Mbah Nun, Penjaga Api

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh? Bisakah kekecewaan, bahkan keputusasaan yang mengiris-isirs hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini, pada akhirnya nanti akan kikis? Adakah kemungkinan kita akan bisamerangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam? Akankah api akan berkobar-kobar lagi? Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa tanah air? Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain, jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?” –Emha Ainun Nadjib

Entah angin apa yang telah menghembuskan cerita ini pada kita semua. Bahwa hari ini, kata perdamaian, aman, dan tenteram menjadi sesuatu yang sangat langka. Suasana-suasana ini menjadi sesuatu yang sangat dirindukan oleh sebagian besar ummat manusia di seluruh penjuru dunia.

Hari ini, orang lebih mudah menyulutkan api kebencian dibandingkan air yang menyejukkan. Dengan mudahnya mengumbar api yang membakar amarah siapapun yang ada di sekitarnya. Tak cukup di dunia nyata, serangan bola panas itu pun diluncurkan juga di dunia maya.

Yang Telah Mengajarkan Menjaga Api

Mungkin bagi sebagian orang, damai menjadi sesuatu yang biasa saja. Karena hari-harinya memang sudah penuh dengan cinta kasih tanpa ada sedikitpun celah permusuhan yang menghampiri catatan hidupnya. Ia sudah terbiasa berenang dalam lautan kenikmatan hidup. Hidupnya sempurna. Tak ada cela. Tak ada konflik. Dan selalu bahagia.

Akan tetapi, coba kita bayangkan. Bagaimana hidup seseorang yang bahkan untuk mendapatkan keamanan barang sedetik pun harus penuh dengan perjuangan. Bagaimana hidup seseorang yang satu dua detik ke depan penuh dengan ketidakpastian. Satu detik ke depan masih bisa bernafas lega saja, itu sudah menjadi suatu kenikmatan yang luar biasa. Karena setiap detik dari hidupnya tak pernah luput dari ancaman-ancaman yang selalu saja mengintainya.

Beruntunglah orang-orang yang masih bisa menemukan ruang-ruang perdamaian. Beruntunglah jika sampai detik ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menyaksikan langsung pemandangan orang-orang yang selalu berusaha menjaga keamanan sekitarnya. Hingga kita pun diam-diam bisa belajar darinya. Untuk sedikit-sedikit, kita bisa belajar turut menjaga hawa kesejukan keharmonisan sekitar kita.

Dan rasanya, saya menjadi bagian dari orang yang beruntung itu. Saya merasa sangat beruntung masih diberikan kesempatan menikmati indahnya atmosfer kerukunan. Saya sangat beruntung bahwa bagian dari perjalanan hidup saya digariskan untuk bertemu dan berguru kepada orang-orang yang menyebarkan kesejukan, menyatukan yang berserakan, dan mendamaikan yang bermusuhan.

Di tengah potret kebiasaan orang yang cenderung menyulutkan api kebencian, ketika menjumpai sosok yang dengan tulus merangkul, mengayomi, menenangkan, menyatukan, itu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Apalagi, jika sampai ada yang bersedia diinjak-injak, asalkan yang lain selamat, asalkan asap kebencian itu tak semakin menyeruak. Bahkan, ia bersedia memadamkan api yang itu sama sekali bukan tanggung jawabnya. Karena memang bukan ialah yang membangunkan amarah si api. Sekali lagi, lukisan seperti ini menjadi suatu pemandangan yang sangat langka. Karena sosok seperti ini tak bisa kita temukan di sembarang waktu dan tempat begitu saja.

Lewat lakunya, sosok ini seolah ingin bercerita untuk menenangkan kita. Bahwa api itu tak selamanya berbahaya. Ia bisa membahayakan jiwa, nyawa, maupun harta tatkala berada di ruang dan waktu yang kurang tepat saja. Sebaliknya, ia bisa sangat bermanfaat jika dikendalikan oleh orang dan dengan cara yang tepat pula.

Nilai-nilai kebenaran kita tak ubahnya api. Ia bisa mengamankan, pun juga bisa mematikan. Itu semua tergantung bagaimana kita memperlakukan. Mungkin inilah mengapa, sosok itu juga kerap mengingatkan bahwa kebenaran itu letaknya di dapur. Yang kita sajikan cukup olahan dalam tungku dapur kita yang mewujud menjadi kebaikan dan juga keindahan.

Kenapa di luar sana kerap terjadi permusuhan? Saling serang satu sama lain, saling injak satu sama lain. Ya karena mereka menyajikan api di ruang tamu mereka. Api tak mereka jaga dalam tungku dapur mereka. Nilai kebenaran yang mereka pertontonkan. Nilai kebenaran yang sifatnya objektif, padat, masih kaku, disajikannya mentah-mentah begitu saja. Tak diolahnya terlebih dulu menjadi suatu kebaikan, alih-alih menjadi keindahan. Hingga muncullah gesekan-gesekan, yang sewaktu-waktu bisa menyulutkan api dan membakar sekitarnya. Bahkan, bisa jadi api yang dinyalakannya lah, suatu saat yang akan menghanguskan dirinya sendiri.

Singkat cerita, sosok yang telah mengajarkan menjaga api itu kini telah genap memperindah dunia di tahun keenam puluh lima. Ribuan denting waktu menjadi saksi, bagaimana panas api yang beliau rasakan, bagaimana sakit yang beliau tahan, agar api itu tetap terjaga. Agar api itu tetap berada di kedalaman dapurnya. Agar api itu tak semena-mena menyabet apapun saja dan membumihanguskannya. Agar orang-orang tak turut merasakan kepedihan seperti yang dirasakannya.

Kepada sosok itu, sosok penjaga api yang telah mengajarkan menjaga api, sugeng tanggap warsa, Mbah. Atas semua yang Mbah lakukan kepada kami, mustahil cinta kasih Tuhan beserta kekasih-Nya menolak untuk mendekat kepada Panjenengan. Mbah, semoga Panjengengan masih diberikan kesempatan lebih lama lagi untuk menyaksikan benih-benih yang Panjenengan semaikan kepada kami, tumbuh, berbuah, dan berbiji kembali.

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh? Bisakah kekecewaan, bahkan keputusasaan yang mengiris-isirs hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini, pada akhirnya nanti akan kikis? Adakah kemungkinan kita akan bisamerangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam? Akankah api…