Manusia Kuota

Mukadimah Suluk Surakartan September 2018

Kita sering mendengar kata “kuota”. Maklum, ini adalah zaman digital. Zaman di mana manusia setiap hari sering berurusan dengan paket data yang berbatas kuota. Pekerjaan kita sehari-hari adalah menggunakan data itu hingga mencapai batas kuota yang tersedia.

Di media sosial, kita melihat hasil dari konsumsi data itu. Ada yang melahirkan tulisan-tulisan bijak dan menginspirasi para pengguna lainnya. Namun ada juga yang justru menebarkan provokasi kebencian dan menimpakan berbagai tuduhan kepada yang lain. Lalu menjadi viral dan gaduh. Sama-sama menggunakan kuota data, hasilnya beda beda

Jika melihat kehidupan di alam ini, maka prinsip dasarnya adalah fasilitas itu mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya. Maka jika kuota diibaratkan fasilitas yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, semestinya ia diambil sesuai ukuran kebutuhan wajarnya, tidak mematok kuota di awal sehingga melahirkan pemborosan.

Belajar dari kehidupan masyarakat desa yang masih murni, yang oleh peradaban modern sekarang mereka disebut sebagai masyarakat miskin, sesungguhnya mereka justru menjalankan prinsip dasar kehidupan yang digariskan-Nya. Orang-orang desa disebut miskin oleh peradaban modern lantaran mereka hanya mengambil secukupnya apa yang mereka butuhkan, dan membiarkan apa yang tersedia berlimpah itu untuk diwariskan kepada anak cucu.

Keadaan tersebut sangat bertolak belakang dengan budaya modern yang sangat konsumtif. Berbagai hal yang ditawarkan untuk dikonsumsi, cenderung lebih besar dari apa yang sebenarnya kita butuhkan. Jika dalam sebulan kita sebenarnya hanya membutuhkan pulsa 10 ribu, kita diiming-imingi pulsa 25 ribu dengan berbagai tawaran menarik yang menyertainya. Demikian pula pada berbagai hal lainnya, kita dimanjakan oleh iming-iming dan gambaran kehidupan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Dari situlah keinginan kita dieksploitasi agar terus tumbuh tanpa batas.

Itulah kesesatan peradaban modern yang seolah menawarkan kelimpahan kuota, padahal sesungguhnya itu adalah pemborosan yang parah. Keadaan semcam ini membuat daya tahan kita sebagai manusia semakin lemah, sebab setiap waktu kita dipacu untuk menghambur-hamburkan kuota yang sebenarnya tidak kita perlukan. Hal itu akan berdampak buruk ketika ketersediaan kuota kian menipis, kita akan menderita, padahal sebenarnya kita masih mampu bertahan.

Kita dibuat menjadi mudah lapar dengan berbagai makanan enak yang mahal, padahal sebenarnya tubuh kita hanya butuh makan secukupnya dengan bahan yang diproduksi sendiri. Kita sangat terobsesi dengan hal-hal material yang berlebihan, padahal semuanya itu kuota yang disediakan tuhan untuk kita pergunakan sesuai kadarnya. Kita semakin tergila-gila lagi ketika berurusan dengan uang sehingga gemar menumpuknya agar kita disebut sebagai orang kaya.

Di situlah kita menemukan ketidakseimbangan yang ditawarkan kehidupan modern. Sehingga perekonomian kita menjadi sangat terpuruk, sebab produksi dan konsumsi tidak berjalan selaras. Padahal seharusnya, perekonomian itu akan sehat jika berjalan seperti mudahnya kita bernafas. Ketika kita mengambil oksigen, maka kita juga melepaskan karbondioksida dengan lapang pula. Jika ditarik dalam cara berekonomi, ketika kita berharap ada pemasukan yang besar, maka semestinya kita memiliki produktivitas yang besar. Demikian pula jika kita memiliki kelimpahan harta, maka semestinya kita menyebarkannya kembali agar memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya.

Tapi kenyataan yang berjalan tidak demikian, ada di antara kita yang memiliki keinginan membabi buta, sehingga memiliki tingkat konsumsi berlebihan alias overload memanfaatkan kuota. Di sisi lain, ada sekelompok orang super kaya yang memanfaatkan lonjakan tingkat konsumsi itu untuk menumpuk kekayaan sebesar-besarnya. Hal ini ibarat merebut jatah kuota yang seharusnya bisa dimanfaatkan bersama-sama. Demikianlah ketika budaya akumulasi dan kepemilikan menjalar sebagai penyakit peradaban.

Maka dari itu, kiranya penting kita kembali kepada kesadaran kuota yang ideal. Setiap diri kita pasti memiliki kuota yang tidak sama persis. Demikian pula anak cucu kita, mereka juga memiliki jatah kuota masing-masing. Semuanya disediakan oleh Allah dalam sistem terpadu yang melimpah di alam semesta ini. Apakah kita akan menjadi manusia modern yang hobi menggasak kuota anak cucu? Atau kita mulai kembali pada kuda-kuda manusia yang ikhlas, yang hanya memanfaatkan jatah kuota kita masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Buku Cak Nun