“Maiyah Ndak Penting” Bambang Ekalaya yang Lulus dalam Keikhlasan Tak Terlumpuhkan

Memaknai 19 Tahun Gambang Syafaat, Bag. 2

Malam semakin menanjakkan kemesraan. Rindu tak putus-putus. Bambang Ekalya, seorang jelata yang meguru pada sosok virtual Dorna, patung tak sempurna yang dibuat sebisa-sebisanya. Tiap hari dia belajar segala ilmu dari kanuragan hingga kesejatian dengan terlebih dahulu menghaturkan sembah ta’dhim pada guru virtualnya. Pada masanya nanti, dunia terkejut dengan munculnya ksatria baru bernama Bambang Ekalaya yang mampu menandingi kesaktian Arjuna yang meguru langsung pada Dorna. Namun dewata tak mau garis pakem kisah terusik, Dorna meminta bukti pengabdian Ekalaya. Sang satria awam jelata itu mesti mempersembahkan ibu jarinya bila ingin dibaiat dalam thoriqot formal Dorna. Ekalaya girang, serta merta dibabat ibu jarinya. Tepat saat itu juga, segala kemampuannya tak berguna sebab tangannya tak bisa lagi menarik busur. Kita perlu punya kemampuan dan i’tiqad belajar seperti Bambang Ekalaya, namun kita tentu menolak untuk dilumpuhkan. Bila sudah pernah terjadi dalam naskah atau sejarah, baik kita tak perlu mengulangi kesalahannya dan mampu meneruskan kebaikannya.

Gambang Syafaat ini seperti Bambang Ekalaya, yang jarang berjumpa langsung namun ilmunya mampu melejit-lejit tak terkira. Tentu, ini bukan dunia pewayangan di mana Ekalaya tidak boleh menyalip tokoh terpilih, di sini kita semua tak berani mengklaim ke-Arjuna-an. Mungkin lebih asik menggunakan narasi Uwais Al Qarni. Beliau juga orang yang tidak pernah berjumpa dengan sosok role modelnya yakni Rasulullah Muhammad Saw, namun justru beliau ini sangat dikagumi oleh Umar ra. Apakah ada kajian sosio-historis sendiri mengenai ini? Mungkin. Namun malam ini bahasan tarekat virtual itulah yang disampaikan oleh Syekh Kamba pada kelanjutan acara milad Gambang Syafaat yang kesembilan belas ini.

Inilah pada tengah bahasan, ada peristiwa di mana itu kemudian disebut oleh Mbah Nun sebagai “kelulusan”. Ketika Syekh Kamba sedang menjelaskan beberapa hal, tiba-tiba microphone tidak berfungsi. Bagi yang biasa telinganya mendengar dengungan speaker atau sinyal halus, terasa kalau sepertinya yang berpersoalan adalah speaker sehingga semua microphone jadi sama tidak berfungsi. Para panitia langsung sigap, kesibukan tampak berkali lipat di belakang. Segala usaha dilakukan, kita tak bisa menyaksikan apa saja usaha tersebut tapi jelas terasa sangat maksimal. Di atas panggung Mbah Nun membangun komunikasi, tanpa pengeras suara dan sempat meneguhkan apakah kita ikhlas dengan keadaan seperti ini, hadirin rela. Ikhlas. Kuda-kuda untuk melanjutkan acara tanpa bantuan alat elektrik sudah terpancang, laskar Bambang Ekalaya ini sudah meneguhkan aji kesaktian batin mereka. Rela, rela demi rindu, cinta dan ilmu yang bertaburan malam ini. Tiba-tiba, speaker bekerja kembali, Mbah Nun menyampaikan “Begitu anda ikhlas, Allah menyatakan kita lulus” walau hal ini juga diseimbangkan oleh Mbah Nun bahwa ini bukanlah kita memastikan apa kehendak Allah, bukan memutlak-mutlakkan penafsiran kita terhadap fenomena yang terjadi. Namun ini adalah usaha kita untuk husnudhdhon pada yang sedang terjadi dan sedang kita alami.

