Mbah Nun dan Spektrum Pendidikan Alternatif

#65TahunCakNun

Memotret rekam jejak Mbah Nun serupa menyelami oase berisi pusparagam disiplin ilmu. Dari Nun-Puisi, Nun-Esai, Nun-Deklamator, hingga Nun-Pekerja Sosial. Meskipun kategorisasi ini terkesan memadatkan cairnya posisi dia sebagai manusia yang merdeka.

Itupun niscaya ditampik karena pelbagai identitas tersebut tak ubahnya narasi-narasi arus utama yang kian diselebrasikan manusia modern hari ini. Mbah Nun, di tengah konstelasi sosial demikian, memilih jalan sunyi—menjaga kesadaran jarak dari antah-berantah nun jauh di sekeliling manusia kebanyakan.

Kiprahnya di masyarakat kecil dimulai sejak era 70-an. Ketika hiruk-pikuk Malioboro berdentang sebagai kawasan padat, Mbah Nun dan Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi, melakukan proses dialektika seputar sastra dan kehidupan. Latar kultural ini turut membentuk Mbah Nun muda untuk peduli terhadap posisi kelas yang termarjinalkan oleh desakan sosio-ekonomi. Keberpihakan itu beliau ditulis dalam puisi dan esai.

Periode Malioboro (1969-1975) dikatakan Mbah Nun sebagai proses personal-komunal. Di satu sisi beliau “menggelandang” bersama kerabat muda lain untuk belajar sastra secara militan dan dialektis, sedangkan di sisi lain puisi-puisi lirisnya menyiratkan pergolakan batin.

Puisi lirisnya seakan-akan beroposisi dengan penyair lain yang—meminjam istilah W.S. Rendra—bersajak “anggur dan rembulan” karena berkutat pada masalah eksistensial, sementara puisi Mbah Nun cenderung kental nuansa agitatif: menyodorkan kritik kepada penguasa dominan dan memihak rakyat kecil. Pengalaman kemanusiaannya di Malioboro itu dicatatnya lewat sebiji sajak sebagai berikut.

Alangkah gandem rasa hidup
Nongkrong diatas tikar Malioboro malam hari
Pesan gudheg tempe, teh jahe, rokoknya: Dor!
Join sama kamu
Kaki methingkrang ongkang-ongkang rasane jaman kang soyo lintang pukang
Aku merasa akulah seorang gelandangan
Sebab aku seorang gelandangan
Maka akulah warga negara yang paling diistimewakan
Memang cuma sedikit aja aku kebagian nikmatnya kehidupan
Tapi aku bebas nangkring dimanapun dan tidur-tiduran
Sebab semua orang yang berumah pada menutup jendela dan pintu-pintu

(Nyanyian Gelandangan, 1976)

Puisi itu acap dimusikalisasikan di kampus-kampus dengan iringan karawitan Teater Dinasti yang digawangi Nevi Budianto dan Joko Kamto. Dua nama tersebut belakangan, bersama Mbah Nun, mendirikan grup musik KiaiKanjeng. Menengok diksi dalam puisi berjudul Nyanyian Gelandangan di atas, Mbah Nun muda begitu merdeka dengan ekspresi bebas sebagai seorang “gelandangan”.

Posisi bohemian tersebut tentu dipengaruhi pola belajar di lingkungan seniman Malioboro yang dianggap tak lazim. Pasalnya, Umbu, lurah PSK, mengajarkan laku jalan kaki tanpa mengucapkan sepatah pun. Yang berlangsung hanya jalan dan kontemplasi sepanjang proses.

Di luar metode “absurd” demikian, Umbu merupakan tipe pengasuh yang keras bila berurusan dengan proses kreatif. Itu kenapa Mbah Nun muda, Linus Suryadi, dan anggota-anggota lain begitu produktif dalam menulis, baik sajak, esai, maupun prosa. Kecenderungan ini tertanam kuat di era-era setelahnya. Disiplin menulis mentradisi sebagai laku.

Umbu melakukan kepengasuhan dengan cara khasnya yang nyentrik dan ternyata berpengaruh signifikan terhadap proses hidup dan kehidupan Mbah Nun muda. Apa yang dilakukan Umbu itu menegaskan konsep pendidikan alternatif yang secara teoretis tak tersekat oleh kebakuan dan kebekuan pendidikan formal (sekolah). PSK memenuhi prasyarat itu karena di sana terjadi proses belajar-mengajar yang guru dan siswanya sedemikain dinamis: tiap orang adalah narasumber, masing-masing dari mereka juga pembelajar.

