Maiyah Ruang Awam Mencari Ulama, Bukan Emha Mania!

Reportase Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 September 2018

Urgensi Menjadi Ruang

Baik dari para master Zen, penyair-penyair sufi Persia kuno, hingga yang modern-modern semacam Tagore sampai Deepak Chopra, ajaran tentang “ruang di dalam cangkir” sudah sering terdengar. Bagi saya pribadi, sudah hampir tidak menarik mempelajari esoterisme-esoterisme sufi dan spiritualitas semacam itu. Namun rupanya bahasan semacam itu dibabar juga di Majelis Mocopat Syafaat pada September 2018 M kali ini. Kalau ini perulangan dari syair-syair pujangga sufi dari abad lampau, saya sudah akan siap-siap bosan. Namun rupanya, walau dengan meminjam kata benda yang mirip, ternyata ada hal berbeda yang saya temukan. Temuan kita bisa berbeda-beda, bukan?

Seorang master Zen bertanya pada muridnya, sambil memegang cangkir, “Di mana cangkir?” Semua murid, tentu dengan ta’dhim menunjuk pada cangkir yang dipegang oleh sang master mursyid. Master menunjukkan pada mereka bagian dalam cangkir dan kembali bertanya, “Di mana ruangan di cangkir?” Kembali semua murid menunjuk tentu bagian dalam cangkir itu. Tiba-tiba sang master membanting cangkir itu hingga pecah berantakan dan bertanya, “Di mana ruangan di cangkir?” para murid terbingung.

Sang master kemudian membabarkan, “Ruangan itu menyatu bersama ruangan yang lebih luas, alam semesta. Ruangan yang juga ada di dalam wadah tubuhmu, tubuhku dan segala apa yang ada di alam ini. Dengan memecah kepadatan wadah, kita siap menyatu.”

Belakangan, kita sedang hidup pada cangkir-cangkir NKRI, NU, HTI, LDII, Muhammadiyah dllsb dan ingin saling memecah cangkir lawan tanpa ada kesediaan membongkar wadag sendiri. Apakah Maiyah akan mencangkir juga dan bernasib sama dengan cangkir-cangkir sebelumnya? Atau, Maiyah tetap pada dimensi ruang?

Itu kisah dalam spiritualitas manunggaling kawula cengkir ala Zen. Sudah sering saya baca dan seperti juga setiap kali saya membaca hal-hal spritual seperti itu baik dari kejawen, kebijaksanaan Asia, wacana tasawuf, sampai yang beredar di berbagai jenis manusia dalam kepala saya akan muncul satu pertanyaan: “Ya oke, itu indah. Tapi terus apa deh? Mau menyatu dengan semesta? Manunggal sama tuhan? Gih sana, saya kok males.” Kebiasaan saya yang terlalu sering mencemooh macam ini harap jangan diikuti dan jangan dicemooh juga dong. Kalau bisa saya juga mau menghindarinya. Sayangnya pikiran ala manusia modern itu muncul saja terus. Saya rupanya sulit menghindar dari cara pandang dan cara pikir modernitas.

Untunglah walau saya kurang menikmati, tapi hal semacam itu tetap saya serap saja sebisanya. Siapa tahu kapan-kapan bisa ada ketemu titik nikmatnya. Dan malam di Mocopat Syafaat itu, kisah-kisah yang saya baca sejak zaman SMA dulu, yang tersimpan rapat-rapat dalam kepala tanpa tahu fungsinya justru menemukan titik keberfungsian dan puncak nikmatnya sendiri.

Ketika Mbah Nun mengajak kita berpikir mirip sekali dengan master Zen yang saya lupa namanya itu, tapi elaborasi malam itu membuat segalanya cukup rasional sehingga spiritualitas itu bukan konsep melangit. Atau ge-er menyatu dengan tuhan, tapi ketemu letak di mana urgensinya pada kehidupan yang sedang kita jalani, amati, dan sebisa mungkin kita nikmati ini.

Mbah Nun memulakan dari konstruksi bangunan berupa titik, garis, bidang kemudian ruang. Bahwa “Yang bisa terihat itu bangunannya, ruang tidak terlihat” kita hidup pada dimensi garis, mentok pada bidang. Jarang sudut pandang ruang kita gali, padahal itulah sejatinya kita.

Tepat pada saat itulah beberapa hal nampak gamblang bagi saya. Saya tiba-tiba menyesali sikap saya yang menyepelekan pengetahuan yang saya anggap tak ada gunanya dulu itu, ternyata saya hanya kurang memberi pemaknaan yang pas sehingga tidak ketemu urgensi pemahaman itu. Bahwa pemahaman mengenai ruang, dibutuhkan agar kita jembar melihat kahanan di mana segala sesuatu dinilai berdasarkan konstruksi titik, garis hingga bidang. Di Maiyah kita detilkan, mana-mana yang hanya sekadar konstruksi wadag.

Semenatara itu, banyak orang berlomba membentuk konstruksibangunan sendiri dan setelah itu jatuh. Sampailah pada masa di mana bangunan yang dibuat oleh para sesepuh dengan niat suci agar penerusnya paham jembatan dari bangunan ke ruang, justru dibela dengan cara-cara garis pendek. Degradasi maqom yang jauh sekali bukan, bung? Alam semesta makin sesak terhimpit bangunan-bangunan, ruang makin sempit sehinggga tak ada jalan lain. Sang pejalan sunyi terpaksa mateg aji melipat jarak, menuju pada Sang Maha Ruang.

Manusia sulit gembira hatinya ketika dia terjebak pada keterhimpitan, karena dia sejatinya adalah keluasan. Tapi, dalam psikologi kita tahu, kadang manusia memang menikmati kedangkalan. Betapa menderita terjebak pada garis pendek Pilpres, bangunan-bangunan kesementaraan ormas, parpol dan sebagainya itu. Maka yang terlanjur di dalam bangunan, perlu membuka “pintu ke mana saja” ala Doraemon dalam hatinya, agar ada ruangan luas di dalam bangunan yang menghimpit.

Buku Cak Nun