Menampung “Inklusif”
(Pembelaan Terhadap Kata-Kata)

Kata inklusif sepertinya cukup sering diucapkan di panggung pada Mocopat Syafaat bulan Juli 2018 M. Dari Mas Sabrang hingga kemudian Mbah Nun sendiri menekankan pentingya sifat menampung dan meruang. Tak pelak kata “inklusif” terdengar lagi. Ini menarik. Kenapa menarik? Apakah baru di Maiyah yang berbicara mengenai pentingya sifat inklusif?

Tentu saja tidak. Kata ini sudah sering dipakai dalam berbagai kesempatan, berbagai lembaga, organisasi sampai beragam golongan. Bisa dibilang sekarang ini, hampir semua pihak sedang fastabiqul inkulusfi; berlomba-lomba untuk tampak tidak ekslusif. Semua menampilkan diri sebagai paling terbuka, menampung perbedaan, paling toleran dan… Ya inklusif itu.

Maka di mana letak kemenarikannya ketika kata ini terdengar bergaung di majelis Maiyah seperti Mocopat Syafaat? Mungkin begini, kalau kita ingat-ingat lagi kalimat atau kata yang dielaborasi di Maiyah, selalu adalah kata atau kalimat yang belum banyak digunakan. Istilahnya belum najis atau belum tercemar kesan dengan golongan tertentu. Banyak kata yang sekarang ini mengalami penajisan. Bahkan kata-kata sering kali dikriminalisasi karena terlalu sering dipakai dengan kandungan hawa golongan. Jangankan inklusif, kata Islam saja secara semena-mena dikawin-mawinkan dengan berbagai diksi atau term. Dari Nusantara, Liberal, Radikal, Sosialisme dan lainnya.

Jadi, apakah Maiyah hanya suka dengan semangat asal beda? Wah, kalau asal beda sih cukup baca status dan komentar-komentar nyeleneh netizen saja. Tapi spiritnya bukan sekadar itu, ini adalah bagaimana kita memahami perlawanan kata-kata itu sendiri. Perlawanan dari apa? Dari heroisme dan antagonisme yang berlebihan. Kata “kafir” bisa sama tidak berbahayanya dengan kata “awam” bila dia hanya digunakan sebagai pembatas diri komunitas dengan komunitas di luar dirinya. Tapi bahkan kata “awam” bila sudah terrasuki niat merendahkan, ada racun di dalamnya. Maiyah melakukan pembelaan terhada (kata) ”awam” dengan mendaku diri sebagai majelis para awam.

Untuk mengerti peta mainstreaming sebuah terminologi, kita sebenarnya cukup saja melihat peta funding yang mem-back-up proyek issue tertentu. Kata inklusif di negeri tetangga sering kali sepaket dengan wacana toleransi, pluralisme, moderatisme dan sejenisnya. Konon, setelah terjadi peristiwa serangan 9/11 di USA, justru kemudian dana funding mengucur deras untuk wacana moderatisme Islam.

Dan apakah moderatisasi itu? Selain bahwa sebagai muslim, jangan rewel sama kekuasaan dan budaya dominan. Rangkul tradisi boleh, tapi tradisi yang seremonial-seremonial saja. Tradisi pembangkangan ala Mangir misalnya, ya jangan dong. Itu bertentangan dengan dawuh ndoro funding itu. Maka, tidak perlu heran kalau ada golongan yang garda depan dalam menyuarakan wacana inklusif plus toleransi, moderat, liberal hingga pluralisme jarang kita dapati pergaulan yang wajar dengan pihak-pihak yang dilekatkan kesan ekstrimis dan radikal.

Satu hal, inklusif macam apakah yang dipakai untuk menyingkirkan golongan yang dianggap anti inklusif? Inklusif ini, apakah dia menjadi alasan baru untuk jadi eksklusif? Dialog antar agama mah mudah. Asal sama golongan agama lain yang juga memang inklusif. Tapi kapan upaya untuk merangkul yang dianggap anti keberagaman tapi seagama? Seberapa kuat sebenarnya kekuatan rangkulan, kehangatan pelukan, dan kejembaran pangkuan kita? Nusantara itu kan sifatnya memangku.

Eh, Nusantara sekang juga sedang dilekatkan pada golongan tertenu? Wah gawat, apa iya Nusantara bisa anti wahabi? Padahal, salah satu karakter Nusantara itu justru sangat liar bin radikal, wahabi justru tidak ada apa-apanya. Masa sama yang baru mau radikal tidak bisa memangku?

Susah, tentu saja. Karena kalau mudah ya sudah sejak dahulu kala wacana Bhinneka Tungggal Ika jadi tolok ukur peradaban dunia, bukannya sekadar pluralisme. Mudah sekali bicara keberagaman kalau semua orang setuju dengan keberagaman. Ini memang paradoks. Seperti juga keputusan untuk mempraktikkan demokrasi di banyak tempat, toh tidak dilakukan dengan cara yang demokratis. Memangnya pernah ada pemilihan umum untuk memilih ideologi negara? Maksudnya, pemilihan yang seluruh masyarakat terlibat, bukan sekadar kaum elit intelek dan agamawan.

Di era ini ketaqwaan-waspada makin diuji. Bila ada sebuah foto menyebar sekarang ini, jangan pertama-tama mempermasalahkan dan memperdebatkan isi fotonya. Tapi coba tanyakan dulu siapa yang mengambil, di mana dan kapan? Dan kenapa sekarang tersebarnya? Kenapa tidak kemarin? Jangan terpeleset jadi curigaan seperti penganut teori konspirasi yang asal-asalan juga. Waspada saja, ndak perlu curiga berlebihan.

Lantas, apakah Maiyah ini ada ndoro funding yang mem-back up? Kan tidak. Tentu kita tidak menyalahkan pilihan aktivisme di luar sana yang terpakasa mesti hidup dari ndoro funding. Karena mungkin itu salah satu pilihan dari berbagai pilihan lain yang sudah tertutup. Istilah-ilstilah yang lahir di Maiyah selalu adalah istilah yang dirasa sedang layak dibahas, karena memang berasal dari elaborasi bersama, keresahan komunal dan tentu keluhuran kolektif. Maka bisakah kita mulai bertanya, dengan disebutkannya kata “inklusif” di majelis Maiyah kali itu, jangan-jangan ada sesuatu yang perlu disepuh, disapa, dibelai, diamplas atau bahkan dibersihkan dari kata ini?

Jangan sampai dia mengalami nasib seperti kata-kata lain seperti “jihad”, “Nusantara”, “radikalisme” dan entah berapa banyak lagi kata yang mengantri meng-aduh dan menangis karena terzalimi oleh pikiran dan kesan manusia modern. Siapakah yang mampu menampung keresahan kata-kata selain manusia yang sifatnya menjadi ruang, bukan sekadar perabot hiasan yang walau indah, kelak akan berdebu dan tergantikan oleh perabot lain?

Di sini, di Maiyah kita menampung seluruh kata, bukannya bersikap menjunjung dan meng-hero-kan satu sambil mendepak dan membinasakan kata-kata lainnya. Salah satu peran Maiyah adalah, pembelaan terhadap kata-kata. (MZF)