MaSuISaNi, Menginsyafi Jalan Sunyi

Catatan Kumpul Maiyah Bali, 11 Maret 2018

Karena kita berada di sini, saya sangat berharap. Pada jam nol nol ke tanggal 18, alangkah indahnya kita masing-masing sembahyang, beryoga, bersemadi, atau sejenak jeda. Saya mohon pada saat itu, coba Anda sapa Jalan Sunyi-nya Emha pada jam-jam seperti itu” –Umbu Landu Paranggi

…“Tombo ati, iku ono limang perkoro”…

Mengawali malam di sebuah pengkolan, sekonyong-konyong suara baritone bersahutan diiringi pukulan jimbe dan petikan gitar string. Aransemen dadakan itu mengalun beriringan dengan suara-suara jangkrik dan kodok di tepi Tukad Campuhan Batu Bulan, Gianyar. Di Rumah Wisanggeni itu, di Jl Campuhan nomor tujuh, tanggal 11 Maret, mereka yang datang dari Denpasar, Tabanan, Gianyar, Badung, duduk melingkar, bersap-sap.

Seorang lelaki berkemeja dan bercelana hitam tak henti-henti menyapa satu persatu orang yang hadir. Mempersilakan mereka lalu mengajaknya ngobrol. Saya memanggilnya Mas Sai. Si empunya Rumah Wisanggeni. Di pojok yang lain, beberapa lelaki juga sibuk mengaduk kopi, teh serta menyusun macam-macam penganan di atas nampan.

MASUISANI-Maiyah Sumur Ilmu Sawah Nilai

3 Februari lalu, Jamaah Maiyah Bali bersepakat melingkar rutin dalam sebuah majelis ilmu yang diberi nama MaSuISaNi. Nama ini diberikan langsung oleh Umbu Landu Paranggi. MaSuISaNi merupakan kepanjangan dari Maiyah Sumur Ilmu Sawah Nilai. Ketika itu, Umbu menyatakan bersedia hadir dalam acara Kumpul Maiyah yang sebaiknya diadakan pada Minggu malam sebelum tanggal 25.

Minggu malam (11/3), tepat pukul 20.00 Wita, acara yang bertajuk Kumpul Maiyah Bali dimulai. Dibuka dengan sharing pengalaman masing-masing orang yang hadir bersentuhan dengan Maiyah serta berbagi pemahaman mengenai apa itu Maiyah. Selanjutnya, ada pembacaan puisi oleh Imam Barker dan Ahmad Obe Marzuki, improvisasi dari Heru Pekik serta penampilan Kelik Crong (grup musik keroncong) yang membawakan puisinya Umbu berjudul ‘Apa Ada Angin di Jakarta’ dan menyanyikan lagu ‘Indonesia Tanah Air Beta’.

Dalam paparannya, Umbu mengingatkan kepada semua yang hadir supaya menginsyafi jalan sunyi. Apalagi di Bali menjelang Hari Raya Nyepi pada 17 Maret 2018 yang bertepatan dengan Hari Saraswati. “Momentum Nyepi itu langsung saya hubungkan dengan Em (sebutan untuk Emha). Apa yang Em mau bilang, Jalan Sunyi itu dah. Saya yakin pencarian itu tidak akan habis-habis. Pencarian ke Jalan Sunyi. Jadi sesungguhnya saya hanya ingin memohon supaya kita tetap di Jalan Sunyi. Emha sendiri saya kira masih memperjuangkan Jalan Sunyi-nya itu. Sebab, dengan sangat tepat leluhur Jawa dan leluhur Bali itu menegaskan ‘Sangkan Paraning Dumadi’”, ujar Umbu.

Umbu juga bertutur tentang sahabatnya yang seorang Perancis, menulis soal Nyepi sebagai bentuk berserah diri, pengorbanan juga kesadaran. “Kalau Islam, berserah. Kalau Nasrani, pengorbanan. Kalau Hindu Bali-nya, Kesadaran. Jadi disingkat BPK. Bukan Badan Pemeriksa Keuangan lho, tapi Berserah diri Pengorbanan Kesadaran”, katanya. Beliau melanjutkan, “Karena kita berada di sini, saya sangat berharap. Pada jam nol nol ke tanggal 18, alangkah indahnya kita masing-masing sembahyang, beryoga, bersemadi, atau sejenak jeda. Saya mohon pada saat itu, coba Anda sapa Jalan Sunyi-nya Emha pada jam-jam seperti itu”.

“Tadi sudah diawali dengan baca puisi, improvisasi, menyanyi keroncong, itu sudah benar. Ciri khas kita di sini memang harus budaya”, katanya lagi. Selanjutnya, Umbu bercerita mengenai masa-masa awal di Jogja tahun 1960-an karena kepincut kata ‘Taman’, serta cerita tahun-tahun sesudahnya. “Taman Siswanya Ki Hadjar Dewantara. Dan seperti kita begini ini, sesungguhnya kita sedang membikin taman. Jadi, menurut saya proses belajar itu masih terus berlangsung. Malam ini, seperti kata teman yang orang Perancis tadi, kita bersatu dalam haru. Sebab orang yang tidak bisa terharu, cocoknya untuk kekerasan. Sedangkan bangsa kita, saya kira tidak cocok untuk kekerasan,” pungkasnya.

Hadir juga Welldo Whnopringgo dengan keunikannya. Ia yang sehari-hari melukis, mengajar yoga dan meditasi, serta memberikan pencerahan mengenai spiritualitas, malam itu membacakan catatannya, mengajak semua yang hadir untuk menyelami spiritualitas dan pencarian jati diri.

Menjelang pukul 23.00 WITA lewat, gesekan Chelo, petikan Cuk (gitar kecil) dan gitar melodi serta suara-suara yang renyah, bersatu padu mendendangkan Keroncong Kemayoran.

…..“ Hoooo… lalalalala… hoooo…
keladi dalam lemari
yang baik budi yang saya cari
hoooo… lalalala… hoooo…
boleh lupa kain dan baju
jiwa manis indung disayang
hoooo… lalalala… hoooo…
janganlah lupa , jangan lupa kepada saya…”

(Ning Palupi)

Karena kita berada di sini, saya sangat berharap. Pada jam nol nol ke tanggal 18, alangkah indahnya kita masing-masing sembahyang, beryoga, bersemadi, atau sejenak jeda. Saya mohon pada saat itu, coba Anda sapa Jalan Sunyi-nya Emha pada jam-jam seperti itu” –Umbu Landu Paranggi …“Tombo ati, iku…

Topik

Bangbang Wetan19Cammanallah14Cermin59Esai1358Gambang Syafaat21Hari Santri10Informasi22Jepretan37Juguran Syafaat19Kenduri Cinta63KiaiKanjeng12Letto3Mocopat Syafaat39Musik13Novia Kolopaking5Padhangmbulan35Puisi161Relegi6Reportase580Teater9Wedang Uwuh73