Maiyah, Fenomena Radikal Buatku

Menggali Radikalisme Diri di Maiyah, bagian 1 dari 3

Tulisan ini sebenarnya saya garap beberapa hari sebelumnya. Namun belakangan terjadi serentetan kejadian yang cukup menghebohkan. Maka beberapa penyesuaian saya perlu tambahkan. Juga tentu saja rasa duka yang mendalam pada semua korban dalam peristiwa di MAKO BRIMOB serta peledakan bom di Surabaya. Untuk mereka yang telah mendahului, sudilah kita bersama mengirimkan Al-Fatihah bersama-sama.

***

Maiyah adalah fenomena paling radikal, yang pernah saya jumpai selama hidup saya. Ini kesimpulan yang berdasarkan data pengalaman pribadi saya sendiri. Salah benarnya, saya tidak tahu. Tapi untuk sekarang, ini konklusi yang cocok bagi saya.

Bahasan bahwa radikal berasal dari kata Radix, yang artinya akar. Tentu kebanyakan kita sampun mafhum. Bahwa kemudian kata ini seringnya disematkan pada kelompok orang yang berpaham garis keras, tertutup, tergila-gila dengan wacana perang dan sejenisnya, itu kesan yang bisa dimaklumi. Demi melihat fenomena riil banyak orang yang terlanjur berpikir radikal. Entah dengan alasan apapun. Tidak mampu me-manage mana pikiran dan ide yang semestinya disimpan di dapur. Dan mana akhlaq yang jadi sajian hidangan pada sesama makhluq.

Dalam Islam kita akrab dengan sepasang antara aqidah dan akhlaq. Yang mestinya disimpan di dalam, dan satu yang jadi tampilan di luar. Dalam mikrobiologi, semoga saya tidak salah ingat, istilah radikal bebas merujuk pada molekul yang tidak jangkep jumlah elektronnya.

Berpikir radikal tidak salah. Dan bagi saya sendiri, hidup di tengah kondisi ekosospolbud semacam ini pada masa ini, berpikir radikal adalah cara pikir yang paling rasional. Dan hanya di Maiyah saya mendapatkan gelombang yang cukup radikal semacam itu.

Katakanlah kalau yang seringnya disebut radikal selama ini biasanya adalah semacam JI, HTI, ISIS, FPI atau yang senada begitu. Rasanya saya tidak bisa mengakui mereka itu radikal. Kejam? Pada beberapa tahapan mungkin iya. HTI sendiri setahu saya hanya serem omongannya saja. Bagaimana mau radikal, kalau tetap manut pada tokoh agamawan, ulama atau tokoh pergerakan? Masih kurang bandel.

Nah di sinilah letak radikalisnya Maiyah. Dan mungkin akan kita bahas, kenapa radikalisme Maiyah justru adalah antitoxin yang kontekstual bagi zat radikal bebas yang membuat orang beraksi mendekat ke arah kesadisan.

Maiyah tidak melakukan deradikalisasi. Bila yang dimaksud deradikalisasi adalah orang mesti diajak untuk menjauhi cara berpikir mengakar dan mengarah pada perubahan yang substansial. Cara dan materi yang dielaborasi di Maiyah selalu sangat mengakar, mendasar dan membumi. Maiyah sangat radikal. Bahkan kita justru dibebaskan untuk menggali, belajar, bereksperimen dan bercinta dengan radikal. Adakah yang lebih radikal dari itu?

Tak ada bahasan yang cukup radikal yang bisa membuat orang-orang Maiyah kaget. Sebutkan Nietzsche, mereka biasa saja. Karl Marx apalagi. Anarkisme Bakunin, Propotkin, ah santai. Kaum anarcho pun menurut saya tidak seberapa radikal dengan manusia-manusia Maiyah. Mereka sudah biasa berhadapan dengan pertanyaan semacam; Bangga sama Nusantara kok negaranya pakai kata republik dari Yunani? Atau ngeyelan sejenis “Kapan sistem demokrasi dipilih untuk dipakai dalam sebuah negara, dengan cara yang demokratis? Kenapa ada pemiliha umum presiden tapi tidak ada pemilihan umum tentang sistem?”

Semua itu pertanyaan dan pernyataan abstrak yang akrab-akrab dan santai saja di Maiyah. Paling ketemu jawaban, “Ah itu kan cuma perasaan adek saja”.

