Mbabar Maneh

Mukadimah Suluk Pesisiran Juli 2018

Warung kopi Lek Dar sehabis lebaran memang agak sepi. Penduduk dusun yang sebelumnya kerap berkumpul di kedainya sudah jauh berkurang. Mereka yang mudik sudah kembali ke kota tempat mencari nafkahnya masing-masing.

Rutinitas warung Lek Dar pun kembali seperti sebelum puasa. Agak sepi dan nyeyet kalau malam kian larut. Tak banyak yang lek-lekan menunggu subuh.

Di penggalan sepertiga malam kali ini, yang tersisa hanya Kang Firman dan Lek Dar. Sambil menunggu subuh, kang Firman membuka obrolan agar suasana tidak kian sunyi.

“Warungnya sampeyan kembali seperti semula yo lek,” basa-basi kang Firman membuka obrolan.

“Iya kang, semua sudah kembali ke kotanya masing-masing. Sudah mulai masuk kerja lagi, nggelar duit anyar maneh,” jawab lek Dar sambil meniup-niup bara api kompor kayu agar tidak mati.

“Iyo, mbabar urip meneh yo Lek,” tukas kang Firman sambil terkekeh.

“Lha sampeyan sendiri gimana man? Belum “mbabar” meneh po?”

“Sudah Lek, walau sedikit-sedikit, yang penting wis obah nggo sangu mlaku”

“Aku ki jane heran lho Man. Wong melakukan aktivitas sesudah libur itu kok dianggapnya Mbabar Meneh. Dianggapnya lebaran itu awal dan akhir. Padahal kan mung istirahat sebentar. Ya kalau dianggap baru, setiap hari itu ya harusnya dianggap baru. Karena memulai aktivitas baru. Kalo menurutmu piye Man?” tanya Lek Dar penuh selidik.

Kang Firman, yang memiliki pengalaman di jalur “pendidikan yang bener menurut pemerintah”, tersenyum masam sambil mengunyah potongan tempe yang tersisa. Sambil sesekali mencecap bibirnya, mengambil jeda menata kalimat yang akan dijawabnya.

“Jane ngene lek. Itu hanya kalimat untuk menggambarkan thok, memperingkas thok. Jane ki podho. Karena di kehidupan ini sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar-benar baru. Ruh kita pun sebenarnya juga melanjutkan dan memperbaharui, termasuk nambahi dan ngurangi kembang-kembange urip sitik.”

“Maksudmu piye kui man? Mbok aku diwenehi ilmumu sithik. Wis kopimu tak gratiske po. Idep-idep aku sekolah madrosah meneh,” celetuk lek Dar namun dengan rasa ingin tahu.

“Ngene lho lek… Kalo sampeyan amati, Romadhon itu seperti kita umbah-umbah, membersihkan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Anggaplah pakaian. Pakaian yang kita pakai ini dipinjami oleh Bendorone ndewe, Gusti Allah. Lha Romadhon itu waktunya bersih-bersih total. Umbah-umbah gede. Yang kena bloboran dihilangi. Yang kotor kita gosok lagi agar kembali bersih. Makanya kenapa bulan Romadhon itu ruang ibadah paling sunyi. Karena memang hanya sampeyan dan Gusti Allah thok yang tahu. Artinya yang lain bisa sampeyan apusi. Sama seperti wong umbah-umbah, sampeyan tidak perlu mbengak-bengok agar tetangga sampeyan tau kalo sampeyan sedang umbah-umbah. Nah, Idul Fitri itu ibaratnya seperti sampeyan ngasih wewangian pada kain cucian. Agar nanti ketika sampeyan memakai kembali pakaian yang sampeyan cuci itu tetap kelihatan baru, meresap wewangiannya itu. Syawal sampai Sya’ban nanti itu waktunya sampeyan  memakai pakaian yang dicuci itu. Karena dianggapnya memakai pakaian baru maka Syawal sering dianggap wulan mbabari.”

“Ooo ngono yo man,” Lek Dar manggut-manggut.

“Makanya pakaian yang sudah kita cuci itu sebisa mungkin dijaga agar tidak kotor lagi. Yang tadinya pakaian tersebut kotor karena ndempel ke tembok yang luntur catnya. Sampeyan bisa lebih ngati-ngati agar tidak kena lunturan cat di tembok yang sama atau di tembok yang lain.”

“Kenapa pakaian itu harus dijaga? Ya karena apapun yang terjadi pada pakaian itu akan ditanyakan sama Bendoronya. Jangan sampai nanti sewaktu ditanya kenapa pakaian yang “dipinjamkan” ini jadi niyeng, lusuh, kecut dan sebagainya kita tidak bisa menjawabnya.”

“Karena siapa tahu pakaian yang dipinjamkan pada kita ini adalah Sandangan untuk Pesta. Siapa tahu manusia itu adalah Makhluk Surga yang disuruh piknik dulu ke dunia. Nah, untuk kembali ke surga kita mesti bersih-bersih dulu. Daripada umbah-umbahnya di sana malah repot. Ramai tur upyek dewek-dewek,” ujar Kang Firman memungkasi obrolan di warung kopi, diiringi gelak tawa Lek Dar.

Warung kopi Lek Dar sehabis lebaran memang agak sepi. Penduduk dusun yang sebelumnya kerap berkumpul di kedainya sudah jauh berkurang. Mereka yang mudik sudah kembali ke kota tempat mencari nafkahnya masing-masing. Rutinitas warung Lek Dar pun kembali seperti sebelum puasa. Agak sepi dan nyeyet…