Ini memang sangat penting, pada masa ini kita hidup di tengah segala sesuatu dibakukan, dimutlakkan dan tanpa sadar dituhankan. Itulah tantangan syahadat dan tauhid pada era ini.

Ada satu pernyataan Syekh Kamba yang agak mengejutkan mungkin, mengingat kita tahu bahwa Syekh Kamba telah puluhan tahun mempelajari berbagai kajian dan kitab-kitab namun dengan lantang beliau berkata “Percaya atau tidak, saya baru belajar agama itu baru saat bersama Maiyah”. Andai Maiyah ini adalah sebuah golongan yang sedang ingin membangun narsisme komunitas, pernyataan ini mungkin akan dibingkai besar-besar dan dikutip dimana-mana. Tapi, kita lengkapi dengan bahasan Mas Sabrang bahwa di Maiyah kita membangun “hierarki ke dalam” itu sangat pas. Dan sekali lagi kita ingat hantaman Mbah Nun agar kita tidak kembali terjebak pada pembekuan-pembekuan, maaf ini perlu diulang dalam catatan ini “Maiyah ndak penting”. Kalimat Mbah Nun ini juga sekaligus sebenarnya bisa efektif untuk menjawab beberapa pihak yang seolah tak henti tanpa punya harga diri, membicarakan Maiyah dengan pemahamannya sendiri, memposting pikiran-pikirannya sendiri mengenai Maiyah namun tidak punya nyali dan martabat untuk bermuwajjahah. Kalau Maiyah tidak sepenting itu, kenapa ada orang yang bisa selalu meluangkan waktunya untuk mengomenteari terus-menerus? Dan pertanyaan paling penting adalah, pada atmosfer komunitas seperti apa manusia tanpa harga diri seperti ini terbentuk? Bukankah produk seperti ini justru adalah bukti kegagalan komunitasnya dalam melahirkan kualitas manusia? Kasihan sekali.

“Hampir semua pertanyaan mengenai Maiyah selalu membawa konsepnya dan kesadarannya sendiri,” kata Mbah Nun. Di situlah, di mana orang terbiasa dengan pola pikir pertarungan ideologi, kiri vs kanan atau aswaja vs wahabi, nasionalis vs anti-nasionalis dllsb, dipikirnya Maiyah itu juga salah satu yang ikut dalam arena tersebut. Orang yang terbiasa dengan pola pikir penokohan, dipikir Maiyah adalah sebentuk mistifikasi, mitologisasi tokoh yang akan mengganggu mitos-mitosnya mengenai tokoh gurunya. Yang biasa berpikir dengan cara perebutan lahan kekuasaan, lahan pengaruh, juga akan berpikir seperti itu. Lantas cemas sendiri, dan tidak kreatif. Nah kehilangan kreativitas itulah hanya melahirkan netizen yang pengecut. Padahal mimbar di Maiyah dibiarkan terbuka, dan ketidaksetujuan silahkan sampaikan. Tapi memang, pemitosan tokoh-tokoh kita tidak pernah melahirkan mental ksatria. Mental terjajah masih mendominasi. Disitu kita perlu introspeksi, ada yang salah dalam metode pendidikan kita selama ratusan tahun belakangan ini sehingga melahirkan mental tak bernyali, tak bermartabat seperti di luar sana. Mungkin karena terlalu lama kita dididik oleh para tokoh yang berposisi sebagai para orang tua yang memagari, terlalu sayang hingga memanjakan, terlalu protektif hingga tak membiarkan keliaran ekspresi. Di situ Mbah Nun sempat menyampaikan bahwa Gambang Syafaat ini sangat membanggakan karena sangggup, mau dan bisa “menyapih dirinya sendiri”.

Kemandirian belajar inilah yang oleh Mbah Nun dicontohkan ada pada sosok seperti Bambang Ekalaya dan sosok Uwais Al Qarni.

