Maiyah Sebagai “Thariqah”

Pada tahun 2014 dalam rangkaian hajatan Banawa Sekar, sehari sebelumnya di Menturo Jombang diadakan pertemuan Jamaah Maiyah Nusantara. Dalam pertemuan itu Cak Anang Ansharullah selaku pembicara memberikan pertanyaan; Maiyah menurut pandangan para jamaah itu apa?

Masing-masing perwakilan simpul Maiyah dari berbagai wilayah menyampaikan pendapatnya dan sebagai wakil dari Jamaah Maiyah Papperandang Ate Mandar saya menyampaikan pendapat saya bahwa Maiyah bagi saya adalah metodologi kehidupan. Alhamdulillah ini mendapat respons yang baik dari Cak Anang dan mengatakan kalau sebagai metodologi berarti Maiyah adalah thariqat atau cara dan jalan.

Di berbagai forum Maiyahan Cak Nun belakangan ini menegaskan bahwa Maiyah di antara dialektika sabil, syari’, thariq dan shirath letaknya adalah thariq atau thariqat. Tetapi bukan lantas bahwa Maiyah disejajarkan dengan Naqshabandi atau tarekat lainnya. Karena pada hakikatnya menurut Cak Nun, manusia harus meniru dan menyamakan langkah dengan alam karena alam pasti akan kembali Allah. Manusia pun harus berjuang untuk kembali kepada Allah. Dengan berbagai sudut pandang Maiyah mencoba menjelaskan Islam dan ini sifatnya ijtihad.

Bahkan dalam tulisan tajuk Kepemimpinan Hidup Warga Negeri Maiyah di caknun.com tanggal 17 Februari 2018, Cak Nun menekankan bahwa Maiyah silakan saja disangka semacam ormas, aliran tarekat dan tidak keberatan disangka madzhab atau dituduh sekte, tetapi sama sekali tidak sama dengan semua yang pernah ada. Sehingga Maiyah adalah Maiyah dan kita sebagai orang Maiyah yang pernah bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan Cak Nun tetap mengikuti apapun yang diperjuangkan Cak Nun selama ini yang saya yakin tujuan akhirnya adalah mencapai ridla Allah SWT.

Berbagai ulama di setiap zamannya mengalami tantangan dalam menjelaskan dan menjaga Islam. Masing-masing punya cara dan dihidayahi oleh Allah dalam perjuangan mereka bahkan di setiap abad selalu diutus pembaharu Islam (mujaddid). Hal ini disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk ummat ini di setiap awal 100 tahun (satu abad), seseorang yang akan memperbaharui agama ini”. Para pembaharu itu diberi tugas oleh Allah untuk menjaga agama ini dengan berbagai metodologi yang bisa saja model gerakannya berbeda dengan yang ada pada zaman-zaman sebelumnya. Seperti halnya Maiyah yang memilih sebagai gerakan yang cair dan mengalir atau model organisme tidak dalam bentuk padat layaknya organisasi dalam pengertian umum.

Dalam perspektif sufisme, Syekh Nursamad Kamba menemukan konsep Maiyah sepanjang sejarah dalam tiga konteks. Pertama, saat Muhammad Saw dan Abu Bakar dalam perjalanan hijrah ke Yatsrib, ketika berlindung di Gua Tsur karena dikejar pasukan kafir Quraish. Kedua, diperkenalkan oleh Syaikh Ibnu ‘Arabi. Dan ketiga, digunakan oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari dalam perjuangannya melawan Belanda. Pada kurun ini Maiyah diwariskan kepada Cak Nun dan menurut pengakuan Beliau bahwa Maiyah adalah karya ciptaan Allah Swt.

Maiyah dan Kondisi Zaman Sekarang serta Perlunya Piagam Maiyah

Zaman sekarang ini kita berada dalam akhir zaman yang semakin hari semakin menuju kehancuran. Kita menyaksikan ummat manusia banyak yang menjauh dari cahaya Allah, mengalami era ultra jahiliyah yang luar biasa dengan kesempitan dan kedangkalan berpikir sampai tidak sedikit yang menjadi orang gila. Banyak yang mempertentangkan kebenaran, sama-sama saling merasa benar sendiri. Pada posisi ini Maiyah yang pada dasarnya mementingkan kebersamaan, berdiri di luar itu semua dan selalu berusaha mencari apa yang benar bukan mencari siapa yang benar demi menghindari terjadinya konflik. Karena konflik terjadi bila ada orang memaksa orang lain untuk memilih kebenaran yang dia yakini.

Indonesia sebagai tanah tumpah darah kita di mana Maiyah ditakdirkan lahir,  meskipun Negara tidak punya perhatian kepada Maiyah, tetapi Cak Nun terus mencintai dan berupaya menjaga rumah kita bersama dengan berbagai cara, minimal tidak ikut merusak. Hal itu kita dapat saksikan puluhan tahun sampai hari ini Cak Nun betul-betul memilih jalan sunyi, berani melawan arus berkeliling menebarkan cinta dan kasih sayang sebagaimana apa yang diajarkan Islam.

Hidayah Maiyah pelan-pelan menyebar di mana-mana. Di berbagai daerah simpul-simpul Maiyah terbentuk alami sampai hari ini sudah terdata ada 52 (Lima Puluh Dua) Simpul Maiyah, yang semuanya lahir dari inisiatif dan keinginan Jamaah Maiyah sendiri tanpa ada instruksi langsung dari Cak Nun.

Berkaca dan mengacu pada sejarah lahirnya Piagam Madinah ketika Nabi bersama para muhajirin telah berhijrah ke Yatsrib (Madinah), dan saat itu terdapat komunitas di Madinah yang plural dengan berbagai suku dan kaum-kaum. Sehingga Nabi Muhammad merasa perlu menyusun perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku dan kaum penting untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj. Untuk masyarakat Madinah bersama-sama menetapkan sejumlah hak dan kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi dan komunitas-komunitas pagan Madinah.

Dari inspirasi dan semangat meneladani Rasulullah tersebut, Maiyah pada akhir tahun 2017 berinisiatif menyusun Piagam Maiyah sebagai perjanjian definitif untuk mengatur pola pergaulan antara sesama Jamaah Maiyah dan antara Jamaah Maiyah dengan lingkungan sekelilingnya. Proses penyusunan Piagam Maiyah dijaring dari aspirasi seluruh Jamaah Maiyah di seluruh Simpul Maiyah.

Kehadiran Maiyah tidak akan menjadi ancaman bagi dunia karena apa yang diperjuangkan di Maiyah bukanlah untuk merebut dunia dan segala tetek bengeknya; kemasyhuran, kekuasaan, kekayaan dan apapun yang sangat materialistik sifatnya. Mungkin hari ini di luar sana banyak yang masih mencurigai Maiyah dan masih meragukan ketulusan perjuangan Cak Nun.  Tapi saya yakin suatu saat nanti kita akan merasakan manfaat Maiyah ketika semuanya dikuakkan oleh Allah Swt dan kita semakin mengenal siapa sesungguhnya Cak Nun. Harapan saya semoga Maiyah terus mengalir dan bergetar sampai ke anak-cucu kita meskipun Cak Nun dan kedua marja’ di Maiyah, Cak Fuad dan Syekh Nursamad Kamba tidak bersama kita lagi. Dan segala sesuatu kita serahkan kepada qudrah-iradah Allah. Sebab apapun yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi.

Tinambung Mandar, 24 Februari 2018