Majelis Para Awam, Satu Forum Seribu Podium

Reportase Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng di Desa Sardonoharjo, 19 April 2018

Maka hidup menjadi asyik apa adanya “laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun”. Mbah Nun memberi contoh, bahwa kita jangan sendirian lepas dari kecemasan. Kita perlu ikut memerdekakan kecemasan-kecemasan yang banyak beredar di luar sana. Caranya tentu tidak dengan nambah-nambahin polusi doktrin buta lagi, tapi mari kita bersenang-senang dengan kesenangan yang disenangi Gusti Allah. Semangat Mbak Lulu!

Maka Ngaji Bareng, membangun kemesraan. Ilmu silakan gali sendiri, dengan temuan berdasarkan bekal akal dan pengalaman sendiri-sendiri. Ndilalah kok saya ketemu beberapa kawan malam itu, salah satunya Shodiq yang sama-sama sering jadi trainer outbond, ini adalah ketiga kalinya mahasiswa UII ini ikut acara Ngaji Bareng. Paginya saya hubungin Shodiq via WA, saya tanya apa dan bagaimana perasaanya dalam acara Ngaji bareng, jawaban yang muncul begini:

“Pertama, sangat menarik mas. Dalam artian menarik di sini kita di dalam acara tersebut disuruh mikir bareng, tidak melulu dikasih terus, tetapi kita yang disuruh nyari sendiri. Kedua, bertambahnya ilmu tentang keTuhanan. Ketiga, bertambahnya rasa persaudaraan. Makin cinta ciptaan Tuhan. Kalau ditanya perasaan, bahagia, sedih iya, cinta, deg-deg ser juga mas karena lihat kanan kiri gadis-gadis uayu-uayu. Makin siap nafkahi anak orang aku jadinya mas. Rupanya masih banyak anak gadis yang peduli ilmu agama. Hahahaha”

Ah dasar jomblo satu ini. Saya kok kurang menyangka logika-logika kunci soal kemesraan dan menggali dengan mandiri telah dicernanya dengan matang. Plus perhatiannya pada gadis-gadis sekitar tentu, itu nilai tambah mungkin baginya. Diq, hanya karena kamu terbiasa lihat gadis tanpa malu keluar dari kost pria yang tertutup rapat, ndak berarti semua mahasiswi seperti itu. Yang menjaga harga diri dan serius menggali kemurnian nilai juga banyak kok.

Saya sempat berkeliling, lihat-lihat stand jualan dan jajanan yang dijajakan di sekitar lokasi Ngaji Bareng ini. Ada juga stand yang memamerkan wayang kulit buatan sendiri. Pak Sardjio nama pembuatnya, beliau tinggal tidak jauh dari lokasi acara di Gang Arumdalu. Warga dan panitia tampaknya memang secara istimewa mempersiapkan acara. Pak Lurah Sardonoharjo sendiri juga sangat antusias, ini tidak perlu panjang lebar saya jelaskan. Tentu pembaca yang budiman sudah baca kan liputan berjudul 7 Hari Masani Sinau Bareng.

Ayu, putri bungsunya Bu Seger yang sudah saya anggap adik sendiri juga ikut menjadi bagian dari pemudi panitia yang mempersiapkan acara Ngaji Bareng, dan saya juga baru tahu saat di lokasi acara. Ini bukan “kakak-adik zone” ya. Saya kenal Ayu sejak dia masih kecil karena Bu Seger dulu yang jaga kantin di kampus saya dulu.

Dengan semua ibu kantin, saya kenal seluruh anggota keluarganya. Suaminya Bu Seger seorang anggota Banser militan. Sudah beberapa kali Ayu ingin ikut acara Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng tapi selalu berhalangan. Malam itu niatnya akhirnya terlaksana, sayangnya Ayu tidak bisa mengikuti acara sampai selesai. Dia kan mesti menemani ibunya menjaga warung sejak pagi-pagi. Bu Seger sudah tidak jaga kantin di dalam kampus, sekarang beliau sudah punya warung sendiri di belakang kampus dan sudah punya satu cucu dari Nunung, putri pertamanya.

Tanpa sengaja saya juga berpapasan dengan Nartono, akrabnya saya memanggilnya Paijo. Dulu aktif di sanggar teater di kampus kami, walau Nartono bukan mahasiswa, kondisi ekonomi tidak memungkinkan dia kuliah. Pribumi totok dari daerah mBesi, dulunya seniman jathilan. Beberapa tahu lalu saya ingat, Nartono sempat mengalami hal yang mirip dengan yang dialami Mbak Lulu. Bingung dengan banyaknya versi tafsir agama yang berbeda, mau berpikir sendiri selalu ditakut-takuti ancaman neraka, tidak qualified untuk berijtihad, tidak patuh, ngeyel, kualat sama kiai dan sebagainya. Tapi kalau Nartono saya kenal dari awal memang kendel orangnya. Biar kiai terkenal paling makrifat sekalipun dia ndak kèder, kalau dia ndak cocok ya sudah. Aliran kebatinan sekalipun dicobanya, dia punya bakat eksperimen tanpa henti. Sudah menikah dan punya satu anak sekarang.

Nartono sempat resah dengan kondisi di desanya, menurutnya sejak kaum muda di desanya masuk kuliah, apalagi sibuk berorganisasi di kampus, jadi aktivis, banyak muda-mudi desa yang sulit diajak srawung. Maka Nartono memberi tanggapan soal Ngaji Bareng, bahwa pada momen seperti ini ada kebersamaan dan nilai kekeluargaan yang selama ini dia rindukan. Suasana desa yang hilang. Saya sedikit merasa bersalah karena lama tidak berkunjung ke rumah Nartono.

Saya melihat sangat jauh perbedaan Nartono sekarang dengan yang dulu. Bagaimana dia dulu? Sudahlah tidak usah saya ceritakan. Mengenakan peci Maiyah, tidak otomatis adalah pertanda anda bagian dari Maiyah, memang. Tapi melihat Nartono malam itu mengenakannya sambil cerah merekah senyum di wajahnya itu sangat berarti.

Kami ini awam. Ya orang-orang seperti kami. Dimana tempat kami kalau tidak di Maiyah, atau di Ngaji Bareng seperti ini?

Lainnya

Speaker KiaiKanjeng Berapa Truck?

Kecuali Tujuan Kamu Berfilsafat

Sambutan Mesra Wakil Rektor Untidar

Sinau Elmu Tuo

Buku dan Merchandise