Menapaki Keterasingan

Saya lupa sejak kapan gantung helm cakil. Pelindung yang sudah tak terhitung jumlahnya diizinkan Gusti Allah cegah kebocoran kepala dari benturan dengan aspal atau bebatuan. Begitu juga dengan jaket kuning yang sudah sobek di sana-sini tapi masih layak dipakai meski ada jejak aspal di antara lubang-lubang. Kupensiunkan alat-alat touring jarak jauh dalam kardus berlabel masa muda.

Dulu tak ada yang bisa membuatku mundur dari tujuan touring. Kerusakan teknis bisa diakali entah dengan apa. Bencana alam bisa dilewati bagaimanapun caranya. Dan mental memang diberani-beranikan. Siang-malam di jalanan menempuh hari demi hari dalam kilometer yang terus bertambah, adalah kebanggaan. Jangankan hantu, aparat negara saja mungkin segan. Sebab desingan peluru, ledakan ranjau, apalagi begal para perantau, tak dijadikan sebagai sumber kekhawatiran.

Padahal waktu itu belum membaca buku Mbah Nun berjudul Markesot Bertutur Lagi. Di dalamnya ada esai berjudul “Road of Silence”. Begitu membaca hasil telaah Markesot, langsung klop dengan yang ditemui di sepanjang perjalanan. Misalnya begini, Mbah Nun lewat Markesot menulis, “Kita berada pada jarak terhadap segala sesuatu ini sehingga kita punya perspektif untuk menyaksikan dan menilainya.” Ketika kita ada di antah berantah, akan nampak jelas fungsi akal dan spiritual. Pertempuran keduanya akan sangat terasa dengan resiko kenyamanan sampai kadar fatal, hilangnya keamanan. 

Pertaruhan yang tidak mudah meski harus diambil pada titik tertentu. Alhamdulillah, Puji Tuhan, sampai sekarang saya masih punya fisik utuh. Bisa selamat dari kecelakaan-kecelakaan mematikan bermodal sumeleh pada takdir Gusti Allah. Berujar “Allahu Akbar” tiap mau jatuh mungkin memaksa para malaikat “jumpalitan” amankan organ-organ pentingku. Bak alien di planet baru, tentu hanya Tuhan yang dijadikan kawan. Kemunculan manusia di petualanganku bak Siti Hajar yang “ndlohom” begitu muncul air di bawah kaki Ismail.

Dalam esai Mbah Nun itu ada kalimat, “Karena hanya orang-orang terasing yang memiliki kemungkinan untuk secara objektif menilai keadaan zamannya.” Bisa jadi semua jalan-jalan nekatku itu hanya sia-sia jika tak bertemu buku Mbah Nun ini. Flashback, aku sadar ada kemurnian-kemurnian yang selama ini dicap punah justru hadir di lokasi jauh dari jangkauan sinyal telepon seluler. Masyarakat yang begitu memuliakan pohon sebagaimana Kanjeng Nabi dengan larangan menghancurkannya saat perang maupun haji untuk tak ganggu makhluk itu masih ada. 

Ingat saat seorang Wali Songo mampu buat Brandal Lokajaya taubat hanya gara-gara mencabut rumput tanpa sengaja? Di luar dunia modern kita, masih ada kelompok-kelompok orang yang untuk ambil hasil hutan liar saja harus izin pada si empu. Misal hendak memetik kelapa muda, yang dilakukan lebih dulu adalah meminta kerelaan si pohon atas buah kelapanya. Bandingkan dengan kita yang hidup di kota-kota dengan busungkan dada klaim diri sebagai yang berpendidikan dan berkemajuan tapi buang sampah ke saluran air.

Tapi rasanya mustahil jika tiap kita lakukan perjalanan, menempuh jalan kesunyian. Apalagi dimassalkan seperti mudik, bisa malah punahkan istilah keterasingan. Akan lebih baik jika para pejalan berbagi pengalama. Para penyimak bisa mencecap dan membagikan hikmah yang didapatkan. Anggap saja menapaki keterasingan ini seperti fardlu kifayah. Satu manusia cukup untuk gugurkan kewajiban lingkarannya. Cuma untuk soal berjarak dari realitas sehari-hari, tiap individu mesti mencoba sendiri.

Kasihan betul kalau hidup hanya sebatas melihat, mendengar, tanpa pernah mengalaminya, kan? 

Saya lupa sejak kapan gantung helm cakil. Pelindung yang sudah tak terhitung jumlahnya diizinkan Gusti Allah cegah kebocoran kepala dari benturan dengan aspal atau bebatuan. Begitu juga dengan jaket kuning yang sudah sobek di sana-sini tapi masih layak dipakai meski ada jejak aspal di antara…