Maiyah: Demitologisasi dan Konsistensi

#65TahunCakNun

“Salah” dua kekuatan Maiyah adalah konsistensi dan demitologisasi yang dilakukan oleh tokoh utamanya sendiri: yakni Cak Nun. Izinkan saya sedikit berbusa kata soal ini. Agak pelan, nanti saya akan menguraikan beberapa gambaran mengapa Maiyah, yang embrionya adalah pengajian Padhangmbulan 25 tahun lalu, bertahan hingga saat ini dan semakin meluas jangkauannya; menjamur di mana-mana.

Dulu, ketika menulis tesis tentang Mocopat Syafaat, saya berpendapat bahwa terlalu kuatnya sentral Cak Nun adalah suatu kelemahan dalam konteks Mocopat Syafaat sebagai gerakan sosial. Saya berpikir, bahwa orang berkumpul semata-mata karena Cak Nun; ketika Cak Nun tidak ada maka kumpul-kumpul pun bias bubar. Pendapat saya ini, mau tak mau, kemudian harus saya revisi sekarang ini karena tidak terbukti.

Kata “maiyah” mulai muncul pada pertengahan tahun 2001 di rumah Kadipiro. Dalam sebuah diskusi hangat terbatas, kata ini muncul sebagai jawaban kevakuman kegiatan Cak Nun dan KiaiKanjeng saat itu. Akibat situasi sosial politik yang tidak kondusif. Kelak, kata “maiyah” menjadi garis hubung yang menautkan aneka segmen lingkaran Cak Nun: saat itu Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan Kenduri Cinta.

Saya menyadari kesalahan pikir saya karena mengabaikan dua hal. Yaitu seperti yang saya tulis dalam judul. Pertama adalah demitologi yang dilakukan Cak Nun terhadap dirinya sendiri. Upaya ini sebenarnya sudah saya lihat sejak awal-awal saya mengikuti Pengajian Padhangmbulan tahun 1996. Tetapi saya tidak melihatnya sebagai sinyal yang kelak memberikan penjelasan.

Kedua adalah konsistensi Cak Nun itu sendiri. Rupanya Pengajian Padhangmbulan yang sudah berlangsung sejak 1993 (sumber lain menyebut 1994) hingga saat itu tahun 2000an awal, belum cukup menyadarkan saya tentang konsistensi Cak Nun dalam angon jamaah, termasuk gagasan-gagasannya. Saat itu saya justru memperturutkan kecurigaan soal “agenda-agenda” di belakang layar.

Akhirnya, hitung-hitung sebagai bentuk “pertaubatan” pikiran atas prasangka-prasangka saya itu, maka saya menuliskan dua kekuatan yang semula saya abaikan ini.

Demitologisasi

Saya yakin betul, Cak Nun sebenarnya menyadari potensi jamaahnya untuk mengultuskan dirinya. Meskipun orang Indonesia berbeda dengan orang Amerika yang gampang mabuk oleh wajah ganteng seorang David Coresh yang mengklaim dirinya seorang nabi. Namun sejarah masyarakat Indonesia menunjukkan gerakan messianisme banyak terjadi.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana Lia Aminudin membuat agama baru. Demikian pula “nabi palsu” Ahmad Musadeq. Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Kalau mau, Cak Nun, dengan kemampuan retorikanya bisa “menyihir” jamaahnya. Seperti warga Texas yang terpesona kata-kata Coresh “The New David”. Belum lagi pikiran-pikiran Cak Nun yang selalu menawarkan perspektif lain yang gampang dinalar dan masuk akal, sekaligus mencerahkan.”

“Di Maiyah yang nomor satu adalah Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad,” adalah kalimat rutin yang selalu diulang-ulang oleh Cak Nun.

“Siapapun tidak boleh berpendapat bahwa apa yang saya katakan adalah pasti benar.“

“Di sini juga tidak boleh ada yang memutlak-mutlakkan kebenaran dirinya.”

Ini adalah penggalan-penggalan kalimat yang saya sukai. Dan kalimat-kalimat semacam ini, hampir tidak pernah terlewat dalam setiap forum Maiyah. Sangat terlihat, bagaimana Cak Nun memasang “pagar-pagar” untuk mengantisipasi munculnya kultus terhadap dirinya.

