Mencari Dewan Sepuh

Mukadimah Majelis Gugur Gunung Juli 2018

Mencari…….

Kesadaran yang perlu dibangun untuk “mencari”, salah satunya adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang “hilang”. Dan semangat yang dibutuhkan dalam sebuah pencarian, adalah semangat untuk menemukan kembali apa yang telah hilang.

Mari kita data, apa-apa saja yang mulai hilang dari diri kita, dan lingkungan sekitar kita, baik pada lingkup kecil sampai luas. Mari juga kita teliti, apa-apa saja penyebab dari sekian banyak kehilangan tersebut. Upaya mencari di tengah-tengah fenomena upaya upaya penghancuran/perusakan adalah sesuatu yang berat dan sulit, namun harus terus ditempuh, sebelum segala sesuatunya benar-benar hilang.

Dewan Sepuh……

Berangkat dari meneliti sesuatu yang hilang kemudian beranjak pada fenomena kerusakan dan kehancuran. Maka kini coba kita berangkatkan dengan satu bekal ayat yang meski tidak secara eksplisit berbicara tentang dewan sepuh, namun mudah-mudahan bisa menuntun kita memahami tentang apa itu relevansi Dewan Sepuh, bagaimana memilihnya, dst…

Berikut ayatnya: “Patutkah Kami menganggap orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad: 28)

Mari kita tadaburi ayat tersebut dengan pancatan pertanyaan berikut:

Taqwa dan Maksiat, mana yang lebih tua? Bila kita teliti dari proses penciptaan, taqwa tercipta lebih dahulu, berarti taqwa lebih tua. Meskipun sesungguhnya kita tak mampu mengukur tingkat ketaqwaan seseorang, namun kita tetap berada dalam sebuah anjuran untuk memproduksi kemanfaatan sesuai daya jangkau dan nalar yang bisa kita pahami, di mana kemanfaatan tersebut diniatkan untuk menyambung kemesraan kepada Tuhan. Supaya sebagai ciptaan Tuhan, kita sedang mengakui dan membuktikan bahwa Tuhan tak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.

Bila dikaitkan sama pengertian pada bahasan bulan sebelumnya, salah satu cara nggayuh Taqwa yaitu dengan cara puasa. Nah, puasa yang baik itu yang bagaimana?

Intinya tidak menyia-nyiakan. Maka kemudian akan timbul pertanyaan: Bagaimana cara berpuasa waktu? Adalah dengan tidak menyia-nyiakan waktu. Bagaimana berpuasa terhadap makan? Adalah dengan tidak menyia-nyiakan makan. Bagaimana berpuasa bicara? Adalah tidak menyia-nyiakan bicara. Dan seterusnya.

Jadi puasa adalah tentang efisiensi, tentang kemanfaatan, tentang kendali. Jika penyia-nyiaan adalah serta-merta merupakan perilaku sia-sia, maka sia-sia adalah batal atau batil. Pada kondisi batal, meskipun seseorang masih bisa meniru gerakan sholat dan berada di tengah jamaah, namun sesungguhnya sedang menjalankan perilaku jasad saja dikarenakan tidak memenuhi syarat rukun sesuci.

Sebuah Fenomena (Saripati)

Dari rabaan dan irisan-irisan di atas, maka sebagai saripati awal tentang Dewan Sepuh adalah sekumpulan orang yang mengedepankan manfaat. Manusia/tokoh yang disebut sepuh adalah manusia yang taqwa, yang tindak-tanduknya senantiasa mengakurasi kemanfaatan, efektif dan efisien, baik terhadap diri sendiri maupun kepada yang lainnya. Tidak sia-sia, tidak batal apalagi batil.

Orang beradu pendapat tentang batal dan tidak batal, lalu berlanjut menjadi perdebatan atas perlunya wudhu lagi atau tidak, Mbah Nun pernah menyampaikan, kurang lebih:

Wudhu kui solusi, ketika kita sedang bingung batal opo ora, perlu wudhu opo ora, ha mbok yo wudhu wae, wong wudhu kui apik… Kui solusi, dudu malah diperdebatkan”. Wudhu itu solusi, ketika kita sedang bingung batal atau tidak, perlu wudhu atau tidak, ha mbok ya wudhu lagi, kan wudhu itu bagus… itu solusi, bukan malah diperdebatkan.

Manusia/tokoh yang disebut sepuh bukan ditilik semata dari tolok ukur ia lahir lebih dahulu atau belakangan. Melainkan karena pada seberapa benderang laku lampahnya untuk tetap ingat dan waspada pada awal/pada pulang. Apabila ada purnama, seterang apapun purnama ia akan sirna kecemerlangannya dengan mendung tebal atau gerhana. Purnama ibarat iman, dan amal saleh, benderang dan dirindukan. Sedangkan mendung tebal ataupun gerhana adalah perilaku yang menghendaki mengedepankan kegelapan dan membelakangkan cahaya. Dewan Sepuh adalah orang-orang yang senantiasa meneruskan tradisi pepadhang dengan menguji, mengajari (patatar), dengan nasehat dan kebijakan, mengingatkan secara telaten (patitir), dan dengan memberi contoh perilaku (patutur). Tentu saja tatar, titir, dan tutur tentang bentuk ketaqwaan kepada Tuhan.

Majlis Gugur Gunung bulan ini mengajak memikirkan dan menyadari atas suatu aset yang sesungguhnya mulai terbenam, siap tenggelam dan hilang. Salah satunya adalah fenomena masyarakat yang semakin enggan mengakomodir yang sepuh, juga enggan menjadi sepuh, namun tetap berharap dunia mengingat, mengenal, mengikuti dan kelak mengenangnya. Rata-rata menempuhnya dengan jalur sosial maya. Mari terus kita dadar diri guna memenuhi kebutuhan keseimbangan tua-muda dalam peradaban. Silakan hadir di MGG bulan Juli untuk menambah catatan kecil pada mukadimah ini menjadi catatan yang lebih lengkap lagi, sebagai referensi pencarian kita bersama untuk menemukan kembali “Dewan Sepuh” yang bisa jadi tidak harus berada di luar sana.

Mencari……. Kesadaran yang perlu dibangun untuk “mencari”, salah satunya adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang “hilang”. Dan semangat yang dibutuhkan dalam sebuah pencarian, adalah semangat untuk menemukan kembali apa yang telah hilang. Mari kita data, apa-apa saja yang mulai hilang dari diri…