Medal Sila

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Februari 2018

Dalam salah satu wasiat seorang guru kepada seluruh muridnya yang berupa untaian kata mutiara yang bisa kita tadaburi bersama, yaitu “ulah medal sila upama kapanah”. Apabila diartikan adalah jangan mengubah sikap walaupun disakiti orang. Sehingga medal sila yang berarti mengubah sikap bisa ditadabburi sebagai inkonsistensi. Makanya kenapa dalam untaian mutiara di atas di-ulah-keun. Namun, ketika dipresisikan, adakalanya pada saat tertentu dengan keadaan tertentu perlu, mesti, atau wajib “medal sila“, dan adakalanya makruh atau haram (ulah) “medal sila“.

Keselamatan dan kebahagiaan itu, tergantung kepada keputusan demi keputusan yang diambil dalam menghadapi kehidupan. Kita tidak akan mampu menahan niat ataupun keinginan dan perbuatan orang lain terhadap diri kita, namun kita bisa menentukan sikap kita terhadap orang lain. Penentuan sikap yang terkadang berat ketika ada perbuatan, perkataan atau sebagainya yang menyakitkan.

Ketika emosi merajai, di saat akal dan hati tak terkendali, membalaskan perbuatan yang sama bahkan mendoakan  keburukan, hal itu terkadang terlintas dalam benak dan pikir. Namun jika itu semua tidak ditepis apa bedanya antara yang menyakiti dengan yang disakiti. Jika diibaratkan dengan anjing, maka tak lebih dari seekor hewan yang menggonggong.

Dalam hal ini, model dalam bersikap yang akan terus menjadi panutan, siapa lagi kalau bukan baginda agung Muhammad Saw, yang dalam kisahnya beliau selalu mencontohkan kepada kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka yang menghina, mencaci bahkan memaki. Rasa sakit yang selama ini diterima tak sebanding dengan rasa sakit yang beliau alami dan rasakan ketika menerima perbuatan yang menyakitkan bahkan dari mereka yang beliau sayangi.

Apakah ada keinginan dari beliau untuk membalas dendam kepada kaum yang tiap kali beliau beranjak pergi ke masjid untuk sholat berjamaah melempar beliau dengan batu bahkan dengan kotoran sekalipun? Tidak sama sekali, bahkan beliau selalu mendoakan kebaikan kepada orang tersebut.

Al-Qur`an telah mengajarkan pada kita bagaimana sikap terbaik menghadapi mereka yang telah menzalimi kita, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Fushshilat: 34-35). Bukan sesuatu yang mudah memang, tetapi bukan berarti kita tidak bisa melakukannya, teguhkan niat dan mulailah berusaha menyatakannya.

Dalam berkehidupan tak pernah ada yang tidak pernah berbuat salah. Sebagian menjadikan “manusia tempatnya salah dan lupa” sebagai pembenaran. Ketika berada dalam jurang kemaksiatan misalnya, ada saja bentuk pembenaran-pembenaran lain. Terkadang, menjadikan setan sebagai penyebab dan bentuk pembenaran kesalahan yang dilakukan. Padahal, timbulnya suatu masalah bentuk dari kesalahan diri yang diakibatkan terpisahnya akal dan hati sehingga tak terkendali.

Kunci memahami kehidupan ini, ada pada diri sendiri dan ketika sudah menemukan cara mengenal diri, kita akan mengenal Tuhannya, pun sebaliknya. Tuhan itu selalu ada, hanya saja hati kita kotor sehingga terhalang untuk melihat adanya Tuhan. Dengan melihat dan merasakan akses-Nya yang terwujud di alam semesta berupa segala bentuk ciptaan dan segala bentuk skenario kehidupan manusia yang amat luar biasa.

Bagaimana kita bisa memahami diri sendiri, sementara malas mengendalikan diri (nafsu). Untuk menemukan diri sejati harus memerangi diri (nafsu) yang mendorong kepada kejahatan yang akan mengotori hati. Sehingga apabila hati ini kotor yang disebabkan oleh berbagai penyakit hati yang terkadang  kita tahu bahwa dengan melakukan hal tersebut hati kita akan ternodai.  Seluruh cara untuk mengetahui diri, alam dan Tuhan akan hancur.

Maka berproseslah untuk membersihkan hati ini, dan setiap insan mempunyai jalan serta medan yang berbeda sebagai upaya untuk mengubah dirinya menuju kepada kesucian hati. Karena Tuhan memberikan setiap pembelajaran kehidupan kepada tiap individu sesuai dengan potensi yang telah Tuhan berikan kepada makhluk-Nya. Berhusnudhon lah kepada Tuhan dengan selalu berpikir dan bertindak positif. Karena Tuhan lah yang telah menyiapkan cerita akhir dari setiap perjalanan pengembaraan yang dilakukan.

Sehingga tatkala terperosok dalam kesalahan atau kekhilafan, mungkin ini merupakan cara-Nya untuk menyadarkan. Tidak ada salahnya berbuat salah karena dengan berbuat salah kita tahu bahwa hal tersebut benar salah. Alhasil, menemukan sendiri kesalahan tersebut dan ketika berbuat salah sesungguhnya itu merupakan kesesatan di jalan yang benar.

Maka ketika tahu bahwa itu adalah kesalahan, sadarkan diri dan perangi nafsu untuk mengubah kesalahan tersebut menjadi sebuah bentuk kebaikan yang tercermin dalam sebuah sikap. Memang, ini bukan hal mudah untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang kita tahu bahkan kita ucapkan, namun segala sesuatu pun harus berproses yang didasari dengan kesabaran dan keikhlasan hati.

Proses untuk sabar itu cukup lama, setelah emosi meningkat terlebih dahulu perlu adanya rasa sadar dalam diri dan untuk menjadi orang ikhlas itu bisa diusahakan. Salah satunya dengan menghilangkan sifat ingin dipuji. Perbedaan orang yang ikhlas dan riya dibuat pengibaratan oleh Imam Ibnu Rajab Al–Hambali dalam perkataannya, “Aroma ikhlas seperti aroma dupa (kayu gaharu) murni, semakin kuat ditutupi dengan kain semakin semerbak dan harum. Sedangkan orang yang riya seperti asap kayu bakar, dia naik ke udara lalu lenyap, dan yang tersisa hanyalah bau busuknya”.

Antara medal sila ketika berbuat salah dan ulah medal sila upama kapanahkeduanya merupakan bentuk pernyataan dari nilai Maiyah “Puasa”. Karena sesungguhnya hakikat dari berpuasa adalah bentuk pengendalian. Bagaiamana kita mengendalikan diri kita ketika kita ingin mengubah sikap dan keluar dari zona nyaman dalam kesalahan. Serta bagaimana kita mengendalikan diri untuk tetap bersikap baik kepada orang yang menyakiti.

Bentuk pengendalian kedunya ini bukanlah hal yang mudah, namun kita harus percaya bahwasanya kita mampu mengendalikannya dengan kemampuan yang Tuhan titipkan dengan keunikan cara dalam menghadapinya.