Wedang Uwuh (64)

Mantra Segoro Uwuh

Kedaulatan Rakyat, 6 Februari 2018

Pèncèng duduk bersila. Menghadap tembok. Di pojok ruang depan rumah Simbah. Punggungnya tegak. Wajahnya menghadap tepat ke arah depan. Kedua mripatnya berpejam. Kedua telapak tangannya menempel satu sama lain, menghadap ke atas. Diam tak bergerak sejak tadi.

Simbah, Gendhon dan Beruk mengintip dari ruang depan. Sesekali mereka menoleh satu sama lain. Rumah Simbah adalah rumah kemerdekaan dan kemurnian. Ruangan-ruangan di rumah Simbah hanya kosong. Hampir tak ada perangkat-perangkat keduniaan sebagaimana lazimnya rumah-rumah diisi oleh kebanyakan orang. Itu semacam rumah pesanggarahan. Rumah yang didatangi oleh hanya orang yang mencari.

Tiba-tiba terdengar suara Pèncèng: “Niat ingsun jamasan /Jamasi raga hulun / Resik o raga hulun sejati /Resik o saka karsaning Gusti /Resik o wuluku /Resik o kulitku /Resik o dagingku /Resik o uratku /Resik o getihku /Resik o balungku /Resik o sungsumku”

“Mandi besar…”, Beruk berbisik.

“Mandi jinabat”, Gendhon menyahut.

“Lho dia kan masih Jomblo”

“Kan bisa karena mimpi basah”

“Tapi rambutnya tidak tampak habis dikramasi”

“Itu mandi kesadaran. Dengan niat dan kesadarannya ia membersihkan jasadnya, bulunya, kulitnya, dagingnya, uratnya, darahnya, tulangnya, sungsumnya, diri-nya…”

“Begitu ya…”

“Orang mandi jinabat diklaim kotor berat oleh SOP-nya Allah. Tapi seluruh raga Pèncèng kotor berat karena tiap hari menghirup hawa kotor kehidupan, keadaan zaman yang penuh kemunafikan, kejahatan dan kedhaliman. Pèncèng tidak berada di suatu keadaan yang membuat dia bisa memperbuat semua kebobrokan itu, tapi ia merasa terkena hawa buruknya. Pèncèng merasa hidup di tengah Segoro Uwuh…”

“Apa itu tidak melanggar Syariat? Pèncèng kan Muslim”

“Kalau kalimat itu diucapkan dalam Shalat, ya melanggar”

“Mantra itu sendiri apa tidak melanggar Syariat?”

“Itu inisiatif untuk membersihkan diri. Membersihkan kepribadian”

“Kan tidak ada ajaran seperti itu dalam tuntunan Syariat?”

“Ya tapi kan juga tidak ada larangannya. Bahkan bersih diri dan lingkungan sangat dianjurkan. Anak-anak PAUD hapal an-nadhofatu minal iman. Kebersihan itu bagian dari iman kepada Tuhan”

“Tapi kan bagaimana cara membersihkan diri sudah ada tuntunannya dari Nabi Muhammad saw?”

“Pakai sabun, sikat gigi dan odol modern apa melanggar tuntunan Nabi? Apa Nabi buang air besar pakai kloset? Apa beliau mandi pakai shower? Handuknya Nabi terbuat dari apa? Apa ada tuntunan dari Nabi bagaimana mengambil slilit dari sela gigi? Belum lagi motor, listrik, pesawat, pulsa. Pèncèng sudah lama mempelajari dasar aturan di wilayah Ibadah Mahdloh dan Ibadah Mu’amalah. Dia bersila dan bermantra di pojok itu upaya membersihkan kepribadiannya. Itu ijtihad. Asal tidak dicampur dengan Ibadah Mahdloh kan tidak apa-apa. Nabi pun tidak pernah pakai sarung atau peci…”

Tiba-tiba terdengar lagi suara Pèncèng: “Getihku segara murup /Napasku lesus /Bayuku rasa /Sungsumku adamar singgih /Kulitku tembaga /Dagingku waja /Ototku kawat /Balungku tosan aji /Ratuning gegaman tan ana /Tumama ing ragaku /Kang mengkoni ratuning braja /Teguh rahayu raharja…”

“Wah itu bisa dituduh bidngah”, bisik Beruk lagi.

“Bukan. Kata-kata seperti itu sudah ada sejak hampir 6 abad silam. Bidngah adalah membikin sesuatu yang sebelumnya belum ada. Misalnya pertama kali orang bikin nasi, sebelumnya orang tahunya padi, belum punya gagasan dan alat untuk menjadikannya beras kemudian nasi. Kalau saya bikin nasi goreng yang bumbunya saya campur dengan tetesan keringatmu, itu baru bidngah…”

“Ah, tapi tetap saja akan dituduh bidngah…”

“Kalau semua yang kita lakukan harus persis seperti Nabi Muhammad, kita belum punya bahan dari hasil penelitian bagaimana Nabi cara memotong kuku, bagaimana potongan celana dalam beliau dan banyak lagi. Apalagi tidak ada kain yang persis seperti kain yang dipakai untuk gamis beliau. Dijahit atau didondomi juga kita tidak punya bahan”

“Syirik…Musyrik…”

“Syirik adalah mentuhankan yang bukan Allah. Pèncèng sangat menuhankan Allah”

Rumah Simbah adalah rumah Hati Ibadah dan Pikiran Tafakkur. Jiwa mencari kesejatian, akal mencari kejernihan, hati memperluas kasih sayang. Bukan rumah kecurigaan dan tuduhan: Ngapain itu Si Pèncèng? Bersemedi? Yoga? Meditasi? Semua yang sering jagongan dengan Simbah juga taat shalat lima waktu, berpuasa Ramadlan, meskipun belum berhasil menabung biaya untuk naik haji.

“Tapi apa itu Getihku segara murup /Napasku lesus /Bayuku rasa /Sungsumku adamar singgih?…”

Itu bahasa simbol. Itu susastra. Itu harapan dan doa. Mungkin Pèncèng merasa terlalu gerah berenang di Segoro Uwuh ini. Yang setiap kali ganti pengurus, selalu tambah uwuh-nya.

Pèncèng duduk bersila. Menghadap tembok. Di pojok ruang depan rumah Simbah. Punggungnya tegak. Wajahnya menghadap tepat ke arah depan. Kedua mripatnya berpejam. Kedua telapak tangannya menempel satu sama lain, menghadap ke atas. Diam tak bergerak sejak tadi. Simbah, Gendhon dan Beruk mengintip dari…