Maiyah Al-Munawwarah

Mukadimah Suluk Surakartan Januari 2018

Empat belas abad silam, sebuah desa di jazirah Arab bernama Yatsrib pernah menjadi saksi bisu untuk peristiwa kemanusiaan yang dikenang sejarah hingga hari ini. Tatkala kelompok-kelompok manusia yang mendiaminya saling membuat kesepakatan yang adil untuk bersatu dan hidup berdampingan dengan segala perbedaannya yang terdiri atas 47 butir. Itulah kesepakatan agung yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah (Ash-Shahifah al-Madaniyah).

Ada apa dengan Piagam Madinah? Desa Yatsrib yang semula selalu mengalami peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj beserta sekutunya masing-masing, akhirnya mengalami proses perdamaian sejak kehadiran Nabi Muhammad yang berhijrah ke desa itu. Melalui pendampingan dari beliau, masyarakat Yatsrib membuat kesepakatan untuk hidup bersama hingga terlahirlah piagam tersebut. Piagam itu kemudian menjadi inspirasi lahirnya kesepakatan-kesepakatan perdamaian setelahnya ketika dunia dilanda peperangan dari waktu ke waktu.

Kehidupan manusia yang selalu dipenuhi kegelapan nafsu untuk berkuasa dan mengeruk materi sebanyak-banyaknya telah melahirkan berbagai kerusakan yang luar biasa. Hingga abad XXI ini kita menyaksikan kehidupan manusia yang sudah tidak lagi manusiawi. Meminjam idiom yang sering diulas oleh Cak Nun dalam berbagai forum maiyahan, hari ini kita sulit menemukan kehidupan otentik dari manusia, karena setiap hari yang kita lihat hanyalah polesan dan ketidakmurnian dari perilaku manusia.

Maka dari itu, Cak Nun beserta saudara-saudaranya menginisiasi forum diskusi yang egaliter dan menggali kemurnian manusia yang kemudian di kenal sebagai Maiyah. Forum yang telah berjalan sejak lebih dari dua dekade itu telah melampaui berjenis-jenis keadaan serta peristiwa. Kini forum-forum itu telah bertunas di berbagai tempat di seluruh Indonesia dalam bentuk lingkar-lingkar kecil yang kemudian sebagain tumbuh menjadi simpul-simpul yang senantiasa berusaha mengembangkan diri.

Sebagai sebuah perkumpulan kemurnian, Maiyah lahir tidak dengan dibebani kewajiban untuk memperbaiki Indonesia. Namun demikian, selama perjalanannya maiyah melalui lingkar dan simpul maiyah senantiasa berusaha istiqomah untuk bersedekah kepada Indonesia. Perkumpulan maiyah bukanlah sebuah organisasi, melainkan sebuah organisme. Maiyah bersifat cair dan tidak memiliki orientasi kepentingan pragmatis kepada Indonesia dan dunia, tetapi menekankan bagaimana terlahir kehidupan manusia yang manusiawi.

Salah satu risiko dari sebuah organisme yang memutuskan diri untuk tetap bersifat cair adalah munculnya potensi-potensi ketidakselarasan dan gesekan di antara para pelakunya. Bahkan beberapa kali ketidakselarasan-ketidakselarasan tersebut berkembang menjadi gesekan-gesekan. Sebagai organisme yang terus belajar, kita harus menemukan jawaban atas tantangan tersebut. Agar tidak merembet kepada pola gesekan yang berakibat fatal seperti pada sejarah yang lampau, maka jamaah maiyah harus bisa menemukan formula terbaiknya.

Dengan kesadaran atas peristiwa sejarah lahirnya Piagam Madinah, maka jamaah maiyah berusaha mengambil pelajaran penting darinya untuk melahirkan Piagam Maiyah. Sebagaimana Madinah yang mendapatkan predikat Al-Munawwarah (bercahaya), maka orang-orang Maiyah berharap juga mendapatkan cahaya karena rasa cinta yang mereka miliki kepada Nabi Muhammad Saw. Piagam ini adalah bagian dari upaya untuk Maiyah mengorganisir diri dengan tetap selaras pada substansi ‘organisme’. Sehingga Maiyah yang ‘cair’ dapat ‘memadat’dan ‘mengembun’ sesuai dengan kebutuhan situasi dan konteks.

Harapan berikutnya, dengan adanya piagam ini setiap diantara jamaah maiyah dapat menyandang kesadaran maqam (kedudukan) maiyah serta bersama-sama dapat menjaga maqam maiyah di hadapan Indonesia. Ini adalah upaya penjagaan nilai kemanusiaan kita yang rawan digerus oleh materialisme dalam segala bentuknya. Dengan berbekal keyakinan yang tinggi kepada Allah dan kecintaan untuk selalu mengikuti Nabi Muhammad SAW, semoga orang-orang Maiyah selalu mendapatkan bimbingan cahaya-Nya.