Menempuh Sunyi Substansi Menerobos Dikotomi

Majalah Panjimas edisi No. 388 Tahun XXIV – 16 Jumadil Awal 1403 H – 1 Maret 1983 menghadirkan liputan berjudul “Mengislamkan Seni yang Tidak Islami”. Ini liputan atas acara diskusi panel “Seni Islam di Tengah Kemodernan” yang digelar di Masjid Salman ITB Bandung oleh Yayasan Salman.

Mbah Nun adalah salah satu pembicara yang diundang selain Ali Audah dan Yustiono. Pada konteks masa itu, terdapat sedikit kegelisahan di kalangan seniman muslim atau pemerhati seni, mengapa dalam praktiknya seni yang hadir dalam keseharian umat Islam itu identik dengan Arab.

Kegelisahan itu mendorong munculnya pertanyaan reflektif tentang apakah sebenarnya yang menjadi karakter utama seni yang disebut Islami, atau apakah ada seni Islam itu sendiri, atau juga apakah seni Islam itu tergantung dan bergantung pada bentuk-bentuk yang tampak saja.

Lebih mendalam lagi, apakah seni Islam itu dikatakan Islam lebih dengan melihat form-nya ataukah isi, muatan, dan sifat, serta pesan yang dikandungnya, dengan segala implikasinya tentunya. Pertanyaan-pertanyaan seputar itulah yang coba dibahas dalam diskusi itu. Menurut laporan liputan itu, acara sangat dipadati hadirin dengan segala antusiasmenya. Hal yang menandakan betapa diskursifnya situasi pemikiran saat itu.

Membaca liputan yang telah berusia 35 tahun itu, saya menemukan satu hal bahwa jika dilihat dari angle tertentu tampaknya yang terjadi adalah sekadar menyandingkan “Islam” dengan kata lain, misalnya penyandingan itu menjadi Ekonomi Islam, Budaya Islam, Pers Islam, termasuk Seni Islam, tetapi bila diselami lebih jauh bukanlah hal yang sederhana. Apalagi Politik Islam atau juga Negara Islam. Di balik semua komposisi dua kata itu terdapat sejarah dan pergulatan panjang dalam diskursus terkait, termasuk yang mengkritisi kecenderungan menyandingkan kata lain dengan ‘Islam’, termasuk turunannya: Islamisasi dan Islami. Dan yang semakna: Syar’i.

Merupakan paparan dan diskusi yang panjang juga buat menguraikan masing-masing persandingan itu, namun bila dilepaskan dari konteks politik pengetahuannya (siapa mendefinisikan apa, siapa melabeli apa, dan konteks relasi-relasi dalam dunia global) yang melingkupinya, kita bisa mendapatkan dua kutub di mana pertarungan dan tantangan bagi umat Islam itu bergerak-gerak. Kutub yang satu adalah bentuk atau identitas dan kutub satunya lagi adalah isi atau substansi.

Dalam era kemodernan, menyandingkan “Islam” pada kata lain merisikokan Islam sebagai identitas, merk, dan brand, yang karena Islam mengandung nilai-nilai maka penyandingan itu juga menuntut diterapkannya nilai-nilai Islam itu. Sementara bergerak pada wilayah substansi bisa membikin orang tak mengerti dan tak mau belajar memahami sesuatu yang berada di balik yang tampak, bahwa misalnya suatu bentuk atau praktik itu mengandung esensial sikap Islam atau muatan Islam, sehingga kadang yang bergerak itu juga tak kuat sendiri akhirnya, sehingga kemudian memilih short cut saja ke identitas-identitas.

Pandangan Mbah Nun, seperti dikutip dalam liputan itu, mengajak mata hadirin dan kita semua untuk melebarkan pandangannya tetapi juga menukik ke esensi bahwa semua seni bisa dikatakan seni muslim manakala mengemukakan nafas dan semangat Islam. Untuk bergerak ke kemampuan itu, memang dibutuhkan kemauan dan bukan kemalasan. Kata Mbah Nun, umat Islam harus menjadi subjek, dan bukan objek tambang emas. Subjek yang kreatif mencipta, bukan mengkonsumsi belaka produk-produk seni-massa modern yang tidak mendidik.

Selain itu, menurut beliau, umat Islam harus bangun dari keterlelapannya dari hanya mengurusi hal-hal peribadatan formal. Di sini, kuat terasa bahwa perhatian Mbah Nun tertuju kepada pembangunan umat Islam itu sendiri, hal yang sampai 35 tahun kemudian masih dilakoninya hingga saat ini.

