Linglung

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Oktober 2018

Wahai pengasuh kami semua, tidak ada satu pun segala sesuatu yang sudah Kau takdirkan dimuka bumi ini adalah suatu hal yang sia sia.

Semua hal, peristiwa dan apapun yang terjadi, tercipta dan terselenggara secara terus-menerus, baik maupun buruk, manis atau pahit, derita ataupun bahagia, pasti ada pelajaran, makna, hikmah bersamanya. Sebagaimana setiap kesulitan dibersamai dengan kemudahan.

Di tengah kebahagiaan masyarakat, tidak menutup kemungkinan muncul insiden yang membuat kaget, sedih, heran, maupun marah. Di setiap geliat semangat juang manusia selalu dijumpai teman kejenuhan.

Seperti musim yang sedang kemarau panjang, tiba-tiba turun hujan walau hanya menyirami dan sesaat saja, tanpa terlebih dahulu ada shalat istisqo misalnya. Uniknya lagi, jika turun hujan, kemerataannya terkesan mengecil. Dulu turun hujan meratanya tiap kabupaten bahkan provinsi serempak waktunya, sekarang dalam satu kelurahan pun, ada yang hujan ada yang tidak di tiap-tiap dusun.

Adegan kebingungan yang dialami atas diri kita sendiri terus berdatangan. Baik di bidang psikologis, potensi diri, sosial, politik, agama maupun kebudayaan, bertamu silih berganti. Linglung, Bingung!

Tamu Linglung sedang memburu.

Kita belajar pada kelinglungan (kebingungan), sebab si Linglung ini makhluk Allah yang sedang nge-top di akal pikiran kita, ditemani si was-was sebagai pemain kedua di dalam dada, yang entah karena apa keduanya jadi seleb.

Belajar dari kisah kasih Baginda Musa. Di posisi kebingungannya beliau yang dapat benturan keras, ancaman dari Kelaliman Raja Fir’aun. Beliau diperintahkan Tuhan untuk menemui Baginda Khidlir. Nambah bingung dengan pola pikir dan metode belajar Khidir, dan akhirnya ketemu ‘tongkat’-nya, meskipun tetap ditemani saudaranya Baginda Harun.

Sihir-sihir semakin gencar diaktifkan kembali. Sementara tongkat keteguhan hati sembunyi entah ke mana. Perahu perahu besar dipercantik dan diiklankan, kepala kepala kedangkalan ditampilkan, tata krama laku kabuyutan disepelekan.

Iqra` Muhammad: kembali bingung akal pikiran, was-was perasaan atas bacaan-bacaan yang harus dibaca kedalaman jiwa sedang kita takut berenang, menyelami samudra kehadiran Tuhan.

Tergesa-gesa kita belum bisa selesai dengan diri sendiri, sedang pikiran kita loncat-loncat di garis bayang-bayang mutiara jiwa masa depan. Atau sumringah kita atas pencapaian pencapaian ukhrawi, padahal ambisi nafsu birahi!

Linglung menjadi sebuah perjalanan panjang bagi Kanjeng Sunan Kalijaga setelah bertemu dengan Kanjeng Sunan Bonang menuju perjumpaan dengan-Nya.

Lantas saya, kita semua, bagaimana?

Apa yang sejatinya Allah kehendaki atas dihadirkanya saya, kita semua, sampai saat ini?

Buku Cak Nun