Pak Toto Raharjo juga diminta oleh Mbah Nun untuk memerikan resume prinsip-prinsip dasar yang bisa menjadi pegangan kita bersama. Menurut Mbah Nun, Pak Toto atau yang kadang dengan sedikit bercanda dipanggil Kiai Tohar, memulakan bahasan dari awal segala awal yakni mengenai konsep penciptaan. Bahwa menurut Kiai Tohar, Allah menciptakan alam semesta ini kontan tanpa nyicil. Itu masuk akal bukan, sebab bukankah waktu juga adalah ciptaan-Nya? Nah yang menarik, Kiai Tohar membuat pemahaman mengenai penciptaan itu juga dengan membumikan konsekuensi logisnya. Apa itu? Yakni begitu kita memahami bahwa Allah menciptakan semua sekaligus, semula jadi maka dengan sendirinya kita akan terus menjaga dan memperjuangkan keseimbangan. Itulah yang disebut ekosistem. Sekarang ini, menurut Kiai Tohar banyak kebijakan maupun pilihan-pilihan sikap individu tidak dengan pertimbangan menuju keseimbangan itu. Dicontohkan misalnya, bagaimana demi investasi para pemangku kebijakan melonggarkan saja pembangunan resort-resort yang letaknya sangat dekat dengan wilayah pantai yang kalau dikaji sangat berisiko. Memang baru saja terjadi, belum berapa lama, sebuah hantaman gelombang di Jawa bagian barat memporak-porandakan bangunan di sekitarnya. Pada saat itu sebuah acara sedang berlangsung dan beberapa orang menjadi korban, termssuk sekelompok band yang dulunya adalah band tempat Mas Doni vokalis KiaiKanjeng pernah memulai perjalanannya. Persitiwa ini benar-benar duka mendalam, tapi kita perlu juga fokus untuk mengkaji siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab? Kajian lingkungan semacam apa dan birokrasi macam apa yang membolehkan pembangunan di wilayah yang sedekat itu dengan laut? Siapa yang bertanggung jawab atas apa?

Senada dengan yang Kiai Tohar sebutkan bahwa apabila keseimbangan ekosistem terganggu maka akan ada konsekuensinya “sekarang ini sudah terjadi tsunami kebodohan yang luar biasa”. Rasanya sangat berisi kalau Kiai Tohar berbicara konsep-konsep langit, penciptaan dan sebagainya. Karena seperti kata Mbah Nun, Kiai Tohar adalah orang yang “Bila dia bertakbir membesarkan nama Allah, dia sudah mengembarai kebesaran Allah itu” seorang yang sangat dekat dan tersentuh hatinya juga oleh orang-orang yang dilemahkan. Maka memang pintu masuk pencarian awal Kiai Tohar adalah komunisme dan kemudian berporoses, berperjalanan dan konsep-konsep beliau selalu lebih matang dari pengetahuan yang sekadar didapatkan dengan mengulang-ngulang kalimat dari kitab atau seksdar buku. Ketika Kiai Tohar berbicara data, data itu sudah dikaji sedemikian rupa. Baik dari Syekh Kamba maupun dari Kiai Tohar, dan dari semua marja’ kita di Maiyah kita bisa belajar pintu-pintu pencarian yang berbeda. Satu kesamaan beliau-beliau ini mungkin, yakni dari pintu masuk manapun mereka selalu adalah orang yang total dalam pencarian, berani membongkar konsep lama, mencari yang baru, tidak terjebak pada kemapanan, tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dirinya telah menemukan.

Kiai Tohar juga sempat menarik ke arah pendidikan. Bahwa fenomena orang yang lekas ambil kesimpulan, misalnya tiap ada kejadian alam lantas disebut adzab Allah, itu karena pendidikan kita tidak menciptakan atmosfer berpikir proses, peserta didik tidak dibiasakan untuk bertanya dan mencari. Kita bisa lihat memang, produk dari pendidikan yang selalu manja hanya dikunyahkan para gurunya bukan memaknai dengan mandiri. Pertanyaan Syekh Kamba menjadi relevan dan bersambung dengan materi Kiai Tohar ini, begini pertanyaan Syekh Kamba, “rata-rata komunitas mengaku sedang mengikuti ajaran Rasul, tapi kenapa kalau mengikuti Rasul koq tidak terjadi proses transfomasi peradaban seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhamamd?” sekali lagi, kita perlu mengakui bahwa ada yang salah pada cara kita memahami apa itu meneladani Rasulullah? Atau jangan-jangan, pemahman kita mengenai Rasulullah SAW sendiri sudah cukup berbelok karena lebih banyak berdasarkan kitab-kitab yang terlanjur disakralkan dan tidak dapat digugat? Padahal era pengkitaban sangat jauh jaraknya dari era kehidupan Rasul sendiri, bukan?

