Lebih Mudah Jelata Jadi Pejabat Daripada Pejabat Jadi Rakyat

Reportase Sinau Bareng di Desa Rendeng, Kudus, 5 Oktober 2018

Rasanya ada kesan ilmu statistik dalam kalimat “shollu kama roaitumuuni usholli”, seperti beberapa kali Mbah Nun menjelaskan Rasulullah Saw sungguh besar hati untuk tidak berkata “shollu kama usholli”. “Sholatlah sebagaimana engkau melihatku sholat”, tentu berbeda dengan sholatlah sebagaimana aku sholat. Ada perbedaan fakta dan data di situ.

Dalam seni pembacaan data, yang pertama perlu disadari oleh manusia adalah semua yang dapat kita serap dan cerna sebagai informasi adalah data. Fakta adalah keberadaan sendiri yang hampir tidak mungkin kita jangkau keseluruhan pemahaman mengenainya. Dan segala pembacaan mengenai data tentu kemudian juga bergantung interpretasi terhadap data itu.

Mungkin orang sering menyepelekan statistik karena dirasa hanya sebuah hitungan terapan, itu juga bisa dimaklumi karena seringnya politisi lembaga survei dan banyak pihak di media dengan maksud sebagai legitimasi pesan selalu berkata “ini sudah berbasis data”. Padahal kalau secara filosofis, kita semua sedang mengutak-atik data dalam pikiran kita. Hanya saja, kita sering terjebak ngotot pada pembacaan data kita sendiri. Segala interpretasi adalah sah, baru kemudian nanti ada metodologi pengambilan data, metode interpretasi, kuantifikasi kualitatif, kualitifikasi kuantitatif dan sebagainya, di situ nanti baru teknisnya.

NU dan Muhammadiyah tentu adalah pembacaan data mengenai Islam. Begitupun HTI, LDII, Persis dan lainnya. Semuanya sah saja dalam hal pembacaan. Bahwa ada yang ngotot soal cara dia membaca data, nah itu pada tataran sikap, tingkah laku. Hanya, sikap kengototan ini tampaknya menjangkit merata belakangan ini (ini juga interpretasi yang semoga salah). Bila ada orang melakukan aksi terorisme sedangkan dia adalah penganut ajaran tertentu maka perlu hati-hati memutuskan apakah hubungan sikap dan ajaran yang dianutnya bersifat asosiasi (sekadar ada pengaruhnya) atau memang sudah pada taraf hubungan sebab-akibat, itupun masih bisa dikaji seberapa besar takaran korelasinya kalau terlanjur diputuskan sebagai hubungan sebab-akibat.

Sebaiknya kita memang hindari dulu shortcut berpikir dengan cara misal, ketika ada satu golongan yang melakukan hal yang merugikan dan kebetulan memang golongan itu tidak kita sukai kita langsung memutuskan interpretasi pintas bahwa pasti gara-gara menjadi bagian dari golongan itu. Belum lagi pembacaan data kita ini belum benar-benar diuji dan jarang ada kesempatan dipertemukan dengan pembacaan data yang berbeda. Saya rasa, salah satu menyenangkannya Sinau Bareng adalah segala interpretasi data pada kubu-kubu yang sangat berbeda bisa bertemu, ceria dan berbagi bersama di dalamnya. Sesungguhnya, kita dengan segala interpretasi data kita adalah puzzle-puzzle yang bisa saling melengkapi, bukan saling memusnahkan.

Malam tanggal 5 Oktober 2018 M ini pun, Sinau Bareng itu kembali jadi ajang kemesraan antar berbagai interpretasi data. Mbah Nun memberi hantaran-hantaran ilmu yang kembali mengingatkan saya pada metode interpretasi data bahwa, “Apakah mungkin ada manusia yang menguasai semua ilmu? Apakah ada orang yang betul-betul paham Al-Qur`an?” Tentu selain Allah dan Rasul-Nya tidak ada. Maka kita semua adalah pembaca sepotong-sepotong silmi-nya Islam.

Mbah Nun memberi sedikit tantangan bagi akal para hadirin dengan, “Kenapa udkhulu fisssilmi kaffah? Kenapa Allah tidak menyerukan udkhulu fil Islam kaffah?” Mbah Nun punya interpretasi sendiri, kemudian mempersilakan Kiai Muzammil serta dilanjutkan seorang sesepuh Pak Abdul Jalil untuk membabarkan pandangannya mengenai fenomena tersebut.

Semua tentu boleh berbeda, metode yang dipilih untuk diapakai bisa tak sama. Tapi seperti Mbah Nun berpesan, “Ukhuwah mesti selalu dijaga dalam keadaan apapun,” itu tantangan kita sekarang karena belakangan ini orang hanya mau berukhuwah kalau posisi kemapanan dan kenyamanannya tidak terusik. Artinya cuma mau berukhuwah pas masa enak. Padahal berukhuwah adalah tantangan melampaui segala kesetujuan dan ketidaksetujuan.

Kapan terakhir kita melihat pimpinan atau anggota NU, Muhammadiyah, HTI, FPI dllsb saling berpelukan hangat membesarkan hati agar lebih luas dari kesetujuan dan ketidaksetujuan demi ukhuwah? Dan kapan, seandainya itu terjadi sekarang kalau melihat hal semacam itu kita tidak bercuriga bahwa itu pelakunya pasti sedang punya agenda-agenda tertentu? Waspada dalam pikiran boleh, tapi bolehkan hati kita tetap mesra.

Mekkah-kan hati, Madinah-kan pikiran. Dengan itu Dajjal tidak bisa masuk. Biarpun para penganut Dajjalisme saling ribut di Jakarta, kita tidak perlu ikut terpengaruh. Dajjalkarta biarlah.