Mamak Mengerti yang Sebaiknya Berlangsung

Catatan Perjalanan Manaraturrahmah, 10 April 2018

Sebenarnya saya ingin mendengarkan suara Mamak Cammana melantunkan banyak Shalawat, tetapi Allah menakdirkan dan menunjukkan hal yang lain. Setiap kali mic diberikan Mbah Nun kepadanya, Mamak Cammana tidak mau atau tidak sanggup menerima.

Kegembiraan hati lebih mendominasi, sehingga Mamak lebih memilih menikmati serta mensyukuri kehadiran Mbah Nun dan rombongan ketimbang memperlihatkan suaranya. Padahal Mamak Cammana pasti sudah menyiapkan diri bersama anak-anak asuhnya. Tetapi demikianlah memang adegan cinta yang terjadi siang itu.

Juga rasa-rasanya Mamak mengerti apa yang sebaiknya berlangsung, dan itu demi kepentingan ke masa depan. Sesudah ibu-ibu Majelis Ta’lim Shohibu Baiti turut menyambut kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng dengan Shalawat Badar dan pepujian Asmaul Husna, mereka langsung disambungkan dengan KiaiKanjeng untuk dilatih tiga buah nomor yang aslinya berbahasa Jawa tetapi sudah dibahasaMandarkan.

KiaiKanjeng memang telah menyiapkan tiga nomor ini buat dihadirkan dalam agenda Manaraturrahmah di bumi Mandar ini. Walaupun barangkali tak ada informasi yang sampai kepadanya, tapi Mamak sepertinya tahu atau merasakan itu, dan merasa akan sia-sia kalau anak buahnya tidak diberi kesempatan buat menyerap dari talenta-talenta KiaiKanjeng ini.

Jadilah hampir sebagian besar pertemuan siang itu menjelma ruang belajar bersama. Tapi tak sekadar belajar saja, karena di dalam berlangsungnya belajar itu muncul pula kegembiraan, keakraban, dan bahkan tercipta adegan yang lucu tapi indah (kata kuncinya: Pak Nevi hehe).

Pada satu sisi, KiaiKanjeng berkesempatan memperbaiki alih bahasa Mandar pada teks lagu, sedangkan pada sisi lain, ibu-ibu belajar lagu dan formasi yang dikomposisikan dengan pukulan-pukulan terbang. Tetapi ini bukan sesuatu yang sudah jadi. Pada salah satu nomor, yang terbilang sulit jika dipadukan dengan terbang, KiaiKanjeng berjuang mencari kemungkinan-kemungkinan, sampai akhirnya bisa dicapai.

Semua proses itu dipandu langsung oleh Mbah Nun yang sejauh saya mengikuti memang memiliki sensibilitas musikal sangat tinggi sehingga bisa ngrasakke sebuah kehadiran lagu pada keseluruhan dan kepaduannya maupun pada lekuk-lekuk detailnya.

Adapun Mamak Cammana adalah bahagia dan banyak tersenyum menyaksikan anak-anak asuhnya belajar kepada KiaiKanjeng. Sebuah pengalaman dan kehormatan tersendiri bagi mereka, dan itu mereka katakan langsung pada saya. Tak bisa setiap saat punya kesempatan belajar kepada KiaiKanjeng. Jelaslah, sesungguhnya Mamak telah memberikan kesempatan berharga, agar mereka lebih berkembang dan lebih kaya secara musikal, sehingga lebih tinggi pula kualitasnya. Sesuatu yang penting sebagai proses regenerasi.

Itulah yang saya maksud dengan Mamak sepertinya mengerti apa yang sebaiknya berlangsung tadi. Sesuatu untuk perkembangan di masa depan.

Mereka tidak hanya belajar kepada Mamak Cammana sebagai maestro yang otentik tak hanya lagu dan suaranya, tetapi bahkan juga pukulan-pukulan terbangnya. Mereka perlu belajar kepada maestro-maestro KiaiKanjeng, dan khususnya kepada Mbah Nun sendiri, yang sepanjang proses workshop tadi dengan jeli merasakan setiap capaian, titik, dan kemungkinan. Mamak Cammana memberi contoh kepada mereka akan keterbukaan dan pilihan terhadap mutu yang tinggi, yang manaroh.

