Maiyah, Malam dan Kesederhanaan

#65TahunCakNun

Aku tak tahu apa itu Maiyah secara istilah. Maiyah bagiku adalah wadah. Tempat penampungan, yang siap menampung apapun, siapapun, dan bagaimanapun. Lebih dari itu, Maiyah dapat menampung sebanyak apapun. Tanpa ada overload.

Aku tak tahu persis kapan dan di mana aku memulai perjalanan Maiyahku. Segalanya tiba-tiba saja di malam-malamku. Di tengah kesendirianku. Di balik dinginnya malam. Di balik hangatnya kebersamaan. Bagaimanapun itu, aku senang mendapatkan ketidaksengajaan yang ternyata membawa banyak pertanyaan.

Maiyah dan segala tentangnya tak akan dapat dirangkai dengan kata-kata. Aku tak menemukan definisi yang tepat dan ilmiah untuk menuliskan apa itu Maiyah. Bagiku Maiyah adalah Maiyah. Ia hanya dapat dirasakan. Kau tak akan mengerti sebelum kau duduk bersama malam. Bersama sendal-sendal jepit masyarakat desa. Bersama asap rokok dan kopinya. Bersama anak-anak yang tertidur di pangkuan ayah ibunya. Bersama tukang jualan kacang. Bersama lagu-lagu yang dibawakan KiaiKanjeng. Bersama bahasa Jawa Timuran. Bersama angin malam. Bersama wajah-wajah nan lelah namun sinar mata yang senantiasa benderang. Dan bersama bulan, bintang, yang menjadi saksi di setiap pertemuan. Tak dapat kau mengerti bagaimana Maiyah bekerja sebelum kau merasakan langsung bagaimana Maiyah itu sendiri.

Malam adalah teman karibnya Maiyah. Sepertinya Maiyahan tanpa Malam tak akan paripurna. Pun begitu sebaliknya. Tak hanya Maiyah dan Malam. Dua sejoli tersebut juga dilengkapi oleh Kesederhanaan. Ketiga elemen tersebut, bagiku benar-benar kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Maiyah adalah malamku. Di sana aku menemukan kesederhanaanku. Kutemukan hiruk-pikuknya hidupku. Kutemukan bahagianya degup jantungku. Kutemukan aliran darahku mengalir, hangat.

Sejatinya lengkap sudah bahagiaku ketika langit cerah dipenuhi bintang. Disinari terangnya bulan. Ditemani angin malam nan riuh rendah. Ditemani gamelan KiaiKanjeng. Ditemani lagu-lagu yang dibawakan. Serta ditemani Cak Nun, sosok yang selalu mengajak semua lapisan masyarakat untuk “Sinau”.

Sinau Bareng. Itulah yang menjadi ciri khas Maiyah. Bukan ceramah ataupun pengajian. Di sana, kami (Jamaah Maiyah) menemukan banyak pertanyaan dalam kehidupan. Karena memang itulah yang diberikan oleh Cak Nun. Hingga kini para Jamaah Maiyah memang diwajibkan untuk terus belajar. Belajar dari kehidupan. Belajar dari segala hal yang ditetapkan Tuhan untuk dapat terus berproses menuju manusia yang dapat memanusiakan manusia dengan paripurna. 

Bagiku, segala pertanyaan dan teka-teki kehidupan yang hingga kini aku dapatkan, sedikit demi sedikit dapat aku selesaikan dengan Tuhan. Aku, Tuhan dan Muhammad akan selalu paralel dalam hidupku. Dan akan tetap begitu hingga nanti kehadiranku tak lagi berada di dunia fana. Namun aku tak serta merta melupakan hal lainnya. Yang membuatku terus menerus mencintai-Nya dan kekasih-Nya tersebut. Alam beserta isinya yang diciptakan Tuhan adalah sebuah ladang yang harus ditanami oleh kebaikan, ketulusan, rasa syukur, dan cinta kepada sesama untuk menuju-Nya.

Bagian paling menyenangkan bagiku di saat Maiyahan adalah ketika dibawakan sebuah musik di mana hari sudah mulai memasuki malam yang pekat. Aku sangat menikmati momen tersebut. Duduk bersila bersama dinginnya angin dan mengikuti irama. Duh Gusti, dalam hatiku berucap “nikmat sekali mencintai-Mu, sungguh damai, tenteram”. Meski terkadang aku hampir meneteskan bulir-bulir air mataku. Namun itulah cintaku. Caraku mencintai-Mu terkadang konyol, dengan menangis misalnya.

Bagiku, Maiyahan sedikit banyaknya menjadi tempat menyalurkan kebahagiaan di tengah malamku. Menjadi tempatku menyapa wajah-wajah yang penuh kehangatan. Dari tukang parkir hingga mbah-mbah yang sudah renta. Menjadi tempat untukku merefleksi diri. Sungguh aku kalah semangat dengan mereka yang rela berjam-jam untuk belajar bersama. Maiyah menjadi kebun untuk bertanam banyak hal, seperti rasa syukur, dan perjuangan. 

Tak banyak yang aku harapkan untukmu, Maiyah. Tetaplah menampung, bercerita, dan mendendangkan syair-syair kehidupan nan indah, yang penuh cinta. Tetaplah bersama kami. Orang-orang yang menemukan kebahagiaan dengan sederhana. Dengan duduk berdempet-dempetan, beralaskan koran, dihangatkan oleh kebersamaan. Dan ditemani oleh malam yang panjang. Tetaplah memberi pertanyaan. Agar kami senantiasa belajar dalam kehidupan. Tetaplah menerima segala pertanyaan. Agar kami senantiasa berproses dalam pikiran dan kehidupan. 

Semoga dan semoga segala halnya diperjalankan oleh Tuhan sebagaimana mestinya. Semoga Tuhan senantiasa menjaga dan mengasihi seluruh Alam. Agar kelak kita dapat sampai ke tujuan dengan selamat sentosa. Semoga diri ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan kehidupan. Berproses dan berpikir bersama ribuan lainnya dalam satu wadah. Wadah yang senantiasa  dalam kesederhanaan dan kebahagiaan. Wadah yang bagiku dikenal dengan kata, Maiyah.

Aku tak tahu apa itu Maiyah secara istilah. Maiyah bagiku adalah wadah. Tempat penampungan, yang siap menampung apapun, siapapun, dan bagaimanapun. Lebih dari itu, Maiyah dapat menampung sebanyak apapun. Tanpa ada overload. Aku tak tahu persis kapan dan di mana aku memulai perjalanan Maiyahku.