Manusia Ruang

Mukadimah Suluk Surakartan Agustus 2018

Banyaknya perkubuan dan konflik-konflik horizontal belakangan ini, patut menjadi perhatian dan perenungan kita bersama. Entah itu urusan pemilu elektoral maupun urusan-urusan perbedaan tafsir keagamaan, masyarakat kita saat ini menjadi lebih akrab dengan perkubuan dan tidak mampu mengelola perbedaan sebagai bagian dari kenyataan hidup.

Kita terpaksa turut menikmati berbagai kericuhan itu, walau sebenarnya hati kita tak menginginkannya. Terkadang tanpa sadar kita juga sering kehilangan kuda-kuda untuk selamat dari berbagai gesekan-gesekan sosial yang absurd itu. Ada apa dengan kita? Mengapa kita kok senang sekali ketika bergesekan dengan orang lain? Mengapa kita menjadi senang adu menang-menangan pada hal-hal yang tidak bermanfaat dalam membangun bebrayan agung ini?

Ada baiknya kita mulai bertanya-tanya tentang sumber penyebabnya. Jangan melihat orang lain dulu, tapi mari lihat diri kita masing-masing. Jangan-jangan segala bentuk kericuhan itu sebenarnya berawal dari sempitnya ruang penerimaan kita. Bukankah hidup ini sedemikian luasnya. Tetapi karena begitu sempitnya ruang penerimaan dalam diri kita sehingga kita begitu mudah alergi dengan perbedaan dan kita menjadi mudah tersinggung pada hal-hal yang sebenarnya tidak substansial terkait urusan martabat kehidupan kita.

Jika belajar dari cara Tuhan menciptakan alam semesta ini, kita akan mendapatkan pelajaran tentang bedanya ruang dengan perabot. Perabot adalah adalah segala sesuatu yang bersifat mengisi ruang. Jika kita hidup dalam kesadaran perabot, betapa statisnya dan betapa mudahnya kita bergesekkan satu sama lain. Dengan demikian, tidakkah lebih tepat jika kita hidup dalam kesadaran ruang, sehingga kita bisa menampung segala hal sembari memperhatikan dengan teliti mana perabot yang bermanfaat, mana yang mubadzir, dan mana yang membahayakan.

Manusia yang berkesadaran ruang akan lebih banyak belajar memahami seraya berusaha memaksimalkan kapasitas ruang dalam dirinya agar senantiasa dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya. Ia menjadi waspada karena selalu memperhatikan dengan cermat apa yang ia tampung dalam kesadaran ruangnya, sehingga justru jelas apa yang menjadi kebaikan dan apa saja yang membahayakan. Sehingga ketika melakukan tindakan, manusia-manusia yang berkesadaran ruang akan selalu mengutamakan kebaikan, bukan sekedar unggul-unggulan soal kebenaran.

Dengan prinsip itu, maka maiyah Suluk Surakartan berupaya menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin belajar untuk melatih dirinya menjadi manusia ruang. Sebab, di tengah berbagai kekacauan dan ketidakpastian yang sedang dialami banyak orang, maiyah menawarkan wadah berkumpul kepada manusia-manusia yang sungguh-sungguh ingin belajar mengenal dirinya dan merenungkan tugas penciptaan yang Tuhan gariskan. Sehingga diharapkan setiap jamaah maiyah menjadi manusia yang khairunnas anfauhum linnas seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Buku Cak Nun