Ketika tiba saatnya, Habib Anis tampak tidak bisa menyampaikan lebih banyak hal. Beliau mengaku sangat terkesan dengan elaborasi malam ini mengenai konsep keseimbangan. Habib Anis dibercandai oleh Mbah Nun “masih ada hubungan dengan Habib Bahar?” itu orang yang sedang lucu tersangkut masalah macam-macam karena sikapnya dan tiba-tiba banyak massa yang menyatakan dukungannya hanya karena statusnya sebagai ulama. Persoalannya sekarang ini, kita tidak memakai konsep ulama yang hanya sesuai dengan golongan kita, sehingga ulama bagi kaum yang sini belum tentu ulama bagi kaum yang sana. Maiyah menjawab tantangan zaman itu dengan konsep bahwa ulama bukanlah status, bahkan manusia itu dinamis. Apakah susah betul untuk berpikir bahwa, manusia itu bisa kadang-kadang sedang ulama dan bisa juga sesekali sedang tidak ulama? Masa iya ada orang yang dua puluh empat jam sehari tidak pernah istirahat dalam menjadi ulama? Tanpa sadar kita memang menuhan-nuhankan konsep kita.

Maiyah tidak boleh dan jangan sampai menjelma menjadi primordialisme golongan seperti yang kita lihat pada banyak komunitas belakangan ini. Mas Sabrang membekali “Kita tidak membangun identitas Maiyah. Tapi membangun individu Maiyah. Komunalitas akan jadi produknya” itu penting sekali. Komunalitas yang dipaksakan hanya akan melahirkan militansi dangkal. Dan militansi dangkal semacam ini sudah bisa kita lihat di berbagai jenis perkumpulan. Tidak ada yang mengagumkan. Tapi ketika komunalitas adalah produk, maka dia akan berwajah berbeda. Identitas bisa dikebelakangkan, fungsi diutamakan.

Pakde Mus kembali dipersilakan menempati waktu, yang kian mendekati subuh. Pakde Mus bergetar suaranya, apakah terharu? Atau memang beliau ini hatinya sangat lembut? Bagi Pakde Mus, berada di atmosfer Maiyah “seperti mengaji di Masjidil Haram”. Aduh, banyak sekali kata-kata indah kepada Maiyah dan Gambang Dyafaat malam ini, menuliskannya satu per satu sangat mengkhawatirkan akan membangkitkan apa yang disebut oleh Mbah Nun sebagai primordialisme golongan. Tapi percaya, kita bukan membangun hal itu. Kita sedang bermuhasabah, menghitung titik koordinat maqom, dan lintang bujur waktu. Pada masa seperti apa dan bagaimana Maiyah hadir. Perhitungan presisi inilah yang penting agar kita bisa lebih efektif berjalan dan menentukan arah sabil, thariq dan syari’ kita. Pakde Mus sangat penuh metafora kalimatnya. Alam atmosfer Maiyah, beliau merasa Jombang seperti Mekkah, Yogya seperti Madinah. Mocopat Syafaat beliau sebut sebagai ruh, Kenduri Cinta adalah proklamasi penegasan negeri Maiyah sementara Gambang Syafaat yang berada di Semarang ini sebagai titik tengah, pengikat yang mengeratkan jalinan-jalinan simpul tersebut sedangkan Kadipiro adalah pusat koordinasinya. Malam yang indah, sembilan belas tahun Gambang Syafaat masih akan memperindah malam-malam berikutnya. Tak terasa sudah lebih dari jam tiga pagi, kota Semarang mulai menggeliat, menjelang bangun dari tidurnya.

Selamat milad Gambang Syafaat, laskar Bambang Ekalaya yang tidak akan terlumpuhkan, pewaris mental tarekat virtual Uwaisy. Contoh konkret dari kemandirian, keikhlasan, tekad, dan kreativitas.

Buku Cak Nun