Maiyah dan Kelangkaan Rasa Aman Global

Catatan Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, 29 Juni 2018

Sejak peristiwa WTC September 2001 yang diikuti dengan eskalasi–apa yang disebut–tindakan teror, menjadikan tatanan sosial antropologis di Eropa dan Amerika menjadi menggumpal pada polarisasi-polarisasi tertentu.  Celakanya, masing-masing pihak menganggap mereka yang berbeda dengan dirinya (lebih celaka lagi, mayoritasnya didorong oleh Islamophobia) sebagai ancaman bagi pihaknya. Maka masalah keamanan (sosiologis) menjadi isu sangat penting.

Pendekatan militeristik hingga saat ini masih menjadi solusi tindakan yang diambil untuk memberikan rasa aman. Maka, tindakan militer atas nama memerangi teroris menjadi jamak dan umum diambil. Sejak dari domestic threat di Amerika hingga hingar-bingar Arab Spring.

Paparan di atas disampaikan secara singkat oleh seorang Jamaah Maiyah asal Wonosobo. Ahmad Karim yang saat ini sedang menempuh studi S3 Antropologi di Amsterdam. Beliau hadir berbagi banyak hal di Maiyah Bangbang Wetan bulan Juni 2018 yang mengambil tajuk “Piala(ng) Dunia” di pelataran Balai Pemuda, Surabaya. Di sela-sela studinya di Amsterdam, beliau menyempatkan menapaktilasi perjalanan Mbah Nun dan CNKK selama muhibah di Benua Biru. Mulai dari SOAS di London, hingga Conservatorio Di Musica San Pietro a Majella (Music Conservatories of Naples) di Italia dijelajahi Mas Karim, yang kemudian dituangkannya dalam catatan perjalanan otoetnografi yang bisa dibaca di CakNun.com di bawah rubrik Menek Blimbing.

Oke, cukup intermeso penjelajahan dari London, Belanda hingga Italia. Mas Karim kemudian melanjutkan pemaparannya tentang isu rasa aman (security) di Benua Biru. Hingga saat ini, para akademisi dan praktisi sosial di sana masih terus mengadakan riset untuk menemukan formula yang tepat selain pendekatan militeristik. Salah satunya adalah dengan meneliti peran lembaga non formal non negara.

Yang kemudian menarik adalah ketika Mas Karim turut andil dalam kereta upaya penghadiran kembali rasa aman dengan mengajukan Maiyah(an) sebagai sebuah postulat alternatif baru untuk menghadirkan kembali rasa aman yang sudah tergerus distrust, stereotype, phobia, paranoia dan rasa curiga yang berlebihan. Selain karena pendekatan militeristik saat ini yang dianut secara global, ternyata memunculkan ekspresi teror yang terus berevolusi. Dan akhirnya menjadi lingkaran setan ketidak-amanan (insecure loop). Perjalanan beliau–setidaknya hingga saat ini–belum menemukan transformasi sosial yang ‘steril’ dari motif kekuasaan, selain Maiyah.

Bagi generari Maiyah Bangbang Wetan, pemaparan tentang isu rasa aman (security) oleh Mas Karim ini seolah menjadi tumbu atas tutup dari tema yang pernah diangkat pada April 2018. Yakni “Insecuricious (Was-was Ra Wis-wis)” yang meneropong persepsi dan perasaan merasa tidak saling aman dalam tataran sosial kita, sejak dari lingkaran keluarga hingga kehidupan bernegara.

What a déjà vu…

Proses pengajuan Maiyah sebagai alternatif postulat baru menjawab isu ketidak-amanan global oleh Mas Karim, hingga saat ini sudah diajukannya dalam bentuk proposal penelitian. Di bawah judul “Dancing to a Different Drum: Violent and Non-Violent Securitization by Banser and Jamaah Maiyah in Post-Reform Indonesia”. Dalam beberapa bulan ke depan, beliau mengadakan penelitian dan in-depth analysis di Maiyah dan Maiyahan untuk menyempurnakan pengajuannya tersebut.

Jariyah Mas Karim ini seolah melengkapi apa yang dilakukan Ian L. Betts, seorang praktisi Security and Risk Management yang memberikan analisis mendalam terhadap sambutan Gordon Brown pada pementasan CNKK di SOAS, London. Beliau pernah menulis: “I referred to the “roots that had been planted and seeds sown” in the form of the valuable contributions that many other foreign nationals had made to the work of the Maiyah, both in Indonesia and overseas”; yang kemudian dalam analisa subjektifnya menjadikan Maiyah sebagai sebuah tawaran metodologi dan solusi sosial atas permasalahan konflik dan ketidak-amanan sosial yang menjadi masalah global saat ini. 

Mencermati pemaparan Mas Karim atas Maiyah–yang dilakukannya justru ketika beliau berada dan membaui sendiri atmosfer sosio-antropologis masyarakat di Benua Biru–sangat dipahami. Dan rasanya tidak berlebihan kalau beliau menyebut Maiyah sebagai “Mantra Zaman Now” sebagaimana yang dituliskannya di Mantra Peradaban Zaman Now Itu Bernama Maiyah. [Tim Reportase Bangbang Wetan]

Sejak peristiwa WTC September 2001 yang diikuti dengan eskalasi–apa yang disebut–tindakan teror, menjadikan tatanan sosial antropologis di Eropa dan Amerika menjadi menggumpal pada polarisasi-polarisasi tertentu.  Celakanya, masing-masing pihak menganggap mereka yang berbeda dengan dirinya (lebih…