Mata Pandang yang Peka kepada yang Tak Tampak

Catatan Singkat Majelis Ilmu Padhangmbulan, 1 April 2018

Mengawali April 2018, tepat tanggal satu yang jatuh pada hari Minggu, jamaah Maiyah kembali melingkar dan belajar di malam Padhangmbulan. Memulai dialog dengan jamaah, Mbah Nun mengajak mereka kembali mengingat-ingat lebih banyak mana yang mereka dapatkan selama Maiyahan: sesuatu yang tampak atau sesuatu yang tidak tampak. Seperti paduan suara, mereka kontan kompak menjawab bahwa selama ini lebih banyak mereka mendapatkan sesuatu yang tidak kelihatan, sesuatu yang immateri, sesuatu yang lebih berharga dibandingkan hanya sekadar materi saja.

Ada rasa syukur mendengar jawaban jamaah itu. Bukan tentang lebih banyak mana yang didapatkan, melainkan apa yang masih tetap diprioritaskan. Mustahil jawaban itu akan muncul dari mereka yang masih menuhankan materi. Mereka yang menuhankan materi akan selalu menghitung-hitung yang tampak terlebih dulu. Bahkan, bisa jadi mereka yang menuhankan materi akan menganggap immateri tiada guna. Hingga barang sebentar pun, mereka tak akan menganggap yang tak kasat mata ada.

Meminjam bahasa mas-mas Letto, selama kita berpegang pada yang kasat mata, selama itu pula kita belum akan menemukan yang sejatinya ada. Selama kita masih menghitung-hitung dan mengutamakan hal-hal materialistis dalam Maiyahan, selama itu pula kita belum benar-benar bisa merasakan asyiknya Maiyahan. “Yang berganti hanya buih, yang sejati tak akan berdalih.”

“Anda tidak bisa menangkap apa yang ada di sini dari televisi. Kalau pengen mendapatkan berkah ya datang ke sini.” Begitulah yang disampaikan Mbah Nun malam itu. Bahwa meskipun kita turut menyimak acara Maiyahan via YouTube ataupun melihat di televisi, kita tidak akan bisa benar-benar menangkap apa yang ada di Maiyahan itu secara sama dengan yang langsung menghadirinya. Pernyataan tersebut seolah menegaskan, Maiyahan bukan hanya tentang apa yang didengarkan. Lebih dari itu, Maiyahan adalah tentang apa yang dirasakan, tentang atmosfer dan gelombang elektromagnetik yang hanya bisa dijangkau kalau kita berada dalam satu ruang dan waktu dengan ‘sumbernya’.

Seolah semua sudah ada yang menata dengan begitu apiknya, Yai Muzammil yang kali ini baru hadir di akhir acara  bisa langsung mengait kepada apa-apa yang dibahas sebelumnya. Senada dengan yang disampaikan Mbah Nun di awal acara, Yai Muzammil mewanti-wanti agar kita tak sampai salah dalam menggunakan ukuran. Apa yang menjadi ukuran kita dalam melihat segala sesuatu: materi ataukah immateri.

Malam itu Yai Muzammil juga mencoba mengajak jamaah untuk berdialektika yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Jika kebanyakan orang menganjurkan kita berkumpul dengan orang-orang shalih, Yai Muzammil mengajak kita untuk juga berkumpul dengan orang yang dipandang belum shalih. Tujuannya, agar kita pun turut mengajak yang lain untuk berjalan menuju kebaikan bersama-sama.

Hal ini kurang lebih sama dengan uraian Mbah Nun. Kita dianjurkan untuk tidak membawa lingkaran kita hanya ke dalam saja, tetapi membawanya ke luar juga. “Peran Anda makin luas skalanya.” Begitulah harapan sekaligus imbauan Mbah Nun malam itu. Bahwa kita memang butuh untuk terus belajar menjadi manusia ruang, meningkatkan dimensi kita, agar semakin luas jangkauan kebermanfaatan yang bisa kita bagikan kepada sesama.

Berbicara materi dan immateri, malam itu Cak Fuad juga mengingatkan agar kita senantiasa ingat tujuan perjalanan hidup kita. Bahwa perjalanan kita tak hanya berhenti di dunia semata, melainkan akan berlanjut hingga ke akhirat. Karenanya, kita pun harus berhati-hati dalam mengambil pijakan. Jangan sampai kita terlena dengan tipuan keindahan dunia yang hanya sementara.

Cak Fuad mengantarkan jamaah untuk mengaji surat Al-Baqarah ayat 212. Satu ayat yang menyatakan dunia ini memang sengaja diciptakan tampak indah bagi orang-orang kafir. Ayat ini sekaligus menjadi pengingat kita bahwa saat kita merasakan dunia ini indah dan tertarik pada dunia, saat itulah kita perlu mengecek kadar kekufuran kita.

Mengajak untuk sama-sama mencari. Itulah di antara yang menjadikan pembeda antara Maiyah dengan forum pengajian lainnya. Malam itu, Mbah Nun memberikan beberapa PR untuk dijadikan permenungan para jamaah, misalnya,  mencari dan meneliti sebab akibat antara politik dan ekonomi, antara kekuasaan dan kapital.

Seperti biasa, jamaah senantiasa antusias. Hujan menjelang acara di beberapa kota, seperti Malang, Blitar, dan Jombang tak menghalangi jamaah untuk tetap melingkar. Yang perlu kita ingat di sini adalah tak semua orang berkesempatan sama. Bahkan, yang rumahnya dekat dengan Menturo pun belum tentu bisa diperjalankan ke sana. Kalau sudah begini, tidakkah kita ingin mencari, apa gerangan maksud Tuhan memperjalankan kita hingga sampai sejauh ini? (Hilwin Nisa’)