Upaya ini rupanya membuat jamaah menjadi nyaman. Sedari awal, dengan demikian, mereka membawa kesadaran bahwa mereka tidak ada yang akan “disesatkan” ketika mengikuti forum-forum Maiyah. Cak Nun bahkan, biasa mengajak jamaah untuk melihat suatu masalah, isu, atau peristiwa dari berbagai sudut pandang. Atau apa yang sering disebutnya sebagai cara berpikir “thawaf”. Itupun akan selalu dibuntuti dengan kalimat: bahkan kebenaran yang engkau temukan itu tetaplah bukan kebenaran mutlak.

Demitologisasi semacam ini menjadi kekuatan Maiyah. Ia menjadi antitesa atas kecenderungan masyarakat atau tokoh-tokoh era masa kini. Zaman ketika orang berbangga-bangga dengan banyaknya jumlah follower di akun sosmed-nya. Orang sibuk me-make-up dirinya dan memasang gambarnya di berbagai banner iklan. Orang sangat menyadari pentingnya pencitraan diri dengan aneka kepalsuan. Ketika jamaah melihat Cak Nun melakukan “tidak” alias negasi atas perilaku-perilaku yang baru saja disebut. Semakin bersemi rasa cinta di hati jamaah, “Kita memang seharusnya belajar pada orang ini,” kira-kira demikian bisik hati para jamaah.

Konsistensi

Konsistensi yang dimaksud di sini ada dua: konsistensi sikap dan konsistensi merawat.

Tidak mudah mempertahankan konsistensi sikap, apalagi dengan besarnya kesempatan menggunakan peluang sebagaimana yang diimpikan orang di “level tokoh”. Belum lagi munculnya prasangka-prasangka yang muncul sejak awal, Maiyah ini akan digunakan untuk (kepentingan politik–penekanan dari saya) apa?

Bagi orang yang tidak biasa mengikuti forum-forum Maiyah, akan sangat aneh mendengar jawaban semacam ini: Maiyah tidak mempunyai kepentingan atau target apa-apa, apalagi dalam konteks politik.

Dulu di tahun-tahun awal Pengajian Padhangmbulan, muncul dugaan-dugaan itu (termasuk yang memengaruhi prasangka) saya. Jangan-jangan Emha akan memanfaatkan jamaahnya untuk mendukung partai tertentu.

Rupanya, jawaban-jawaban yang disampaikan Cak Nun dua puluh tahunan lalu itu adalah jawaban yang sama dengan yang disampaikan sekarang. Dengan perhitungan kuantitas jamaah yang menggeliat terus hingga hari ini, tidak pernah terbukti Cak Nun menggunakannya untuk kepentingan politik tertentu. Maiyah tidak pernah berafiliasi kepada kelompok atau partai tertentu. Juga tidak menjadi partai politik. Yang terjadi adalah setiap tokoh partai yang datang ke acara Maiyah, dari partai manapun, tidak ditolak. Demikian pula tokoh-tokoh dari kelompok atau ormas manapun.

Konsistensi sikap di atas begitu terlihat.

Demikian pula konsistensi merawat. Mempertahankan dan merawat gerakan sosial secara mandiri bukanlah pekerjaan mudah. Maiyah bukanlah partai, yang didukung mesin pendanaan. Bukan pula LSM yang tergantung funding lokal atau luar. Juga bukan ormas semacam Muhammadiyah atau NU yang mempunyai “mesin uang”-nya sendiri.

Saya terkadang membayangkan begini. Kurun waktu dua puluh lima tahun belakangan disingkat dalam skala satu jam. Cobalah untuk membuat garis pergerakan Cak Nun (tanpa atau dengan KiaiKanjeng) dalam satu jam. Jika sekira ada empat ribuan titik yang dijalani Cak Nun satu jam ini, terbayang bagaimana garis-garis pergerakan ini tergambar dan berlangsung sangat cepat. Satu hal patut disyukuri adalah, dalam pergerakan yang sangat cepat itu, pada titik akhir kita masih bisa melihat Cak Nun masih kelihatan segar, sehat wal afiat, dan tetap sedia menemani jamaah di pelbagai simpul Maiyah.

Barakallahu fiik #65TahunCakNun

Birmingham, 30 Mei 2019