Emha Pedagogik

Melompat ke periode Malioboro, meski sang presiden pergi ke Bali, Mbah Nun tetap menegaskan pola kepengasuhan yang didapatkannya bersama Umbu. Melalui diskusi di pelbagai ranah dan idiosinkrasi tulisan di banyak media massa, rakyat kecil, kedaulatan diri, serta otentisitas menjadi idiom yang diwacanakan terus-menerus. Di situ tersirat betapa Mbah Nun konsisten memperjuangkan “nilai” di tengah kontestasi sosial dan politik Orde Baru dan pasca-Reformasi.

Maiyah kemudian berkembang dari embrio Pengajian Padangmbulan, Jombang, menjadi simpul-simpul di level nasional dan internasional. Mbah Nun, KiaiKanjeng, dan Maiyah adalah tiga unsur yang saling tarik-menarik hingga membentuk absolutisme dalam rangka perjuangan nilai. Walaupun secara formal ia bukan organisasi, Maiyah merupakan organ yang lebih organis ketimbang organisasi konvensional.

Diskursus pencarian nilai yang dilakukan Maiyah, bila diteropong dari perspektif pedagogik, cukup menguatkan betapa ia merupakan manifestasi dari pendidikan alternatif. Titik tolak semantis kata Maiyah yang dinukilkan dari Al-Qur`an, yakni ma’a mempunyai makna “bersama” sehingga keberlangsungan pendidikan di sana didasarkan atas nilai kebersamaan.

Ontologi Maiyah yang berangkat dari nilai kebersamaan itu meliputi dua hal antara lain “mencari apa yang benar” dan bukan “mencari siapa yang benar”. Sasaran “apa” ketimbang “siapa” di situ mengeksplanasikan kebernilaian objek daripada subjek. Dengan kata lain, orientasi pendidikan alternatif di Maiyah mengupayakan posisi kajian tertentu sebagai topik sentral dan cenderung menihilkan kebenaran relatif dari pelaku partikular.

Pola pencarian kebenaran di Maiyah disokong oleh premis bahwa kebenaran bersifat relatif. Kebenaran, karenanya, mesti didudukan pada konteks tertentu yang secara tegas disketsakan Mbah Nun: bener e dewe, benere wong akeh, dan bener sejati—kebenaran yang dianggap benar oleh diri sendiri, kebenaran yang dianggap benar oleh banyak orang, dan kebenaran yang dianggap sejati.

Soal wilayah kebenaran berdasarkan nilai-nilai Maiyah, sebetulnya ia bersifat seperti fatamorgana. Kebenaran diamsalkan semacam itu agar pencari kebenaran terus-menerus menggali dan menuju kebenaran dengan totalitas perjuangan. Meskipun tatkala ia mencapai kebenaran tertentu maka proyeksi kebenaran lain terus berkembang sampai tak terhingga. Itu kenapa, di Maiyah, posisi memperjuangkan dan mencari kebenaran lebih utama daripada percaya diri telah mencapai kebenaran yang dipersepsikan.

Imaji mengenai kebenaran, jika merujuk pada konsep yang ditawarkan Mbah Nun, berada di posisi dasar dan bersifat privat. Hal tersebut difondasikan oleh gradasi kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dengan menganalogikan kebenaran sebagai ruang Mbah Nun mengatakan bahwa kebenaran terletak di dapur, sedangkan ekspresi yang mesti disampaikan di luar rumah mesti mengandung kebaikan dan keindahan.

Ekspresi kebaikan inilah yang menurut Mbah Nun seyogianya dikomunikasikan ke jamak orang. Bila kebenaran yang didiseminasikan ke liyan maka yang terjadi justru friksi horizontal. Itu karena tiap orang mempunyai parameter kebenaran masing-masing. Sedangkan kebaikan mempunyai pertautan komunikatif yang bisa diterima banyak orang. Ketika kebaikan bersemuka, nilai keindahan dapat tertunaikan.

Konsep kebenaran sebagaimana dijelaskan sebelumnya hanya salah satu dari contoh nilai yang didedah di forum Maiyah. Di luar itu masih banyak lagi nilai-nilai yang didialogkan. Tentu proses tersebut dikontekstualisasikan ke dalam wilayah masing-masing yang tiap jemaah Maiyah mempunyai respons khusus berdasarkan pengalaman personal.

Pendulum rekam jejak Maiyah dan produksi nilai yang dinarasikan di masyarakat itu tak terlepas dari peran Mbah Nun. Di sini letak bagaimana Mbah Nun mengejawantahkan prinsip pedagogik alternatif. Proses tersebut telah, sedang, dan akan terus berlangsung selama Maiyah sebagai nilai dikontinuasikan oleh individu-individu yang menginduk pada konsep “bersama”. Hingga masuk usia 65 tahun, Mbah Nun, masih berada di pusaran pembelajaran semacam itu.