Maiyah, Umbah-Umbah

Catatan Majelis Ilmu Suluk Surakartan, 29 Juni 2018

Istri saya kembali menanyakan jadwal kegiatan untuk Jumat malam. Urusan jadwal, dulu saya sering mendengar, bahwa urusan hidup di planet Bumi sebagai manusia, terkadang harus mau menjalani aktivitas yang bukan berasal dari perencanaannya sendiri. Atau dengan pemahaman lain, hidup karena dijadwal orang lain. Mungkin itu salah satu bekal untuk menuju ‘Manusia Ruang’.

Jadwal Jumat malam itu saya harus mengantar istri periksa ke dokter spesialis kandungan. Karena sudah banyak yang menyarankan agar segera dilakukan USG, Ultrasonography yaitu teknologi yang memanfaatkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi yang tidak dapat didengar orang manusia untuk menampilkan citra gambar yang ada di dalam perut. Tujuannya ada dua. Satu, mengetahui jenis kelamin bayi. Dua, mengetahui posisi janin. Apakah sudah mapan sesuai yang seharusnya atau masih dalam kondisi sungsang.

Ternyata, dengan menggunakan suara kita bisa melihat kehidupan yang terhijab bermiliar lapisan. Apa ini yang terjadi ketika seorang Muhammad menerima wahyu “Iqra”? Karena saking tingginya frekuensi gelombang suara yang dipancarkan oleh Jibril, ketika,

“Iqra!” lalu tampak citra alam semesta beserta isinya dalam penglihatan Muhammad. Baik teks atau konteks. Tersirat atau tersurat. Atau apapun saja yang memang sudah disiapkan sebagai bekal bagi seorang Muhammad untuk menjadi ‘Manusia Ruang’ membawa rahmat semesta bagi alam seisinya.

Pukul tujuh kami menuju klinik. Namanya Barokah. Iya namanya persis seperti nama gang alamat Rumah Maiyah, di Kadipiro, Yogkakarta. Tidak lama setelah melakukan daftar ulang, kami diminta untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana sudah ada satu dokter dan dua asistennya yang kayaknya masih jomblo. Istri saya berbaring. Saya mengawal berdiri di dekatnya. Mbak asisten mengoleskan semacam krim pelembab. Mungkin untuk mengurangi iritasi kulit. Yang jelas bukan es krim.

Citra yang terlihat di layar monitor menunjukkan beberapa organ vital sudah terlihat. Saya semakin heran saja. Mbok kuwi sing jomblo-jomblo nek arep nembung cewek, ceweke di USG sek hatinya. Ngko gek-gek awakmu memang tidak pernah bersemayam di hatinya? Dadi nek ditolak ki ora kecewa. Siapa tahu ada klinik yang menyediakan jasa USG hati. Ah, drama sinetron!

Karena baru pertama kali ini, melihat pergerakan janin lucu juga rasanya. Aneh ya. Ada makhluk di dalam makhluk. Ada yang kehidupan di dalam kehidupan. Ada keindahan di dalam keindahan. Dokter menerangkan macam-macam.

“Yang itu jantungnya. Aktif.” Kata dokter. Saya manggut-manggut saja. Orang saya juga tidak punya ilmu untuk membaca citra USG.

“Mau tahu jenis kelaminnya?” tanya dokter. Sebenarnya tidak usah saya jawab juga, dokternya sudah tahu. Tujuan saya USG kan supaya tahu. Ah dokter ini lho!

“Ini, kemungkinan perempuan.” Kata dokter membuka satu pintu kemungkinan. Saya lagi-lagi plonga-plongo. Dokternya tahu ya?

Begitu selesai pemeriksaan dan membayar biayanya istri saya mengejek saya habis-habisan di tempat parkir.

“Ahahaha, bapak nebaknya apa? Cowok?”

“Ya nek menurut kepengenku ya cowok. Mbah ya ngomongnya cowok. Informasinya lewat dimensi mimpi.”

“Ahahaha, cowok apa cewek yang penting dedek-nya sehat. Tetangga sebelah rumah dulu ya ngomongnya anak kita bakalan cowok. Berdasarkan ilmu pembacaan raut muka ibunya. Nek ketok weliiiikkk, biasane lanang. Ahahah….