Maiyah Bumi dan Manusia

Mukadimah Kenduri Cinta Oktober 2018

BAGI yang baru mengenal kata Maiyah, sekadar mengingatkan kembali pada semester pertama universitas Maiyah. Apa makna Maiyah bagi para pelaku maiyah? Terinspirasi kebersamaan Abu Bakar menemani Muhammad dalam persembunyian di gua Tsur pada sebuah perjalanan agar tidak takut dan tidak bersedih. Kebersamaan inilah yang menjadi kata kunci Maiyah, karena secara bahasa, kata Maiyah itu sendiri adalah bersama, kebersamaan.

Hingga saat ini kata Maiyah sudah menjadi ikon tersendiri yang memiliki makna kebersamaan dalam berbagai lini kehidupan manusia. Baik hal itu berarti kebersamaan rasa senasib seperjuangan karena pada posisi yang kurang diuntungkan akan keadaan. Ataupun kebersamaan akan kepedulian pada suatu optimisme bahwa ada sesuatu, khususnya kesetiaan pada nilai-nilai yang masih terus dapat diperjuangkan. Dan tentu ketika kata Maiyah disebut, tak akan terlepas dari sang pencetus gagasan yaitu Mbah Nun. Dari beliaulah kita belajar Islam dan Maiyah secara lebih aktual, cair, mengalir, tidak beku, membuka sekat-sekat keberagamaan menjadi begitu luas terpampang di hadapan kita. Dan membuat kita belajar lebih banyak arti keseimbangan dalam banyak hal.

Termasuk dan tidak terbatas di dalamnya adalah relasi Maiyah dengan bumi, tempat manusia berpijak selama hayat dikandung badan. Maiyah atas bumi adalah sesuatu yang sangat niscaya. Bahwa kesadaran bumi ini diciptakan untuk semua makhluk hidup yang ada di dalamnya sudah sangat wajar apabila kita membersamai bumi, memaiyahi bumi, untuk sebaik-sebaik manfaat bagi sesama. Bagaimana kita sebagai manusia bersama dengan entitas makhluk yang ada, tanpa sekat apapun berusaha untuk menjadikan bumi tempat yang nyaman untuk siapapun dan mengupayakan kebersamaan tersebut membawa kebaikan bagi sesama.

Bukan “kesadaran” yang dimaknai sebagian manusia bahwa bumi ini dititipkan kepada mereka untuk kemudian dieksploitasi sesuai keinginan mereka. Pengkavlingan bagian-bagian tertentu atas bumi yang kemudian membawa kepada klaim-klaim kepemilikan, hak penguasaan dan atau pengusahaan hutan atau laut sebagai bagian dari bumi yang tanpa menimbang nilai-nilai kebijaksanaan, keadilan, kearifan lokal dan nilai-nilai lain yang berujung pada kebersamaan.

Dan akibatnya dapat kita lihat dan rasakan bersama, mulai dari konflik lokal “pemilik” hutan dengan penduduk lokal, penjarahan hutan dan laut atau bagian penting tertentu dari bumi, ketidakadilan dan ketidakmerataan pemanfaatan hasil bumi, perebutan atas tanah atau kawasan hutan tertentu. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh eksploitasi tersebut, kebakaran, kebanjiran, asap pekat mengganggu pernafasan yang datang rutin menyapa manusia di daerah tertentu dan juga konflik berkepanjangan antar sesama manusia akibat perebutan lahan.

Kita lupa bahwa bumi dengan segala isinya adalah saudara tua manusia, ia harus kita sayangi, kita perlakukan sebagaimana seorang saudara menyanyangi saudaranya sendiri. Bagaimana kita belajar bahwa fase penciptaan makhluk dimulai dari penciptaan alam semesta, tetumbuhan, hewan dan kemudian manusia. Kita juga masih ingat bagaimana nasihat orang-orang tua kita dulu, “Jangan kencingi pohon. Kalau terpaksa tidak apa-apa tapi harus minta ijin, minimal Nyuwun sewu”. Apakah kita tidak pernah coba memahami makna nasihat tersebut? Apakah pemahaman orang sekarang mengganggap hal tersebut sebagai klenik? Mitos? Tidak logis? Sehingga kemudian kita menganggap acara-acara adat tertentu yang menyimbolkan keselarasan dengan alam, seperti nglarung dan sejenisnya sebagai syirik?

Dari dulu kita dididik oleh orang-orang tua kita untuk sangat dekat atau akrab dengan lingkungan kita tinggal, hidup harmonis, selaras dengan alam.

Fenomena alam silih berganti datang menyapa manusia, mulai tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, letusan gunung berapi, hingga yang terkini gempa Lombok dan Palu. Apakah kita pernah mencoba menyelami, jangan-jangan karena kita berlaku kurang ajar, kurang atau bahkan tidak sopan, sewenang-wenang, tidak adil, tidak bijak, tidak menyapa dengan baik kepada bumi? Dan terlebih juga kepada sesama manusia? Eksploitasi manusia atas manusia lain yang berujung pada berlaku zalim atau aniaya.

Apalagi misalnya yang berlaku aniaya tersebut adalah manusia atau sekelompok manusia yang seharusnya memiliki kewajiban untuk berlaku adil atas manusia lain karena memiliki kewenangan yang ada dalam genggamannya. Kita dapat melihat dan belajar bersama, apakah manusia-manusia yang memiliki kuasa di Indonesia saat ini, atau mereka yang ingin memiliki kuasa tersebut dalam kontestasi yang sedang berjalan ini adalah para pelaku aniaya atau eksploitasi atas manusia lain dan juga atas bumi Indonesia?

Sehingga bumi di Indonesia “marah” muntab dan mengekpresikannya dalam bentuk luapan bencana yang bertubi-tubi adalah karena perilaku manusia Indonesia yang aniaya dan ekspolitatif atas bumi dan manusia lain? Meskipun pada dasarnya bergesernya lempengan bumi juga merupakan salah satu sunnatullah seperti terbit dan tenggelamnya matahari di setiap harinya.

Apakah peristiwa alam di bagian bumi tertentu di Indonesia adalah efek dari para pelaku kezaliman di daerah terdampak atau sebagai piweling pada manusia Indonesia lain yang saat ini berlaku zalim? Atau juga fenomena alam itu merupakan bagian dari sunnatullah memang dalam rangka manusia harus membayar “ongkos” agar tunainya kepasrahan kepada Tuhan? Masing-masing dari kita merdeka untuk menemukan jawabannya.

Semestinya dimulai ditanamkan dalam kesadaran kebersamaan bahwa bumi ini adalah warisan anak cucu kita. Kita memanfaatkan bumi hanya sesuai dengan kebutuhan kita dan bukan mengkspolitirnya apalagi berlaku zalim tidak hanya atas bumi bahkan atas manusia lain. Karena selebihnya adalah milik ahli waris bumi yaitu anak cucu kita. Kita seharusnya khawatir bahwa musibah apa yang menimpa Indonesia jangan-jangan adalah karena perilaku kita.  Kesadaran bahwa bumi adalah saudara tua manusia sudah semestinya sebagai piweling luhur untuk lebih menyayangi bumi dengan segala isinya.

Dan memasuki Jumat kedua di bulan Oktober ini, para pejalan Maiyah kembali berkumpul untuk sama-sama kembali Sinau Bareng. Sinau yang tak pernah berhenti, karena begitulah kita belajar dari kanjeng Nabi, belajarlah terus hingga ajal menjemput. Sinau Bareng akan berbagai hal, bumi, manusia, kebersamaan untuk lebih memperkaya hidup dan bekal untuk kembali kepada-Nya.