Manajemen Empan Papan dan Tiga Kuda-kuda dalam Hidup Bebrayan

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-72 Desa Ringinharjo, Bantul, 13 Desember 2018

Belum ada pukul 20.30 WIB, KiaiKanjeng sudah menyapa para hadirin yang memadati lapangan tempat berlangsungnya Sinau Bareng malam ini. Tak lama Mbah Nun juga naik ke panggung bersama para sesepuh desa, Lurah serta pihak kepolisian dan militer. Setelah kemarin Mbah Nun dan KiaiKanjeng memesrai arek-arek Jombang. Malam ini, giliran di Desa Ringinharjo, Bantul, Yogyakarta dalam rangka memperingati hari jadi Desa Ringinharjo ke-72.

Mbah Nun sedikit menceritakan kesibukan yang diatur oleh kebutuhan masyarakat ini dengan sedikit bercanda mesra, “Gek ngopo aku rabi.” Dan dengan mantap Mbah Nun juga sampaikan bahwa ini tidak lepas dari kepercayaan dan dukungan Bu Via. Kita memang perlu juga mengerti bahwa di balik sajian kemesraan-kemesraan Sinau Bareng, waktu bersama keluarga adalah kemewahan yang jarang bisa didapatkan oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Mengerti hal seperti ini sebaiknya membuat kita lebih memahami proses dan perjuangan bahwa dukungan keluarga selalu adalah yang paling utama. Banyak yang bisa kita pelajari dari sini.

Mbah Nun membuka bahasan malam ini dengan menegaskan tiga hal kunci terutama dalam mengatur pola hidup bebrayan. Yakni bener, apik dan wicaksono. Ini bila dipersamakan dengan tafsir Qur`an bisa disamakan dengan Al-Haq, Khoir, dan Hikmah. Kebenaran mesti diatur, dia mesti memproduksi kebaikan. Kalau kebenaran itu berpotensi melahirkan ketidakbaikan, maka baiknya kita belajar menahannya dalam diri. Tapi kebaikan pun perlu juga dibijaksanai, wicaksono.

“Ojo ono manungso sing keroso bener dewe, Ojo ono manungso yang terlalu fanatik dengan kebenaran yang dia anut.”

Belakangan ini kita memang sedang dilanda fanatisme-fanatisme, heroisme golongan direproduksi terus-menerus, pembangunan militansi sempit berbenturan dengan militansi golongan lain sehingga yang terkorbankan adalah hidup sesrawungan, bebrayan dan komunalitas.

Mbah Nun mengajak kita mengingat kembali, bahwa sejak dulu manusia Jawa-Nusantara sudah punya istilah empan papan, dan ini adalah inti dari segala manajemen. Satu juga kunci agar kita terselamatkan dari fanatisme golongan adalah dengan menyadari bahwa semua versi kebenaran selalu relatif bila datangnya dari manusia. Cukup ekstrem contoh yang diberikan Mbah Nun. Ekstrem tapi perlu.

Bahwa yang tidak ada relativitas di dalamnya hanya ucapan Allah Swt dan Kanjeng Nabi Saw. Selainnya menurut Mbah Nun, bahkan Khulafaur Rasyidin sekalipun, para ulama, ilmuwan, akademisi, wali, dukun dan lainnya adalah pendapat yang lebih banyak relatifnya. “Nganti Ainun Najib ya relatif,” Mbah Nun mencontohkan sendiri. Dalam terminologi latin kita kenal “de omnibus dubitandum” segala hal layak dan mesti diragukan. Ini salah satu kalimat favorit banyak filsuf, bahkan Karl Marx. Ya tapi itu juga kata bukunya orang, jadi boleh kita ragukan juga.

Mbah Nun meminta nomor Man Paman Sing Nguyan Jaran, tembang yang mengingatkan kembali kita mengenai martabat sebagai bangsa Nusantara. Kepedihan akibat hanyutnya popok, martabat di arus global. Sinau Bareng malam ini sudah bermula dengan banyak mesra di dalamnya.

Buku Cak Nun