Melewati Pusaran Tenggelamnya Kapal Tampomas

Pilihan turun ke bawah ke masyarakat langsung pasca Reformasi 1998 untuk berkeliling bershalawat itu sekaligus berarti membawa Mbah Nun dan KiaiKanjeng menuju dan menembus ke tempat-tempat yang tak selalu mudah dicapai. Ada kesulitan, risiko, atau bahaya yang kadang menyertai.

Misalnya ke pulau Bawean. Kalau tak salah pada 1999. Acara diselenggarakan oleh Bupati Gresik, dan diselenggarakan di Bawean. Untuk sampai ke pulau ini, sarana transportasinya adalah kapal. Saat itu kapal yang akan dinaiki diberangkatkan dini hari. Perlu dicatat, bahwa kapalnya pun bukan kapal yang modern dan canggih, melainkan kapal tradisional. Gulita malam harus dihabiskan di atas kapal.

Ketika itu KiaiKanjeng dalam formasi atau era yang disebut sebagai Mini Kanjeng. Maksudnya, personelnya hanya beberapa saja: Pak Nevi, Pak Jokam, Pak Bobiet, Pak Bayu, Mas Yoyok, (dan kemudian Pak Is dan Mas Blothong) dengan vokalis Nia, Sudrun, alm Mas Zainul Arifin. Sehingga konsepnya pun tidak seperti yang teman-teman lihat saat ini dengan menghadirkan macam-macam lagu, melainkan lebih banyak shalawatan yang sublim dan kontemplatif. Hal yang relevan untuk situasi zaman atau masa itu.

Lho kok bisa? Situasi seperti apa? Reformasi 1998 yang Mbah Nun berada tepat di urat leher proses politiknya saat itu pada akhirnya adalah proses yang tidak sesuai yang diharapkan. Pak Harto memang akhirnya mau turun, tetapi yang berlangsung setelahnya bukanlah reformasi seperti yang dicita-citakan. Mbah Nun sudah sering ceritakan tentang hal ini. Dalam situasi politik yang demikian itu, kegelisahan Mbah Nun menuntun pada satu kesimpulan bahwa sudah tak bisa berharap banyak pada aktor-aktor politik nasional, tak bisa berharap pada agenda dan program politik yang dijalankan di atas. Dibutuhkan pendekatan yang beyond situasi saat ini terutama untuk masyarakat di bawah.

Akhirnya, lewat serangkaian diskusi dan atas masukan Cak Dil, Mbah Nun merasa bahwa yang paling bisa dilakukan saat itu adalah keliling shalawatan. Politik sedang tak bisa menawarkan alternatif apa-apa menuju perubahan Indonesia yang lebih bermutu yang secara general kala itu disebut reformasi. Maka berkelilinglah Mbah Nun ke kampung-kampung mengajak masyarakat bershalawat.

Kapal berangkat menjelang dini hari. Dalam perjalanan, sekitar pukul sebelas malam, semua penumpang dihimbau untuk masuk di ruangan, kemudian tidur di atas kasur yang disediakan dengan panduan posisi melawan arah bergeraknya kapal. Tak seorang pun boleh berada di anjungan. Semua harus di dalam dan posisi tiduran. Himbauan ini sudah dengan sendirinya mengisyaratkan ada bahaya yang harus diantisipasi.

Kebanyakan penumpang pada mabuk. Tak terkecuali personel Mini Kanjeng ini. Mbah Nun juga ada di dalamnya, tetapi alhamdulillah tidak mabuk. Bersama Pak Bobiet dan Pak Nevi. Bisa dikatakan ini perjalanan ngeri-ngeri sedap dan sedap-sedap ngeri. Mereka baru boleh keluar ruang kalau sudah ada himbauan selanjutnya. Setiap pergantian jam selalu ditandai dengan suara lonceng sejumlah angka jam itu. Tapi ada satu angka jam yang diyakini tak boleh dibunyikan loncengnya yaitu jam satu malam. Begitulah mitos atau keyakinan yang ada. Ini ilmu titen para nahkoda atau masyarakat di sana. Entah apa sejarah yang mendahuluinya dulu. Jadi usai lonceng jam 12 malam langsung lompat bunyi lagi pada jam 2 malam.

Bahaya apa yang mengintai? Setelah melewati zona di mana para penumpang diminta berada di dalam ruang dan tiduran, nahkoda kapal gobrol dengan penumpang dan ngasih tahu bahwa itu zona di mana gelombang tidak hanya kencang tapi juga tinggi berpusar-pusar, sehingga kalau tidak seimbang kapal bisa jatuh miring atau oleng. Kalau penumpang berada di anjungan pasti akan terpelanting. Menghadapi gelombang tadi, kapal pun terpental ke atas sekitar dua meter. Skill khusus dibutuhkan buat menghadapi kondisi ini. Dan yang bikin bulu kudu merinding, nahkoda menceritakan di zona itulah dulu kapal Tampomas tenggelam pada 1981.

Begitulah perjalanan malam dari Gresik menuju Pulau Bawean. Para personel Mini Kanjeng baru tersadar akan bahaya yang dihadapi dalam perjalanan itu. Tetapi alhamdulillah kapal bisa mencapai tujuan dengan selamat. “Pokoke besok pulangnya harus pagi hari…,” begitu respons Pak Bobiet tak ingin mengulang situasi ngeri itu. Pasalnya, kalau di pagi hari gelombang cukup tenang bersahabat.

Pengalaman seperti ini yang bikin Pak Bobiet punya dua kesimpulan. Ada dua bahaya yang tak jarang harus dihadapi KiaiKanjeng: bahaya dari manusia dan “bahaya” dari alam. Perjalanan pertama ke Bawean itu adalah salah satunya. Dan usai mendengar cerita nahkoda tadi, Pak Bobiet yang dulu juara renang SMP bilang, “Hambok juara renang kayak apapun yen ngadepin ombak kayak gitu ya monting dan tidak bisa apa-apa…”. Dan karena pengalaman-pengalaman berat itu, maka Mbah Nun menyebut formasi awal Mini Kanjeng ini sebagai “Kopassus”-nya KiaiKanjeng.

Jogja-Malang, 19 Januari 2018