Meneliti Zaman dari Balkon Maiyah

Bagiku istilah menara gading ditujukan bagi mereka yang mendalami keilmuan melalui jalur formal. Baik melalui disiplin akademis di bangku sekolah maupun disertai penempaan spiritual ala pesantren. Kedua tempat tadi seolah punya segmentasi market yang sendiri-sendiri. Bukan status sosial, kemampuan ekonomi, atau latar belakang budaya sebagai konstanta, melainkan output ketika dientas dari Kawah Candradimuka itu. Dilihat kadar kesanggupan melawan dirinya, entah sebagai pemenang lakon Bima Suci atau malah terpedaya perintah guru yang berniat membunuhnya.

Jika ingin sekuler dengan membatasi keterlibatan Tuhan di keseharian tinggal pakai logika khas para sarjana. Mau melihat dengan sudut pandang Tuhan meski kadang kurang realistis ala santri juga diperbolehkan. Sama halnya dengan perguruan silat, tiap guru memiliki jurus rahasia dan tirakat masing-masing. Tidak ada yang salah, meskipun idealnya proses pendidikan dibuat untuk menemukan cetakan tiap manusia sesuai takdir dari Gusti Allah. Toh pada akhirnya yang dilihat adalah akhlak di keseharian, pola hubungannya dengan Gusti Allah dan makhluk-Nya.

Adapun Maiyah menurutku bukan keduanya. Maiyah tidak memiliki kurikulum, tidak memiliki batasan selain hanya harus meng-Islam-kan atau mengamankan siapa saja yang di sekitar kita. Disiplin bukan digariskan oleh sistem maupun nilai dengan ketat tapi sifatnya lentur, tiap jamaah maiyah punya batasan individu. Kalaulah Maiyah menyarankan jamaah untuk menemukan dirinya tidak bersifat mengikat. Tiap jamaah berdaulat apakah akan serius menemukan tujuan penciptaannya atau sekadar menumpang bahagia saja. 

Ada yang sadar asap rokoknya merugikan tetangga duduk sampai kenakan masker, ia segera pindah posisi. Atau ketika maiyahan menerima pembicara yang membahas tentang apa saja, ikhlas didengarkan dan disimak. Walau kadang ada yang mbulet di situ-situ saja tetap duduk dengan tenang. Apalagi saat sesi tanya jawab, menertawakan sesama jamaah sudah wajar muncul. Si penanya tak merasa tersinggung meski terkesan digoblok-goblokkan, jamaah juga bahagia sudah dijamu alasan pembuat tawa. 

Coba kalian teliti kembali apa yang sebenarnya dimaksud. Ukur kembali semua komponennya, dengan kejernihan nalar, disiplin logika, pemetaan sosial dengan landasan ilmu yang sejujur-jujurnya dan setepat-tepatnya”. –Daur II-299Duduk di Balkon Zaman

Duduk dalam judul esai itu seolah menggambarkan posisi berpikir paling mendalam. Ia tidak berdiri, sujud, atau malah berbaring. Adapun balkon bisa dimaknai sebagai titik tengah antara menara gading dengan jalanan. Zaman sendiri ibarat lalu-lalang di jalan yang silih-berganti baik tokoh, latar, maupun tema yang hadir.

Dari kutipan di atas terkesan Mbah Nun mengajak Jamaah Maiyah untuk luangkan waktu dan tenaga barang sebentar. Tumakninah dalam kehidupan, memberi jeda sembari memberi makna. Bisa dengan nalar, rasa, bahkan yang tak bisa tergambarkan kata-kata. Jika tidak bisa setiap hari diganti setiap minggu, terpaksanya sangat sibuk jadi sebulan. Kalau selamanya tidak sempat, setidaknya sekali seumur hidup. Jangan menganggap amal ini sia-sia walau “Semua yang kita lakukan ini sekadar meneliti dan mencari kunci rahasia, yang mereka semua tak memerlukannya”.

Lantaran Maiyah memang bukan bagian dari menara gading yang terkesan jaga jarak dari realitas keseharian, posisi yang diambil adalah balkon. Maiyahan adalah proses menarik diri dari keriuhan jalanan yang tiap hari dijumpai baik melalui kerja, belajar, sampai interaksi sosial dengan siapa saja. Di atas balkon, seseorang bisa menyapa yang lewat di bawahnya. Jika tidak kenal sekalipun bisa melempar senyum dan melambaikan tangan. Bahkan saat malam datang, balkon sangat tepat jadi pos ronda yang mengawasi sunyinya kegelapan.

Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka yang menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat petunjuk”. Surat An-Naml ayat 24 ini memberi peringatan bagi yang melihat dari balkon untuk tetap waspada. Bisa saja dari atas balkon terlihat seseorang memberi sedekah pada pengemis, rupanya sebelumnya ia terlihat mencopet dompet pembeli kaki lima tak jauh dari si pengemis. Setan yang tak lain adalah kecenderungan diri sendiri berbuat keburukan seringkali butakan manusia untuk menilai baik-benar, apalagi untuk indah-jelek. Di zaman pencitraan ini bahkan dengan mengamati dari balkon saja harus jeli.

Fenomena di sepanjang jalan bernama zaman itu “yang paling tercium adalah kenyataan terus-menerus betapa Tuhan diremehkan”. Seolah agama hanya perkara mendirikan rukun Islam, itupun seringkali hanya di permukaan saja. Memang tidak bisa disalahkan sebab tingkatan tiap pemeluk agama berbeda satu dengan lainnya. Hanya saja kecenderungan kesampingkan Tuhan hampir merata di banyak agama-agama. Utamanya diserbu pengaruh cinta dunia dan takut mati. Ingin harta, kuasa, bahkan wanita dengan cara instan. Bukan lagi tentang aji pesugihan, digdaya, atau pengasihan, melainkan tiap gerak pejalan zaman diniatkan dan ditujukan hanya untuk keduniawian.

Harapan Mbah Nun barangkali dengan duduk di atas balkon itu menjadikan kita menjadi semakin ingat dan waspada. Dalam istilah Quran-nya makin bertakwa. Bukan lagi hanya sebagai bentuk pengabdian pada Gusti Allah, tapi juga wujud syukur telah dilahirkan di penghujung zaman di mana Dajjal konon sudah menjelma melalui teknologi. Tentu saja agar tak lantas larut dalam gegap gempita zaman talbis, hina dianggap mulia, terpandang malah ditendang. “Kita siap siaga dengan segala peralatan, tetapi kita duduk di balkon zaman menatap alur waktu hingga 2019, 2024 dan seterusnya”.

Jika dirasa jamaah maiyah belum merasa kuat duduk di balkon dengan berbagai konsekuensi: meneliti, mengawasi, sembari sebisa mungkin berinteraksi dengan yang diamati, berada di jalanan pun tidak jadi soal. Tidak ada tuntutan dalam maiyah, baik dari Mbah Nun maupun penggiat simpul. Tiap jamaah berdemokrasi untuk tentukan yang terbaik bagi dirinya. Terpenting ketika waktunya tiba untuk mengatur jalanan, jamaah maiyah selalu siap sedia.

Bagiku istilah menara gading ditujukan bagi mereka yang mendalami keilmuan melalui jalur formal. Baik melalui disiplin akademis di bangku sekolah maupun disertai penempaan spiritual ala pesantren. Kedua tempat tadi seolah punya segmentasi market yang sendiri-sendiri. Bukan status sosial, kemampuan…