Maksudnya, Mbah Nun tidak hanya berbicara, melainkan mengerjakannya. Bahkan jika dirasakan lebih jauh, kita bisa melihat bahwa dikotomi identitas-substansi, bisa kurang berlaku pada Mbah Nun. Kreativitas yang dikerjakan sejak dulu bersama para seniman dan teaterawan, KiaiKanjeng, dan juga komunitas-komunitas yang sampai detik ini masih diayominya, juga tulisan-tulisan beliau, formula-formula Sinau Bareng, semuanya sepertinya tak cukup untuk diteropong melalui dikotomi itu. Nggak bisa dikatakan belaka Mbah Nun itu Islam Substansialis lho!

Frame-nya bukan dikotomi dan kategori-kategori seperti yang lazim kita jumpai dalam pembacaan-pembacaan akademis. Pada awalnya, secara substansial, nilai-nilai Islam dan nilai-nilai universal kebajikan manusia coba diekspresikan dalam semua kreativitas yang beliau lakukan, dan saya kira orang tak sulit menemukan hal ini.

Tetapi selanjutnya orang juga tak sulit melihat bahwa Mbah Nun adalah seorang muslim, tetapi yang lahir dari pergerakannya bisa diserap secara meluas oleh siapa saja secara universal, bahkan malahan tak jarang orang non-Muslim ingin mengenal (mendengar) Islam melalui Mbah Nun. Atau, orang-orang yang, maaf, tidak dibesarkan dalam tradisi santri merasa lebih nyaman belajar Islam dari Mbah Nun. Juga, orang-orang elit yang karena nggak mungkin belajar dalam cara umumnya, lebih merasa cocok diam-diam belajar Islam kepada Mbah Nun.

Substansi dan bentuk bisa di-manage dengan baik oleh Mbah Nun tidak dalam perdikotomian, melainkan dalam keseimbangan dengan kanan-kiri. Dalam situasi di mana kita lebih suka menonjolkan identitas-identitas, Mbah Nun mengajak kita untuk kalau bisa tidak menjadikan Islam dan konsep-konsep utama dalam Islam sebagai identitas kelompok, karena pada hakikatnya itu milik semua. Kalau diambil satu kelompok saja, kelompok-kelompok lain menjadi terkekslusikan. Kalau mereka mau melakukan ini, toh orang akan bisa menangkap ada atau tidaknya nilai dan praktik Islam itu dari jalur lain, yaitu dari perilaku kita sendiri. Maka, sejumlah forum-forum yang dirintis Mbah Nun secara naluriah Beliau diambil dan diberi nama yang tidak “ngepek” atau mengklaim Islam untuk diri sendiri. Sebut saja misalnya: Padhangmbulan, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta. Ada juga yang lebih kreatif kombinatif antara Jawa dan Islam: Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat.

Sementara pun, jika ada unsur-unsur yang bisa disebut Arab, Jawa, Barat, Klasik, Jazz, Modern, Etnik–dalam musik misalnya–, atau yang lain-lain, semuanya tidak dinegasikan, melainkan dikelola untuk dibawa menuju nilai-nilai yang lebih tinggi: pengetahuan yang luas, kekayaan khasanah, kelengkapan manusia, saling pemahaman, kemesraan antar manusia, dan gerak mendekat kepada Allah. Ada ekspresi yang murni Islam misalnya dzikir dan shalawatan, tetapi semua bisa diterima karena diletakkan pada tempat dan momentum yang tepat, dan diletakkan pula dalam orkestrasinya dengan unsur-unsur lain dari jiwa manusia sehingga lebih utuh dan lengkap.

Menyimak foto dan liputan dalam Panjimas itu, terlihat satu titik, yang tentunya sudah dimulai sebelum-sebelumnya, yang sampai detik ini masih berjalan pada diri Mbah Nun yakni konsistensinya dalam menghadirkan Islam yang seperti itu, yang menerobos kejumudan dikotomis, yang seimbang dan urip dalam me-manage antara isi dan bentuk, antara dapur dan ruang tamu, antara dalam dan luar, antara kebenaran dan kebijaksanaan. Sayangnya, jalan ini terbilang sunyi. Sebab, di luar, keriuhan yang berlangsung bukanlah diskursus-diskursus, melainkan pelontaran-pelontaran satu arah, yang pencapaiannya makin menyuguhkan gambar grafik menurun dari manusia: ialah manusia dipreteli kelengkapan kemanusiaannya, sehingga tak lagi tahu di mana meletakkan seni atau keindahan dalam diri manusia dan peradabannya.

Yogyakarta, 22 Maret 2018