Lincahlah Dengan Humor, Begitu Itu Asyik

Reportase Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Agustus 2018

Teknik pseudonimous adalah teknik menuliskan satu karya sastra dengan meminjam nama yang sudah legenda pada masyarakat sebagai penulis atau tokohnya, agar pesan apokaliptik (ramalan akhir zaman) bisa lebih dipercaya. Maka itu dia sering lahir di bangsa yang sedang terjajah karena kabar tentang akhir zaman adalah begitu menggembirakan bagi kaum yang sedang terjajah, bukan?

Sama seperti (mungkin) Ronggowarsito meminjam nama Jayabaya dalam Jangka Jayabaya, raja Kediri itu. Entah apakah ada hubungannya dengan istrinya yang berasal dari Kediri. Teknik kaum Judea ini memang marak di Eropa dan Ronggowarsito sangat paham ini. Beliau bersahabat dekat dengan Carl F Winter, generasi ketiga keluarga Winter yang ahli bahasa dan sejarah bahasa. Serta penerjemah paling handal dari masa ke masa tapi juga selalu kesusahan ekonomi dan tidak punya status tinggi di kepegawaian Hindia-Belanda. Jadi inilah kabar gembiranya. Yang kere bukan cuma kita kok pada masa-masa penjajahan. Kalau kerenya berjamaah atau rembol (kere bergerombol), cukup menenangkan bukan?

Mari kita kembali ke urusan laut. Maksud saya, ke buku bertajuk “Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat” ini. Dengan sangat presisi dihentak sebagai pembicara adalah sesepuh kita, pimpinan Kiai Kanjeng, yang kualitas otentisitas manusianya selalu dikisahkan penuh tawa canda bahagia oleh Mbah Nun, yakni Pak Nevi Budianto.

Dari pihak penerbit, Pak Agus Wahyudi yang sudah malang-melintang melintas-lintas dalam kepenulisan serta dunia literasi juga menyertai. Bahasan dari dunia pergojekan bisa digocek lincah menuju kualitas tasawuf dan kebatinan. Ahay sungguh lihai permainan Pak Agus ini bu, eh bung (ada ndak sih komentator sepak bola ibu-ibu? Biar sesekali ada Bu dan ada Bung). Bola-bola liar dibawa dengan kecepatan sprint makrifat, tapi di Maiyah kita belajar maraton juga.

Sebelumnya permainan memang dibuka oleh Bu Roh yang segera mengambil posisi di hadapan peserta, pasca gagalnya tendangan penalti dari pemain tim Thailand ke gawang Indonesia yang menandakan kemenangan timnas U-16 negeri tetangga kita itu. Mbak Ririn membantu menggiring permainan, dan selalu stand by pada posisi sayap dari sisi konsumsi serta kelengkapan-kelengkapan teknis balik layar.

Mas Helmi memanasi permainan dengan operan-operan kecil ke berbagai arah, yang lantas disahut oleh para peserta diskusi yang kemudian melintas-lintaslah berbagai tema, saling umpan lambung. Kopi tersedia, waspada asam lambung. Kacang rebus dan camilan bisa menjadi penahan yang efektif supaya tidak kebobolan. Kucing putih kecil, entah siapa ayah-ibunya, yang belakangan ini sedang sering bermanja-manja dengan para pelanggan di Syini Kopi juga ikut mewarnai berlangsungnya permainan diskusi dengan mengajak peserta bercanda ria. Lengan saya masih sedikit mbaret-mbaret bekas cakaran dan gigita. Itu tipe gigitan yang biasanya kucing lakukan ketika dia sedang gemes. Apakah saya menggemaskan? Entahlah.

Humor punya posisinya sendiri. Antropolgi humor mungkin bisa jadi pilihan bahasan teman-teman yang konsentrasi di ilmu sosial. Para sufi banyak memakai humor. Namun peradaban didegradasikan lagi hanya sekadar kisah lucu dibaca saja, bukan metodenya dipakai bagaimana menghumorkan persoalan dan realitas. Jadinya makrifatisme ndak lincah-lincah amat melihat persoalan dan tidak membumi.

Malam itu bahasan menerjang-nerjang ke berbagai arah dan memuncak pada kelihaian teknik Mbah Nun, kejeniusan serta ketepat-jituan refleks radikal beliau dalam membawa persolan menjadi lebih ringkes dan mudah dipahami. Penceramah penutur-nutur ilmu itu banyak, penceramah humoris juga tidak kalah banyaknya. Tapi salah maqomlah kita kalau membandingkan Mbah Nun dengan tipe semacam itu. Karena pada gelaran Sinau Bareng, Ngaji Bareng atau majelis-majelis Maiyah sering terjadi dialog dari berbagai tema. Di situ dibutuhkan kemampuan komunikasi yang tajam, mengena dan refleks serupa penembak jitu wild-wild west.

Buku Cak Nun