Membangun Manusia Pelabuhan

Liputan Siaran Pers Sinau Bareng "Pelabuhan sebagai Sentra Peradaban", Samarinda, 28 Oktober 2018

Serangkai dengan persiapan Sinau Bareng nanti malam (28/10) di Dermaga Pelabuhan Samarinda, siang tadi bertempat di lantai 2 Kantor KSOP Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda, panitia mengundang wartawan dari berbagai media nasional dan lokal untuk konferensi pers dan bertemu dengan Cak Nun.

Ketua panitia, Hamzah, menceritakan latarbelakang acara Sinau Bareng ini, yakni situasi “panas” yang ada di pelabuhan ini yang di antaranya ditandai adanya operasi tangkap tangan, dll di waktu kemarin-kemarin. Padahal pelabuhan Samarinda ini adalah pelabuhan paling lengkap di Indonesia. Ada pelabuhan sungainya, perusahaan-perusahaan bongkar-muat, terminal container yang canggih, dan ratusan terminal lainnya.

Tetapi situasi sekarang sudah lebih baik, namun demikian diperlukan satu pendekatan lagi yang disebutnya kesejukan. Sistem pelayanan publik diupayakan yang baik dan humanis tanpa mengabaikan prinsip profesionalisme dan transparansi. Itulah sebabnya Cak Nun diundang ke Pelabuhan Samarinda ini, agar bisa mendorong kekompakan di antara seluruh anggota masyarakat Pelabuhan di sini, mulai dari buruh, pegawai logistik, karyawan perusahan bongkar-muat, hingga siapa saja yang bekerja di kawasan Pelabuhan ini.

Acara Sinau Bareng ini digelar sekaligus untuk memeringati Hari Perhubungan Nasional dengan dua fokus tematik telah dipancangkan: “Guyub Rukun Bangun Bangsa” dan “Pelabuhan sebagai Sentra Peradaban.” Sementara itu Totok Mukarto sebagai Kepala Kantor KSOP juga menambahkan bahwa kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng ini dimaksudkan untuk membangun cinta dan kebersamaan di antara orang-orang pelabuhan. “Alangkah baik jika semua itu dikomandani Cak Nun, karena beliau orang yang bisa menjembatani semua pihak,” ungkapnya.

Tentang semua itu, kepada para wartawan, satu hal mendasar disampaikan Cak Nun bahwa ibarat warung, Beliau tidak ada dalam daftar menu, tetapi berada pada posisi garam atau gula. Warung tak hanya berurusan dengan menu, tapi juga garam dan gula. Bukan hanya pilpres dan kekuasaan, tetapi juga bangsa dan manusianya Indonesia.

Karena itu, Cak Nun menegaskan, ke manapun Beliau diundang masyarakat selalu mencoba bertemu manusia-manusianya. Asalkan manusianya baik, insyaAllah manajemen atau situasi di tempat akan bagus. Termasuk dalam lokal atau sektor pelabuhan ini. “Di sektor lokal, ciptakan situasi yang kohesif dan kondusif dengan mendayagunakan manusia-nya,” pesan Cak Nun.

Hal itu disampaikan Cak Nun karena masih butuh waktu sangat lama menunggu perubahan mendasar dari sistem negara dan pemerintah, yang salah satunya menyebabkan banyaknya ego sektoral berlangsung. Sementara itu, Cak Nun melihat satu hal bisa dilakukan sekarang juga yaitu membangun manusianya, manusia pelabuhan, manusia Indonesia.

Buku Cak Nun