Maiyah: Kontinuasi Mengalirnya Nubuwah dari Kanjeng Nabi Muhammad

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 23 Desember 2018

Ambeng, tumpeng dan Ka’bah dibandingkan bukan dalam rangka menelanjangi kekurangan atau kesalahan. Konteks pembicaraan perlu ditegaskan: pada sesi simulasi tersebut kita diantarkan pada kesadaran dan cara berpikir bahwa setiap manusia bisa mengerjakan kebaikan sesuai kapasitas dan patrap-nya masing-masing.

Cara berpikir tersebut diberangkatkan dari simbolisasi fakta struktural ambeng, tumpeng, dan Ka’bah. Juga di atas ambeng terdapat bunga mawar sebagai keragaman, bunga kantil sebagai pemersatu dan bunga kenanga: kena ngene, kena ngunu–semua itu merupakan simbolisasi yang dimaknai sesuai konteksnya.

Demikian pula pemaknaan terhadap simbolisasi Ka’bah sebagai bangunan yang paling indah. Mbah Nun meminta jamaah menyebutkan bangunan-bangunan indah di dunia. Borobudur, tembok Cina, piramida Mesir adalah bangunan indah nan besar. Namun, semua keindahan itu tampil secara fisik saat dipandang mata. Ka’bah adalah indah dalam kesederhanaan.

Dari segi tampilan fisik, bangunan kubus persegi itu dimaknai bahwa setiap manusia memiliki potensi dan peluang yang sama–baik mereka berada di bawah, tengah, atau atas dari struktur sosial, ekonomi, pendidikan–untuk dekat dan mendekat kepada Allah Swt.

Dalam konteks pemahaman tersebut simbolisasi Ka’bah lebih menggembirakan dibanding tumpeng, yang puncak pencapaian dekat dengan Allah dihuni oleh sangat-sangat sedikit orang.

Pelan dan pasti, secara lugas Mbah Nun menyesuaikan tahap kesiapan berpikir jamaah. Pada momentum ini terjadi dialog yang menarik antara Mbah Nun dengan seorang ibu yang duduk di tengah jamaah. Beragam jawaban bersahutan saat Mbah bertanya, apa bangunan yang dipandang indah menurut estetika materialisme dunia? Jamaah menyebut Borobudur, piramida Mesir, tembok Cina. Seorang ibu menyodorkan Ka’bah sebagai bangunan paling indah.

“Kenapa Ka’bah?” tanya Mbah Nun. Spontan ibu itu menjawab, karena Ka’bah tidak pernah sepi dikunjungi oleh jutaan umat muslim. Ada rasa rindu untuk selalu datang ke sana. Jawaban dari ibu tidak salah, tapi belum sesuai pertanyaan, mengapa Ka’bah termasuk bangunan yang indah?

Dari dialog tersebut kita jadi mengerti antara jawaban dan pertanyaan tidak nyambung. Mengapa? Kita luput mencermati dan mewaspadai dua hal. Pertama, tidak memahami pertanyaan atau pertanyaan itu sendiri sudah salah sejak awal. Kedua, kita memenangkan ego karepe awake dewe sehingga kenyataan (dalam hal ini pertanyaan mengapa Ka’bah indah) tidak dipahami secara apa adanya. Jawaban kita adalah jawaban maunya kita sendiri.

Inilah problem berpikir yang tengah dihadapi oleh anak sekolah, mahasiswa dan hampir sebagian besar manusia zaman now. Tidak ada kurikulum yang mengajarkan kesadaran itu, karena yang ditekankan adalah penguasaan skill, tapi pada saat yang sama skill itu menggerus keutuhan berpikir sebagai manusia.

Oleh karena itu, Mbah Nun menyarankan hendaknya kita memiliki kelengkapan cara pandang, sudut pandang, jarak pandang dan seterusnya, mengingat Islam yang kita pahami hingga hari ini adalah Islam hasil metodologi Barat.

Di tengah kemiringan-kemiringan itu, Maiyah hadir sebagai “mukjizat” untuk menata kembali ketimpangan berpikir dalam berbagai dimensi kesadaran. Ada tiga kemungkinan pemaknaan dari kata Maiyah yang pada sesi berikutnya akan dijelaskan oleh Kyai Muzammil, yakni Makiyyah (yang berbangsa Makkah), Maiyyah (dari kata Maaun, yang berarti air) dan Maiyyah (dari kata ma’a, yang artinya kebersamaan).

Mbah Nun lantas mengurai secara ringkas dan padat tiga perspektif Maiyah. Pertama, individu dan keluarga; Kedua, pembangunan negara; Ketiga, peradaban dunia.

Pada perspektif level pertama, jamaah menyampaikan urun pengalaman, hasil nyata kesadaran mengikuti Maiyah, di antaranya: bersikap mandiri, paseduluran, tolong-menolong, toleran, jembar ati, menjadi penyeimbang. Tentunya, buah Maiyah pada level pertama hadir dan dirasakan secara beragam sesuai pengalaman individual.

Apa kita lantas berhenti di level pertama? Tidak. Level pertama akan mensifati level kedua, dan level kedua akan mensifati level ketiga. Demikianlah, setiap level Maiyah tidak berdiri sendiri atau terpisah dalam sekat-sekat, melainkan saling berputar dalam satu kesatuan yang utuh dan padu.

Kehadiran Mas Edy, salah satu jamaah Kenduri Cinta, menambah mozaik cara berpikir terkait bagaimana media mainstream di Indonesia melakukan framing pemberitaan. Dari paparan Mas Edy jamaah memperoleh perspektif yang semakin menguatkan pentingnya memiliki kedaulatan berpikir–buah dari level perspektif Maiyah yang pertama.

Pada sesi tanya jawab bagian kedua, Mbah Nun merespons peran Maiyah sebagai air di tengah wadah besar bernama Indonesia. Selama belum ada perintah untuk ndandani secara langsung, kita akan melakukan sedekah untuk Indonesia, demikian pesan Mbah Nun. Ada tugas nubuwah dan tugas risalah. Dua tugas itu berbeda. “Maiyah merupakan kontinuasi dari aliran nubuwah yang dibawa Nabi Muhammad,” ungkap Mbah Nun.

Lebih gamblang lagi, Nabi Muhammad diperintah untuk memperbaiki prinsip hidup seluruh manusia agar mereka tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang paling hakiki. Maiyah melanjutkan kontinuasi nubuwah itu.

Malam ini ambeng Padhangmbulan menaburkan bunga mawar keanekaragaman perspektif ilmu yang beragam, seraya memelihara kemerdekaan bunga kenanga: kena ngene, kena ngana, bisa begini bisa begitu, sekaligus memelihara bunga kantil: kelet secara horisontal melalui paseduluran sesama manusia, dan kantil secara vertikal bersama Allah dan Rasulullah.

Dan inilah goal yang ditawarkan Maiyah kepada peradaban dunia. (caknun.com-asy)

Buku Cak Nun