Luas, Luwes

Mukadimah Maiyah Balitar Mei 2018

“Seorang pria diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan loncat dari lantai bla bla blaa…”. Begitulah contoh sepenggal berita yang bisa saja kita temui di berbagai media massa. Di televisi, media online, maupun media cetak, semua bisa dipastikan pernah memuat berita mengenai kasus serupa, bunuh diri. Atau, bisa jadi kita pun bisa menemukan kasus itu di sekitar kita.

Itu hanyalah secuil kisah di sekitar kita. Sepenggal bahasa semesta yang mengingatkan kita akan bagaimana ketika sosok manusia belum mampu memandang dan menyikapi keluasan dunia secara luwes. Tentu, kasus seperti ini bukanlah satu-satunya bahasa alam. Masih banyak lagi bahasa-bahasa alam yang lainnya.

Korupsi, membunuh, menyakiti orang lain, itu pun juga menjadi bagian dari laku ketika seorang anak cucu adam masih melihat dunia hanya dari satu sisi saja. Yang korupsi hanya melihat kehidupan hanya detik itu saja. Ia bisa cepat mendapatkan uang, senang, sudah. Tak dipikirkannya bagaimana sambungan-sambungan kejadian dari apa yang telah ia lakukan. Bagaimana orang-orang yang haknya telah ia rampas. Bagaimana nasib keluarganya yang telah ia nafkahi dengan harta yang tak berkah. Dan masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lainnya. Seolah ia acuh akan itu semua.  

Dunia seisinya ini memang sangatlah luas. Selama masih dititipi napas, setiap kita pun akan selalu dihadapakan dengan hal-hal yang tak semuanya sama. Tentunya, setiap apa yang dihadapkan pada kita, itu tak akan pernah berdiri sendiri. Ada ruang dan waktu yang membingkai. Ada hal-hal lain yang mengikuti. Dan kita pun perlu untuk tetap belajar melihat keluasan-keluasan itu dengan lebih presisi. 

Apalah artinya mampu melihat jika belum mampu menyikapi dengan tepat. Ya, mampu melihat dunia dengan mata pandang yang lebih luas saja belum cukup. Kita juga perlu belajar menyikapi keluasan-keluasan itu dengan apik, dengan luwes. Agar kita tak sampai kesasar ataupun kejeglong dalam melangkah di lintasan perjalanan hidup kita.

Dari sini, Majelis Maiyah Balitar (MMB) bermaksud untuk mengajak jamaah, sama-sama dan bersama sinau. Mencoba menggali agar bisa belajar berpikir luas dan bersikap luwes dalam menyikapi dan menghadapi dunia yang telah dititipkan pada kita. Untuk lebih jelasnya, mari kita melingkar mengaktifkan nalar. Mengupayakan cinta kasih-Nya dan kekasih-Nya agar bersedia meminjamkan secuil pemahaman-Nya untuk kita belajar di MMB 19 Mei 2018 ini.

“Seorang pria diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan loncat dari lantai bla bla blaa…”. Begitulah contoh sepenggal berita yang bisa saja kita temui di berbagai media massa. Di televisi, media online, maupun media cetak, semua bisa dipastikan pernah memuat berita mengenai kasus serupa, bunuh diri.