***

Kita mungkin sebaiknya mulai membahas hal yang konkret. Soal program deradikalisasi misalnya. Terlepas dari sepakat atau tidak dengan penggunaan istilahnya. Seberapa efektif cara-cara menangkal radikalisme–dalam pengartian mainstream sekarang–dan terorisme bekerja hingga saat ini? Dari soal pencegahan, penanganan, rehabilitasi hingga pasca napi terorisme dilepaskan ke masyarakat?

Dulu pernah disebut bahwa penanganan deradikalisasi paling prestisius adalah program-program dari Arab Saudi. Cara-cara di sana lebih banyak menitikberatkan pada perbaikan dan penjaminan ekonomi-finansial mantan napi terorisme beserta keluarganya. Ini tentu jitu kalau kita berangkat dari dugaan dan pembacaan bahwa faktor dominan orang berangkat menjadi teroris adalah unsur ekonomi dan kekecewaan pada negara.

Tapi cara itu mungkin akan mendapat jalan buntu kalau diterapkan tanpa penyesuaian di tempat lain. Apalagi di Jawa-Nusantara ini. Cobalah terapkan menjamin kesejahteraan ekonomi keluarga napi teroris di sini. Saya kok membayangkan dengan karakter ngeyelan ala Jawa, justru orang bakal berbondong-bondong melakukan aksi terorisme dan sengaja tertangkap. Yah itu cuma khayalan saya saja.

Tapi kita perlu pahami, keliaran imajinasi manusia Jawa-Nusantara memang bisa spontan dan tak terduga. Betul-betul saya tidak menduga. Ketika sebuah konser metal di sebuah kafe di Kemang. Tiba-tiba para penontonnya bertakbir. Saat vokalis band grindcore legendaris negeri ini menyeruak ke panggung. Mengangkat gelas minuman dan berseru, “Bersulang! Atas dibebaskannya Imam besar kita, Syekh Abu Bakar Baasyir! ALLAHU AKBAR!!!”

Itu tahun 2006. Dan sampai sekarang pembaca yang budiman tidak akan mendapati sang vokalis legendaris berada di barisan seleb yang hijrah.

Siapapun pemangku kebijakan, tokoh maupun sesepuh yang menjadi pamomong di Jawa-Nusantara ini mestilah orang yang telah disepuh(kan) oleh berbagai persoalan lintas bidang, ragam dimensi, dan punya kesamuderaan jiwa tak terbatas untuk “ora kagetan, ora gumunan”. Tapi tetap menikmati ketakjuban melihat fenomena manusia-manusia radikal di sini. Selain juga punya sisi keliaran dan radikal dalam dirinya.

Kalau terbiasa dengan mental ningrat-priyayi di mana kondisi sekeliling dipenuhi ummatan followers. Dengan bekal sekadar “sendika dawuh” lan “sami’na wa atho’na“. Maka sulit menjalani peran pamomong di masyarakat yang polanya sangat bhinneka tunggal ika. Bahkan beragam dengan dirinya sendiri ini.

Sekarang kita sedang krisis tokoh sesepuh bangsa karena beginian memang. Semoga saya tetap objektif.  Tapi selain Mbah Nun, saya tidak melihat ada sosok lain yang bisa melenting dari satu gelombang karakter ke karakter lain di masyarakat. Dari jazz ke rock. Ke supporter bola. Ke pengajian thoriqoh. Ke sastra lalu sains. Ke politik. Star Trek ke pengajian desa, ke teater dan lainnya banyak sekali.

Tentu manusia tidak bisa mengetahui dan ahli dalam segala hal. Tapi bukan soal tahu dan paham yang diperlukan untuk bisa terlibat dan diterima pada beragam bhinneka gelombang masyarakat Jawa-Nusanatara ini. Melainkan kemampuan untuk mengkhalifahi, meresonansikan sinyal dan gelombang yang berbeda-beda.

Saya sering iseng menjawab pertanyaan yang berulang, “Cak Nun itu sebenarnya kiai atau budayawan atau apa sih?”. Biasanya saya malas ngomong juga. Jadi saya bilang, “Buatku, beliau rockstar!”.

Dulu saya rasa jawaban saya ngawur, ternyata tidak begitu betul juga. Hanya kalau dipikir dan dicari-cari, memang ada sisi rock n roll yang saya senangi dalam alur Jalan Sunyi Mbah Nun. (bersambung…)

Yogya, 13 Mei 2018

Tulisan ini sebenarnya saya garap beberapa hari sebelumnya. Namun belakangan terjadi serentetan kejadian yang cukup menghebohkan. Maka beberapa penyesuaian saya perlu tambahkan. Juga tentu saja rasa duka yang mendalam pada semua korban dalam peristiwa di MAKO BRIMOB serta peledakan bom di Surabaya.