Membentangkan Cakrawala Rindu Berjumpa Kanjeng Nabi Muhammad

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 22 November 2018

Sejak saya memarkir motor di halaman SMK Global Mentoro, lantunan shalawat hadrah Ibu-ibu desa Mentoro terdengar hingga tempat parkir dan sepanjang jalan menuju lokasi pengajian. Beberapa titik lokasi dipasang pengeras suara. Saya baru ingat—teman-teman di Omah Padhangmbulan yang mempersiapkan kebutuhan teknis pengajian, memancarkan pengajian Padhangmbulan melalui gelombang radio 102.6 Mhz. Acara pengajian bisa didengar melalui radio yang jarak jangkau siarannya hingga flyover Kec. Peterongan.

Eksperimen gelombang radio lumayan berhasil. Pengeras suara tidak terpusat di sekitar panggung dan halaman ndalem kasepuhan. Para pedagang di luar lokasi pengajian pun bisa mengikuti acara demi acara. Kata orang Jawa zaman dahulu suaranya terdengar gemontang. Merata ke hampir beberapa lokasi, tidak ribet memikirkan berapa meter panjang kabel yang dibutuhkan.

Malam ini Padhangmbulan dibalut oleh getaran momentum spesial: 12 Rabiul Awal adalah hari kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad. Tiga hari kemudian, di malam bulan purnama, kita berkumpul kembali untuk menghadiri Majelis Ilmu Padhangmbulan.

Getaran muludan terasa cukup kuat menyelimuti malam pengajian Padhangmbulan. Diawali oleh tadarusan oleh Bapak Abdullah Qoyim, yang membacakan surat Al Jumuah, dan dilanjutkan dengan shalawatan oleh Al Banjari Lathifatul Qalbi, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN 6) Jombang, meneguhkan atmosfer kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad.

Nyinauni Kanjeng Nabi Muhammad

Tema Padhangmbulan bulan ini tidak jauh dari kata nyinauni. Kalau bulan kemarin jamaah nyinauni musik KiaiKanjeng, kali ini kita akan nyinauni manusia agung: Muhammad Saw.

Kesimpulan itu saya peroleh setelah berbincang secara singkat bersama Cak Fuad. Saya diminta untuk memandu jamaah bagaimana pendapat mereka tentang shalawat. Apa itu shalawat? Mengapa kita bershalawat kepada Nabi Muhammad? Bagaimana sikap hati ketika bershalawat? Dan tentu saja simulasi pertanyaan lain yang akan bergantung pada “takdir” di atas panggung.

Selain nyinauni shalawat jamaah diajak berbagi cerita seputar kisah atau cerita Nabi Muhammad yang paling melekat di benak pengalaman mereka. Bukan hanya cerita seputar kelahiran Beliau, tetapi kisah di sepanjang hidup Nabi. Biasanya kisah yang melekat adalah cerita yang kita peroleh saat masa kecil, cerita dari guru agama di sekolah atau guru ngaji di mushola.

Tidak heran apabila melekat stigma tertentu tentang Nabi Muhammad, sesuai informasi awal saat kita bersentuhan dengan kisah dan sejarah hidup Beliau. Kisah hidup Nabi Muhammad pun tidak terlepas dari versi dan tafsir sejarah. Belum lagi kita menghitung dimensi politik yang melatarbelakangi lahirnya versi dan tafsir tersebut.

Gagasan dari Cak Fuad yang mengajak jamaah menceritakan kisah mendalam tentang Muhammad Saw akan membongkar memori kita bagaimana memahami, bahkan menghayati hidup Nabi, baik ketika sudah diangkat menjadi utusan Tuhan maupun saat Beliau mengolah kesadaran kemanusiaan di tengah kehidupan yang dikenal sebagai masa jahiliah.

Lainnya