Lawang Agung
(Wa Ila Rabbika Farghab)

Yang bisa kita anggap “Agung” (Al-‘Adhim) dari lawang bukan karena bentuk lawangnya yang Besar (Kabir), tetapi lebih dari lawang-nya yakni keagungan isi di balik lawang. Agung tidak harus menempel pada benda yang besar, bahkan barang kecil pun bisa kita temukan nilai keagungannya, sehingga apabila menggunakan istilah Lawang Besar, memang bentuk lawang-nya besar.

Lawang Agung adalah jalan masuk yang berisi nilai-nilai kearifan yang memang sudah dan diberi oleh Allah Swt, di balik benda atau apapun itu, di depan kita pasti pasti ada, sehingga apabila kita mencari keagungan tidak mesti benda yang besar atau sesuatu yang besar.

Pada sebuah bunyi yang digabungkan dengan syair-syair dan diharmonisasi menjadi notasi indah, akan menjadi keagungan pula saat dihantarkan kepada para penikamatnya. Belum lagi bila kita melalui Lawang Agung-nya air, tanah, hutan, atau hati kita sendiri.

Keagungan ada karena ada Dzat pemberi keagungan, dan keagungan dari apapun contohnya pasti akhirnya nilai kebaikan. Dan apabila kita hanya berhenti bergerak hanya sebatas “Faidza faroghta fanshob” maka yang dicari adalah materi, kepuasan, kesenangan dan tidak ada Lawang Agung.

Maka Allah memberi tahu kita “Wa ila robbika farghob“, dan apapun yang kita kerjakan berpijak pada informasi (wa ila robbika farghob) dari Allah tersebut adalah Lawang Agung.

Adanya sebutan Wong Agung karena prilaku baiknya, bukan atas jabatannya, apalagi status sosialnya. Kalau toh ada sebutan Wong Gede, sangat umum kita menyebutnya karena dia itu sebagai Bupati, Gubernur, atau pengusaha,  dan lain lain. Dan hanya sebatas menjadi Wong Gede apabila tidak “wa ila robbika farghob“.  Dan hanya sebatas ketenaran menjadi pelajar, musisi, seniman, politikus, petani apabila tidak “wa ila robbika farghob“.

Maka tidak heran pula para pendahulu kita memberi nilai-nilai keagungan ketika membangun rumah, membangun gapura di setiap candi atau yang lain-lain. Dan saya meyakini moyang kita tidak mau kalau anak cucunya hanya sebatas menjadi “faidza faroghta fanshob”. Namun kita diajari melalui peninggalan-peninggalan agar memasuki Lawang itu: Lawang Agung, lawang menuju Allah Swt.

Dan orang Indonesia adalah pejalan yang memasuki Lawang Agung.  Terlihat bagaimana masyarakat kita ikhlas, sabar mendapatkan ketidakadilan dari pemimpin yang mengelola pemerintahan. Bahkan kalau pun mengambil contoh saking ekstrem agungnya masyarakat Indonesia, banyak yang tidak tega melihat wakilnya di dewan dipenjara padahal sudah mencuri hak rakyat.

Bahkan kalau di desa, masyarakat masih mau menyapa, cangkruk dengan pemimpin di desanya atas ketidakadilan yang diberikannya. Bagaimana bisa seperti itu? Kalau tidak sudah mencapai “Wa ila robbika farghob“.

Yang bisa kita anggap “Agung” (Al-‘Adhim) dari lawang bukan karena bentuk lawangnya yang Besar (Kabir), tetapi lebih dari lawang-nya yakni keagungan isi di balik lawang. Agung tidak harus menempel pada benda yang besar, bahkan barang kecil pun bisa kita temukan nilai keagungannya, sehingga apabila…