanya memang beda dengan demokrasi modern di mana seorang pemimpin mesti meminta, mengemis, memamer-mamerkan diri agar dikenal dan dipilih. Bila kemudian demokrasi modern tidak pernah melahirkan kualitas kepemimpinan yang manusiawi dan berkualitas, ya itu wajar karena sejak mula pemimpinnya harus bersikap ngemis. Sedangkan dalam pengangkatan imam, yang paling mengajukan diri tentu adalah yang paling tidak layak. Namun ketika jamaah bersepakat mengangkat imam, orang yang dipilih juga tidak bisa mengelak dan menolak amanah. Begitulah kemudian, Pakde Mus yang terdeteksi radar JM menjadi imam tanpa menampilkan diri sebelumnya.

Bacaan Surah Pakde Mus dalam sholat sangat nyaman. Cukup cepat namun tidak terburu-buru. Tartil terjaga dan lagunya tidak berlebihan. Serba pas dan menyenangkan. Delapan rakaat seperti lazimnya Muhammadiyah. Dilengkapi witir dua plus satu yang lazim ditradisikan kawan-kawan NU.

Semua benar, semua pilihan baik, tinggal dijadikan keindahan. Setelahnya Pakde Mus memimpin doa. Dengan kalimat-kalimat terbaik agar Mbah Nun dikaruniai keberkahan, kesehatan, kebahagiaan. Dan selalu dalam penjagaan serta lindungan Allah Swt. Doa yang diamini dengan banter dan sepenuh-penuh ketulusan oleh para JM.