Membangun Rumah Pemahaman, Menuju Kearifan dan Kebijaksanaan

Catatan Majelis Maiyah Bangbang Wetan, 24 Oktober 2018

Berangkat dari buku terbaru karya salah satu Marja’ Maiyah, Syekh M. Nursamad Kamba, yang berjudul “Kids Zaman Now, Menemukan Kembali Islam”, tim tema BangbangWetan berembuk, melebur ego, menyamakan persepsi, dan membedah isi buku hingga mengerucut pada salah satu kandungan buku tersebut: arif dan bijaksana. Dua hal itulah yang akhirnya diputuskan untuk diangkat dan dibahas lebih dalam pada BangbangWetan edisi Oktober 2018 yang diselenggarakan pada Rabu, 24 Oktober 2018, di Halaman Balai Pemuda, Surabaya.

Lalu mengapa tema yang diangkat adalah “Tanjakan Kearifan”? Tak lain dan tak bukan, karena untuk menuju apa yang kita sebut ‘arif’ diperlukan suatu usaha dan proses yang tak bisa dibilang mudah, apalagi instan. Seperti halnya konsep pendidikan Maiyah yang menawarkan peningkatan berjenjang sehingga memungkinkan serapan ilmu pengetahuan tidak stagnan sekadar khasanah diri. Ia—seperti seharusnya—harus bisa menjadikan manusia seorang yang bukan hanya arif namun juga bijaksana. Tahu, bisa, mau, dan mampu mengaplikasikan segala khasanah diri bagi kemaslahatan.

Konsep pendidikan Maiyah seperti yang kita kenal dari Mbah Nun, yaitu:

  1. Ta’lim (dari tidak atau belum tahu menjadi tahu)
  2. Tafhim (dari belum paham menjadi paham)
  3. Ta’rif (tahu, paham tapi belum benar-benar mengerti, sehingga memerlukan tahap ini)
  4. Ta’mil (banyak orang tahu dan paham, bahkan berhasil mengerti, tapi belum bisa atau mampu melakukannya)
  5. Takhlis (tahu, paham, mengerti, dan bisa, harus ikhlas mengerjakannya)

Menurut Mas Acang (Moh. Hasanuddin) sebagai perwakilan tim tema yang membuka penjabaran tema, pada beberapa terjemahan, kata ta’lim, tafhim, dan ta’rif sama-sama diartikan sebagai ‘mengetahui’. Mas acang memiliki pandangan lain karena pada era informasi atau media sosial sekarang ini, banyak orang yang ta’lim dan tafhim, tapi belum masuk pada tataran ta’rif. Karena Pada era abundant of information (keberlimpahan informasi) dari media sosial dan internet banyak orang yang secara sadar maupun tidak mengalami infobesity (kelebihan informasi). Banyak orang yang mudah tahu tapi tidak sampai paham, terlebih bijak. Contoh gampang adalah banyak orang yang dengan mudah menge-share sesuatu yang sebenarnya orang itu sendiri belum tahu manfaat, benar tidaknya, atau segala hal yang berkaitan dengan hal yang di-share.

Masih dari Mas Acang, Sayyidina Ali r.a pernah dhawuh bahwa “tahu apa yang perlu disampaikan adalah penting. Namun, tahu apa yang tidak perlu disampaikan adalah lebih penting”. Jalaluddin Rumi juga pernah dhawuh bahwa “the art of knowing is to know what to ignore (seni mengetahui adalah tahu mana yang harus diabaikan)”.

Di situlah peran kearifan atau kebijaksanaan berada. Kearifan adalah saat seseorang paham suatu ilmu dan mengerti ilmu tersebut harus dibagaimanakan, termasuk bisa mengambil sikap terhadap apa yang telah diperoleh.

Hal tersebut juga menjawab pertanyaan yang ada di benak Mas Acang selama bertahun-tahun tentang petikan QS. Al-Hujurat 49:13, yaitu:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia! Sungguh, Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal …”.

Mengapa dalam ayat tersebut Allah lebih memilih memakai lita’arafu, bukan lita’allamu yang—umumnya—kemudian diterjemahkan menjadi saling mengenal? Mas Acang men-tadabbur-i hal itu bahwa dengan memakai lita’arafu, orang bisa menemukan persamaan-persamaan, merujuk pada kata Mas Sabrang bahwa pengetahuan itu mencari perbedaan-perbedaan, sedangkan kebijaksanaan mencari persamaan-persamaan.

“Kebijaksanaan lebih pada matangnya sikap mental dan hati kepada teknologi internal diri,” tutur Mas Acang menutup sesi awal BangbangWetan.

Mas Sabrang MDP yang beberapa bulan terakhir fisiknya absen akhirnya kembali hadir menemani para Jamaah Maiyah BangbangWetan. Beliau membuka dengan respons tentang banyaknya kalimat bijak (misalnya urip iku urup, sadhumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati, dsb.) dan bagaimana mengaplikasikannya.

Menurut Mas Sabrang, kalimat bijak merupakan kulminasi dari proses hingga sampai pada titik itu. Proses yang dimaksud adalah, pertama, manusia mengumpulkan pengetahuan, kemudian yang kedua yaitu memahami (tidak cuma tahu, tetapi juga dicerna). Kedua proses itu kemudian naik menjadi kearifan, yaitu tidak berbicara tentang pemahaman mana yang paling benar. Namun, melihat pemahaman yang berbeda-beda sebagai suatu keindahan dan kebersaaman. Kearifan itu menjadi kebijaksanaan yang akhirnya memunculkan kalimat-kalimat bijak tersebut.