Sampai akhirnya Mbah Nun memuncaki pembelajaran ini dengan meminta ibu-ibu Sohibu Baiti ini tampil dalam acara malamnya di Stadion Prasamya Majene, dan mereka memang akhirnya datang dan tampil membawakan tiga nomor itu: Malimbong Atena (Jembar Atine), Purami Dipoloa (Aku Wis Kondho), dan Me`guru Mate (Sinau Mati). Dua lagu sebenarnya liriknya sudaj disiapkan dua tahun lalu saat Rihlah Cammanallah, tapi belum sempat dibawakan, dan baru di Majene ini dibawakan dalam formasi kolaborasi dengan ibu-ibu Sohibu Baiti.

Majelis Ta’lim Sohibu Baiti yang diasuh Mamak ini baru resmi berdiri setahun lalu, tetapi orang-orangnya sebagian adalah mereka yang setia menemani Mamak Cammana dalam formasi Shalawatannya. Anak dan cucu Mamak juga tergabung aktif kelompok ini. Keseluruhan anggotanya sekitar lima puluh orang.

Merekalah yang kerap menemani Mamak jika ada undangan untuk shalawatan di berbagai tempat sekitar Limboro atau bahkan lebih jauh. Biasanya mereka akan menyewa mobil angkudes kecil itu untuk berangkat menuju lokasi. Dan itu masih Mamak lakukan sampai seusianya saat ini, delapan puluh lima tahun. Sebuah keistiqamahan yang selayaknya membuat kita belajar, bercermin, dan mengambil teladan dari beliau.

Sehari-harih banyak dihabiskan di rumah, dan hanya keluar jika ada undangan. Sehari-hari di rumah atau di sanggar itu, Mamak menerima tamu-tamu yang meminta doa kepadanya, selain dihabiskan juga untuk mendidik anak-anak belajar ngaji dan shalawatan. Mamak dan ibu-ibu Majelis Ta’lim Sohibu Baiti punya jadwal reguler bertemua untuk ngaji dan shalawatan bersama.

Tetapi tak sebatas itu saja, ibu-ibu ini sebenarnya adalah bagian dari orang-orang yang mencintai Mamak. Sehingga, mereka berupaya semampu mungkin membantu dan menemani Mamak kalau-kalau ada berbagai keperluan entah memasak, belanja, melayani tamu, atau apa saja, dari keperluan rumah hingga pendidikan di sanggar Sohibu Baiti ini.

Semua yang hadir di rumah Mamak Cammana siang hingga memasuki sore itu menikmati kebersamaan dan keindahan melalui interaksi antara KiaiKanjeng dengan Ibu-ibu Majelis Ta’lim Sohibu Baiti ini. Termasuk yang duduk dan berada di luar. Saya pun saya sempat perhatikan Pak De Mus yang sedari awal diminta Mbah Nun duduk di sebelahnya. Kedua matanya konsentrasi penuh memperhatikan setiap bagian dari interaksi, bahkan detail dari belajar lagu dan terbangan itu, seraya merasakan makna dan substansi di baliknya.

Maka, dalam doa sebelum pamitan, Pak De Mus menyampaikan bahwa rumah ini penuh cinta, penuh berkah. Dan bahwa yang dilakukan Mbah Nun keliling ke mana-mana menebarkan cinta adalah perjalanan itba’ Rasul. Adalah juga perjalanan itba para wali dan pahlawan bangsa ini dari Pangeran Diponegoro hingga Imam Lapeo. Karena penuh berkah, maka Pak De pun sempat ngalap berkah, atau dalam bahasa Mandar adalah ma’ala barakka, kepada Mamak Cammana dengan meminta doa.

Saya juga ikut ma’ala barakka dalam perjalanan Manaraturrahmah ini.

Yogyakarta, 13 April 2018

Sebenarnya saya ingin mendengarkan suara Mamak Cammana melantunkan banyak Shalawat, tetapi Allah menakdirkan dan menunjukkan hal yang lain. Setiap kali mic diberikan Mbah Nun kepadanya, Mamak Cammana tidak mau atau tidak sanggup menerima. Kegembiraan hati lebih mendominasi, sehingga Mamak lebih…