Lihatlah, Mentari Baru Telah Terbit

Lahirlah-lahirlah, lahir kembali
Bangunlah-bangunlah, bangun kembali
Mengumpulkan, kepingan-kepingan
Saudaramu, yang ditinggalkan oleh kemajuan”

-Emha Ainun Nadjib-

Tanpa kita sadari, seringkali kemudahan dan kenyamanan justru lebih berpeluang membunuh, jika dibandingkan dengan penderitaan. Sedikit saja kita lena, kita akan merasa ‘telanjur’ nyaman dan puas dengan terbiasa dilayani dan dimanjakan. Dan inilah yang menjadi bagian dari peperangan kita hari ini. Melawan bungkaman ketidaksadaran yang berusaha diselipkan melalui kemudahan demi kemudahan yang ditawarkan oleh dunia luar.

Coba saja kita bayangkan, apa jadinya kalau anak kita, sedari kecil dibiasakan dengan atmosfer manja. Semua serba dilayani. Semua serba dituruti. Mau apa, semua tinggal pencet dan langsung datang sendiri. Persis seperti bayangan sorga yang didongengkan sewaktu saya masih kecil. Saat saya masih sering menyanyikan lagu sayonara sebelum keluar dari kelas pertama saya itu.

Merdeka dari Belenggu Kemudahan yang Melenakan

Anak-anak yang dibiasakan dengan cekokan pelayanan, tanpa diberikan kesempatan untuk belajar melakukannya sendiri, tanpa kita sadari, perlahan ini akan membunuh sistem kepercayaan mereka. Mereka menjadi tidak akan percaya kalau sebenarnya, mereka pun mempunyai potensi yang sama untuk bisa memberikan pelayanan kepada yang lainnya. Kalau pun memang belum bisa ganti melayani, mereka juga akan bisa lupa, kalau sebenarnya, mereka pun bisa melakukannya secara mandiri, tanpa harus bergantung pada apa yang di luar diri.

Apa yang tidak dimudahkan hari ini? Coba sebutkan. Mau apa, semua serba ada. Mesin-mesin teknologi didatangkan untuk melayani manusia. Sistem online dibangun sedemikian rupa untuk memanjakan dan memudahkan aktivitas masyarakat kita. Mau ke mana pun, kita tidak perlu bersusah-payah menempuh perjalanan berat layaknya mbah-mbah kita dulu kala.

Tiba-tiba saya jadi teringat komentar-komentar beberapa teman saya di kota. “Ha? Jalan kaki?” “Kamu naik sepeda motor?” “Naik kereta? Kamu mau bunuh diri, apa?” Apa yang aneh dari jalan kaki? Apa yang salah dari naik kereta guna menempuh perjalanan delapan ratusan kilo, sampai mereka mensejajarkannya dengan bunuh diri segala. Entahlah. Siapa sebenarnya yang aneh di antara kita. Mereka, atau kita yang menganggap kejadian-kejadian itu hanyalah sesuatu yang biasa saja. Tak ada istimewa-istimewanya.

Apa memang hari ini orang-orang di luar sana sedang mengalami masa-masa seperti itu, ya? Mereka menganggap segala apa yang tampak ‘ngoyo’ itu sesuatu yang wajib dihindari. Segala apa yang dilakukan dengan membutuhkan sedikit usaha keras itu menjadi momok yang akan sangat baik jika dijauhi. Hingga hanya sekadar berjalan kaki yang tak sejauh langkah mbah-mbah kita dulu saja dianggap aneh. Untuk sekadar naik sepeda motor, naik kereta api sampai belasan jam saja dianggap sesuatu yang tak lumrah.

Ah, entahlah. Ini, mereka masih belum melihat apa yang terjadi pada para pemuda itu. Mereka belum menyaksikan bagaimana para pemuda yang betah melek hingga menjelang fajar itu. Seandainya saja, mereka mau melirik sejenak pemandangan para pemuda yang rela betah berdingin-dingin ria di lapangan terbuka, sinau bareng sampai menjelang fajar tiba. Entah kalimat apa lagi yag akan terucap dari bibir nggumun mereka. Semoga saja mereka tidak sampai pingsan melihat bagaimana ketahanan para pemuda itu. Ah, rasanya saya terlalu berlebihan. Tapi, ya, bagaimana ya. Kalau cuma sekadar mau melihat mbak-mbak ‘gila’ yang naik sepeda motor malam-malam ke luar kota, pulang sebelum fajar tiba, ya ikut datang ke sini saja. Buanyakkk. Atau, mau sekadar melihat bapak-bapak yang melakukan perjalanan yang serupa dan paginya harus kembali kerja, dijamin juga bakalan ada. Dan tak kalah banyak juga.

Tapi, tunggu. Mohon jangan salah paham dulu. Bukannya saya bermaksud untuk mengunggulkan gerombolan manusia di lingkaran pemuda itu. Hanya saja, saya ingin berbagi rasa syukur optimis, yang semoga tidak sampai keblinger menuju ke arah ketidakwaspadaan dan kesombongan. Di saat yang lain mulai dilenakan kemudahan demi kemudahan yang ditawarkan, nyatanya, ada yang diam-diam bergerak menjaga kesadaran dan berusaha belajar tidak bergantung pada topeng kemudahan. Ada yang diam-diam tetap belajar menjaga ketahanan.

Seolah para pemuda itu ingat betul apa yang dipesankan Simbah mereka. “Sebagaimana pun hebat teknologi yang melayani dan memudahkan aktifitas kita sehari-hari, asal jangan sampai itu merenggut hal-hal yang mendasar dari kemanusiaan kita.” Kurang lebih, seperti itulah pesan Simbah mereka beberapa bulan lalu saat sinau bareng di kampus Universitas Brawijaya Malang. Malam itu Simbah sempat bercerita, meskipun beliau juga difasilitasi dengan kendaraan-kendaraan yang memudahkan setiap mobilitasnya, Simbah tetap berusaha menjaga hal-hal yang mendasar dari kemanusiaan kita, berjalan misalnya.

Dengan kata lain, bagaimanapun keadaan yang dihadapkan kepada kita, entah itu kecanggihan-kecanggihan teknologi yang kian terbarukan, atau apapun itu, kita harus tetap belajar untuk mengkhalifahinya. Jangan sampai kita yang diperdayakan dan diperbudak oleh mereka. Kalau kita sudah bisa merdeka dari belenggu itu semua, dan tak pernah berhenti belajar mengkhalifahinya, bukan hal yang tidak mungkin kita akan menjadi bagian dari generasi yang siap jika ditempatkan di manapun dan bagaimanapun kondisinya. Ibaratkan butiran tepung, yang di manapun ia ditempatkan, ia akan tetap bisa bertahan dan memberikan kebermanfaatan. Disandingkan dengan pisang, ia bisa membersamai hingga menjadi pisang goreng yang siap disantap. Pun ketika disandingkan dengan kentang, ia masih bisa menjadi pasukan donat yang nikmat.

Lahirlah-lahirlah, lahir kembali Bangunlah-bangunlah, bangun kembali Mengumpulkan, kepingan-kepingan Saudaramu, yang ditinggalkan oleh kemajuan” -Emha Ainun Nadjib- Tanpa kita sadari, seringkali kemudahan dan kenyamanan justru lebih berpeluang membunuh, jika dibandingkan dengan penderitaan. Sedikit…