Mengaktifkan Teknologi Eling Bèn Waspodo

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Oktober 2018

Setidaknya pada era Hindia-Belanda, tanah dan lingkungan masih menjadi bahasan serius. Ketika heboh kasus Samin Surosentiko, residen terkait mengirim surat untuk meminta nasihat dari Snouck Hurgronje. Jawaban Snouck bisa kita lihat pada surat-suratnya, bahwa Samin hanya boleh ditindak keras apabila dia menerabas hutan lindung. Selama dia tidak mengganggu lingkungan, Snouck meminta agar Samin Surosentiko tidak diapa-apakan.

Pensikapan pada Suromentiko baru terjadi ketika keluhan residen itu datang untuk kali kedua. Itu persis seperti masukan pertama Snouck untuk pemerintah Hindia-Belanda agar melepaskan puluhan kiai, pemimpin tarekat dan pesantren yang sedang ditangkap. Itu terjadi di awal kedatangannya ketika sedang merebak kasus kerusuhan di Banten dan beberapa wilayah. Snouck bersedia menjadi penjamin bahwa mereka bukan orang berbahaya. Ini bukan mau mengherokan Snouck, tapi setidaknya soal lahan alam dan lingkungan masih betul-betul dianggap penting saat itu.

Kalau kita perhatikan bangunan gaya rumah kolonal, dia seringnya secara arsitektur menyesuaikan pada bentuk sekitarnya, sehingga mau tidak mau dia sedikit menyerap tropisnya Jawa. Beda dengan arsitektur sekarang yang tampaknya berdiri dengan prinsip asal indah, tidak cocok dengan bangunan dan alam di sekitar juga tak mengapa. Hal seperti ini tidak kita temukan lagi sekarang bukan saja dalam kebijakan. Bahasan di kalangan pemangku kebijakan pun dia tidak muncul di permukaan. Sebenarnya siapa sih penjajah kita selama ini?

Mbah Nun nampaknya sempat memberi pemahaman bahwa “Salah satu efek lupa adalah ketidaktepatan dalam memberi arti dan makna terhadap kata-kata.” Belakangan saya sedang mencari tahu apa sebenarnya arti kata penjajahan? Apakah status atau bagaimana? Kenapa tampaknya tidak begitu ada beda antara Hindia-Belanda dan NKRI? Apakah kalau bentuknya berubah tapi substansinya sama dia jadi bukan penjajahan? Semuanya masih pada taraf pencarian.

Mbah Nun juga sempat menyampaikan bahwa leluhur kita telah jauh hari mewaspadai bahaya dari lupa ini dengan memperingatkan agar kita “eling lan waspodo.” Sayangnya kalimat ini oleh manusia modern diartikan dengan sangat dangkal, padahal dia punya makna yang sangat dalam dan jauh ke depan. Malam ini, saya sendiri kurang waspodo sehingga jatuh ketiduran, saya coba hubungin kawan saya Mbak Yana mengenai apa yang ditangkapnya dari Sinau Bareng malam ini. Baginya Mocopat Syafaat kali ini membuat dia lebih memahami untuk fokus pada persolan dan lebih berwaspada dalam menentukan langkah-langkah yang prioritas.

Dan seluruh pembahasan mengenai hubungan manusia dengan alam malam ini, oleh Mbah Nun diletakkan dalam kerangka Nidhomus-Sunnah, sistem pengelolaan sunnatullah yang merupakan tingkatan paling rendah pada An-Nidhom Al-Komsah. Dan untuk mengurusi sunnatullah ini saja, manusia belum lulus, banyak keliru-keliru. Apalagi tingkatan-tingkatan berikutnya: Nidhomul-Qudroh, Nidhomul-Karomah, Nidhomus-Syafa’ah, dan Nidhomut-Tajaliyyah. Elaborasi mengenai lima Nidhom ini, silakan pembaca yang budiman menyimak di Maiyahan-Maiyahan selanjutnya. Begitu informasi yang saya serap dari Mas Jamal.

Tanpa sadar, itu malah jadi nasihat untuk diri saya. Saya juga perlu lebih waspada agar jangan sampai terulang kekurangwaspadaan dan jatuh tertidur seperti ini lagi. Masih dengan kucek-kucek mata saya keluar dari musholla ketika Mocopat Syafaat telah dipungkasi oleh Takbir Akbar dan doa bersama. Di luar pagar ketemu Om Ma’ruf, yang langsung “Woo kudune bikin reportase malah turu,” yah tambah guilty feeling jadinya. Memang kita perlu waspodo.