“Kalau langsung loncat ke kalimat, maka kita tidak akan punya bahan untuk mengaplikasikannya.” Tutur Mas Sabrang. Oleh sebab itu, Mas Sabrang bukan menjadikan kalimat itu sebagai pijakan berangkat. Namun, sebagai rambu-rambu dalam perjalanan.

“Sebenarnya yang dialami semua manusia terangkum dalam hakikat kalimat-kalimat tersebut. Cuma untuk memahaminya harus memakai sudut pandang kita sendiri, karena pengetahuan adalah milik pribadi.” Lanjut Mas Sabrang. Lihatlah perjalanan hidup masing-masing, lalu temukan persambungan dengan kalimat itu.

“Memahami sesuatu beda caranya dengan mengumpulkan pengetahuan. Kalau mengumpulkan caranya bisa dengan membaca atau mendengar memakai semua indra. Sedangkan pemahaman sama sekali berbeda. Sebanyak apa pun pengetahuan, apabila tidak diolah di kepala tidak akan menjadi sebuah pemahaman. Orang bisa tahu sangat banyak namun apabila tidak dibangun menjadi sebuah pemahaman maka tidak akan terkoneksi dalam kehidupannya. Maiyah itu “rumah pemahaman”. Rumah pemahaman ini merupakan modal utama karena merupakan kaki dari kearifan.” –Perspektif Mas Sabrang tentang kearifan.

Pak Sanhari Prawiradiredja, dosen ilmu komunikasi UNITOMO Surabaya, yang juga hadir bersama Pak Suko Widodo juga tak ketinggalan untuk berbagi ilmu. Beliau menekankan bahwa pergaulan dengan orang lain dalam kehidupan satu lingkungan adalah selalu mencari apa yang terbaik. Kata kunci dari kearifan lokal adalah nilai kebaikan itu sendiri. Untuk menuju kearifan, kita harus melakukan “laku” secara langsung. Hal itu selaras dengan falsafah Jawa “Ngelmu iku kelakone kanthi laku”.

“Kita menjalani hidup terkadang tidak tahu mana yang terbaik. Maka, kita memerlukan rambu-rambu yang bersifat kearifan lokal, universal, maupun religius. Semakin banyak kita ngelakoni, maka semakin bagus kita bereaksi terhadap realitas yang kita hadapi.” Tutur Pak Sanhari.

Pak Suko Widodo menambahkan bahwa Jawa mengenal istilah ‘sabda pandhita ratu’. Itu membuktikan bahwa sebelum bersabda, Raja melakukan laku terlebih dahulu. Begitu juga kalau kita melihat dari sisi ilmu komunikasi, bahwa kalau mau arif kita tidak boleh meninggalkan dua hal, yaitu respek dan empati kepada lawan bicara kita.

Mas Sabrang kembali memaparkan tentang proses dari pengetahuan, pemahaman, hingga menjadi sebuah kebijaksanaan. “Pengetahuan bisa kamu kejar memakai otakmu atau cara yang biasa kita lakukan, tapi pemahaman itu rezeki. Hatimu harus siap karena itu datang dari Allah.”

Pengetahuan adalah kemampuan untuk membedakan dan memilah. Sedangkan kebijaksanaan adalah kemampuan untuk melihat persamaan dan sambungan dari semua pengetahuan untuk melihat gambar yang lebih besar.

Mas Sabrang juga mengingatkan sebuah analogi yang pernah beliau tuturkan beberapa waktu yang lalu, “Hati itu harus tenang seperti permukaan danau yang tidak tertiup angin, sehingga ketika ada satu tetes air, kamu tahu datangnya dari mana, sumbernya dari mana. Kalau hati bergolak, maka tidak akan ketahuan dari mana datangnya sumber tetes air itu.” Oleh karena itu, kalau jumawa akan pengetahuan yang kita miliki, maka akan sulit menemukan pemahaman karena hati kita sudah penuh gejolak akan kebanggaan atas pengetahuannya.

Bagi orang yang bijaksana, tidak semua pengetahuan harus dikeluarkan. Dia tahu waktu yang tepat untuk mengeluarkan apa yang diketahui atau tidak serta seberapa ukuran dikeluarkannya. Karena kebijaksanaan memahami faktor di luar pengetahuan. Kebijaksanaan itu tidak hanya penuh kumpulan pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk menyambungkan, sehingga untuk menuju kebijaksanaan dibutuhkan rasa, keluasan hati, empati, dan kematangan rohani.

Salah satu jalan cepat mendapatkan rezeki pemahaman adalah keikhlasan hati untuk mendapatkan apapun yang diberikan oleh Tuhan, sehingga sebelum menutup BangbangWetan Oktober 2018, Mas Sabrang berpesan,

“Jangan menolak apa pun, tapi kamu mempunyai kedaulatan untuk memanfaatkan apa pun sesuai dengan apa yang kamu mau kalau kamu berdaulat. Makanya mari kita sama-sama berdaulat dan membentuk sesuatu yang lebih baik dari bahan-bahan yang kelihatannya tidak baik.”

Buku Cak Nun